Ketika anda melihat lebih dekat perjalanan hidup anda, anda akan menyadari bahwa Tuhan selalu bersama anda, mengarahkan setiap langkah yang anda ambil. Ia mengirimkan malaikatNya untuk menjaga Anda. Anda memanggil malaikat itu Ibu.

Perempuan buruh tani di desa Ngemplak Kidul, Kelurahan Sirahan, Kecamatan Salam, Magelang, Jawa Tengah ini mempunyai impian sederhana. Ia ingin kedua anaknya bisa menempuh pendidikan seperti anak-anak lainnya. Untuk mencapai impiannya ini, Wiyati berjuang keras. Inilah cerita perjuangan ibu untuk dua anaknya yang istimewa.

Kedua putri Wiyati hanya bisa berbaring di tempat tidur. Tangan dan kaki mereka tidak bisa digerakkan. Saat duduk pun mereka harus disangga menggunakan tumpukan bantal di sekelilingnya. Segala aktivitas dilakukan di tempat tidur. Wiyati merasa sedih dengan keadaan dua buah hatinya itu. Namun ia tak pernah menyerah

“ Saya dan suami membawa mereka ke tukang urut anak dan berbagai pengobatan alternatif. Hingga akhirnya rumah kami yang berupa bilik bambu hampir roboh. Saudara lalu menyarankan uang kami digunakan untuk memperbaiki rumah dulu. Maka pengobatan kedua anak saya pun terpaksa berhenti,” kisah Wiyati.

Meski mengalami keterbatasan fisik, Wiyati menyadari bahwa kedua buah hatinya membutuhkan pendidikan untuk menunjang masa depan mereka nantinya. Keinginannya menyekolahkan anaknya itu sempat ditentang suaminya. “Buat apa sekolah?” jawab suaminya ketika ia menyampaikan niatnya. Namun Wiyati tetap pada tekadnya.

Ia lalu menghadap kepala sekolah SD Negri Sirahan 2 yang berada di kampung sebelah, 10 menit perjalanan dari rumah menggunakan sepeda onthel. “Apakah ibu sungguh-sungguh ingin menyekolahkan anak ibu?” tanya kepala sekolah. Wiyati mengangguk mantap. “ Tetapi bagaimana bila anak ibu kesulitan mengikuti pelajaran?” “Saya akan berusaha membantu anak saya semampu saya”, jawabnya tanpa ragu. Kepala sekolah terharu mendengar kebulatan tekad perempuan sederhana itu. Kepala sekolah berjanji akan membicarakan dulu hal ini dengan komite sekolah.

Air mata Wiyati menetes ketika mendengar bahwa kedua anaknya diizinkan bersekolah di sekolah umum, meski mendapat masa percobaan dahulu. Hasilnya, kedua anak Wiyati dianggap mampu untuk mengikuti pelajaran. Masalah berikutnya bagaimana membawa kedua anaknya dari rumah ke sekolah?

Untunglah, adik suaminya tergerak untuk membuatkan kursi berbahan triplek dan kayu seukuran tubuh kedua anaknya. Kursi itu bisa dilepas-pasang di boncengan sepeda. Untuk duduk di kursi itu, Wiyati mengikat tubuh anaknya dengan tali panjang. Perempuan tangguh itu tak mengeluh meski harus menempuh perjalanan pulang pergi dua kali untuk mengantarkan kedua anaknya bergantian ke sekolah. Sambil mengayuh sepeda onthelnya, Wiyati menatap ke langit biru sambil membayangkan kedua buah hatinya yang tersenyum karena bisa bersekolah seperti anak sebaya mereka.

Ketika dini hari tiba, Wiyati sudah terbangun dari lelap tidurnya. Ia bergegas menyiapkan sarapan dan memandikan kedua anaknya, supaya tidak terlambat masuk sekolah. Setelah pekerjaan mengantar selesai, ia lalu ke sawah untuk bekerja sebagai buruh tani. Ketika jam istirahat sekolah tiba, ia meminta izin kepada pemilik ladang untuk menengok anaknya di sekolah dulu.

“ Saya datang ke sekolah saat jam istirahat untuk membantu anak saya jika ingin buang air. Ketika mereka pulang bersamaan, si sulung saya boncengkan sementara anak yang kecil saya gendong di punggung saya. Semua saya lakukan agar kedua anak saya bisa menuntut ilmu sebagai “bekal” mereka kelak saat saya tidak ada,” tuturnya.

Wiyati tersenyum bangga ternyata buah hatinya itu bisa berprestasi di sekolah. Bahkan Lastri, anak keduanya bisa meraih nilai tertinggi di kelasnya untuk mata pelajaran PKN. Ia pun dengan sukarela ikut membersihkan kelas anaknya ketika anaknya mendapat giliran piket.

Melihat kesungguhan Wiyati dan semangat belajar kedua putrinya, suami Wiyati pun akhirnya mendukung perjuangan Wiyati. Suami Wiyati menjemput anaknya ketika Wiyati berhalangan. Suami Wiyati berperan sebagai pencari nafkah utama dibantu Wiyati

Namun sayangnya kedua anak Wiyati terpaksa berhenti sekolah. Si sulung terpaksa tidak melanjutkan pendidikan ke jenjang SMP karena letak SMP sangat jauh dari rumahnya. Sementara si bungsu berhenti sekolah di kelas 5 SD karena kondisi fisik Wiyati yang sedang hamil tua tidak memungkinkan mengantar jemput lagi. Sayangnya anak bungsu Wiyati meninggal dunia.

Bantuan pun datang

Suatu ketika, seorang pria datang ke rumah Wiyati. Pria itu bertanya pada Wiyati dan suaminya bagaimana cara mengurus kedua anak mereka yang menderita lumpuh kayu/ cerebral palsy. Ternyata pria itu adalah pendamping dari Kementrian Sosial yang bertugas mencari para penyandang disabilitas berat untuk didata dan diberikan bantuan.

Setiap anak mendapat bantuan uang tunai sebesar 300 ribu perbulan. Wiyati menangis terharu karena inilah pertama kalinya ia mendapat bantuan uang sebanyak itu. Uang itu digunakan untuk membuat sumur.

Kebahagiaan Wiyati kian berlaksa ketika kedua putrinya mendapat bantuan kursi roda. dari UCP Roda untuk kemanusiaan. Berkat bantuan kursi roda itu, Wiyati tak perlu menggendong lagi dua putrinya bila hendak berpergian.

Perjuangan Wiyati mulai menunjukkan hasilnya. Putri bungsunya, kini menjadi seorang penulis cerpen. Lastri memang berbakat dalam dunia tulis menulis. Karyanya sudah dibukukan di beberapa buku antologi. Sedangkan Listiyaningsih, putri sulungnya menekuni kerajinan kristik.

“Anak itu anugerah dari Tuhan. Jadi hendaknya dijaga dan dirawat dengan penuh kasih sayang termasuk mereka yang berkebutuhan khusus. Mintalah pada Tuhan kesabaran dan kemudahan untuk menjalani apa yang telah digariskanNya,” demikian pesan Wiyati. (Ivonne Suryanto)

Tinggalkan Balasan