Gunung Slamet merupakan gunung berapi tertinggi di Jawa Tengah atau tertinggi kedua di Pulau Jawa. Tinggi gunung ini mencapai 3.432 MDPL

Gunung ini memiliki beberapa kawasan hutan di lereng Gunung yang masih lebat.

Gunung Slamet masuk ke dalam perbatasan lima kabupaten yaitu, kabupaten Banyumas, Pemalang, Banjarnegara, Brebes dan Purbalingga.

Gunung Slamet juga termasuk salah satu gunung di Indonesia yang populer dijadikan sebagai tujuan ekspedisi dan pendakian.

Pendakian Gunung Slamet ini bisa dibilang cukup berbahaya dan memerlukan pengalaman tersendiri.

Medannya berat, menanjak dan berliku. Cuaca kerap berubah tak menentu secara ekstrem.

Di sepanjang jalur pendakian tidak ada air, kalaupun ada hanya terbatas.

Gunung ini sangat terkenal sebagai daerah pendakian favorit.

Dengan ketinggian 3.428 meter di atas permukaan laut dan track lumayan sulit, menjadi tantangan tersendiri bagi para pendaki.

Gunung Slamet adalah gunung berapi yang cukup aktif di pulau Jawa.

Semenjak meletus pertama kali pada tanggal 11 – 12 Agustus 1772, menurut data sejarah gunung ini sudah meletus sebanyak 42 kali.

Merupakan gunung teraktif kedua setelah gunung Merapi.

Terakhir kali gunung Slamet meletus pada 12 Maret 2014.

Namun, semua letusan tersebut termasuk dalam skala erupsi kecil yang tidak membahayakan warga kaki gunung.

Walaupun pernah ada letusan besar pada tahun 1988, tapi sampai sekarang warga di sana masih ‘slamet’ dari letusan Gunung Slamet.

Besar kemungkinan nama gunung Slamet baru disematkan pada masa Mataram Islam.

Dalam penuturan sejarahwan Belanda J Noorduyn, gunung tersebut bernama gunung Agung (bukan gunung di Bali) sebelum masa Islam. Seperti yang tertulis dalam naskah cerita Bujangga Manik yang berbahasa Sunda.

Masyarakat Islam memberikan nama Slamet, karena memang gunung api ini tidak memakan korban jiwa dalam letusannya. Belum lagi kesuburan yang diberikan pada lahan warga, jadilah gunung ini sebagai simbol keselamatan.

Bagi pengunjung atau pendaki yang ingin mencapai puncak Gunung Slamet bisa melakukan pendakian melalui Grumbul Alur Bambangan, Desa Kutabawa, Kecamatan Karangreja, Kabupaten Purbalingga.

Pengunjung bisa menggunakan kendaraan mobil ataupun motor untuk melakukan perjalanan dari Purwokerto ke arah Purbalingga dan di lanjutkan ke Bobotsari, kemudian di lanjutkan ke arah Desa Penjangan dengan menggunakan kendaraan Truk atau angkutan Desa.

Desa Penjangan merupakan desa terakhir yang hanya bisa di lalui kendaraan, di lanjutkan menuju Bambangan dengan berjalan kaki selama kurang lebih satu jam.

Sesampainya di Bambangan terdapat pos penerapan dan pondok pemuda yang berfungsi sebagai tempat berkumpul para pendaki sebelum melakukan pendakian.

Waspadalah Saat Mendaki

Gunung Slamet juga banyak memakan korban pendaki, pada tahun 2016 saja tercatat pada Kamis malam, 29 Desember 2016 lalu, tiga pendaki Gunung Slamet yang berketinggian 3.428 mdpl  ini tersambar petir saat berada di Pos 7,  ketiganya tengah beristirahat dan menanti hujan reda.

Meski mengalami luka bakar dan luka dalam, nasib mujur masih menghampiri ketiganya. Ketiga pendaki asal Tegal yang masing-masing bernama Novandio (17), Prayit (16), dan Ilham (17) berhasil diselamatkan Tim SAR.

Kemudian pada April 2016 seorang pendaki asal Jakarta juga jatuh di lereng Gunung ini.

Kejadian paling tragis tercatat pada bulan Februari tahun 2001 silam, dimana lima pendaki asal Universitas Gadjah Mada tewas di Gunung Slamet.

Maka di Gunung ini terdapat peringatan pada Gapura yang berbunyi “Anda Tidak siap Mendaki, silahkan mundur sekarang Juga!”.

Peringatan ini tentu bukan slogan peringatan kosong, karena bisa kita jumpai pula plakat berisi nama-nama korban tewas di Gunung ini.

(Liputan oleh : Muhammad Firman Faathir Gianata)

Tinggalkan Balasan