Halo pembaca puteriputeri.com, karena kami dari puteriputeri.com sangat mendukung perkembangan ekonomi kerakyatan, dan usaha kecil–menengah yang mandiri, serta dapat menjadi inspirasi bagi masyarakat banyak untuk terjun ber wira-usaha. Maka liputan kali ini adalah liputan berbentuk wawancara antara reporter yakni : Mukti Alfiansyah, Joanov, Didan Hariyanto, dan Aditya Indra Bagus S dengan Pak De selaku pelaku UKM (Usaha Kecil – Menengah yang Mandiri) yang ada di Jakarta Timur.

Mukti : “Assalamu’alaikum boleh minta waktu sebentar Pak De…!, kalau tidak mengganggu kesibukan Pak De, kami ingin wawancara tetang bisnis Bapak.”

Pak De : “Wa’alaikumsalam, tentu saja boleh. Tentang apa ? “ jawab Pak De sambil tetap meneruskan kegiatannya menyiapkan mangkuk mie yang selesai dicuci bersih.

Mukti : “Begini Pak De, kami ingin wawancara dengan bapak terkait usaha kecil yang Pak De geluti ini, sejak kapan Pak De memulai bisnis jualan Mie Ayam ini ?“

Pakde : “Kira-kira pada awal tahun 2003,“ jawab Pak De, ramah.

Mukti : “Kenapa pak De lebih minat usaha mie ayam dari pada yang lainnya ?“

Pakde : “Karena dulnya mulai dari usaha saya berjualan nasi kucing di Jogjakarta, lalu saya ingin mencoba merantau ke Jakarta karena Jakarta adalah Ibu Kota, dan saya lebih nyaman dengan jualan Mie Ayam ini. Proses masaknya lebih mudah dan cepat. Juga kalau Mie ayam kan harus panas terus, jadi tinggal kita menyalakan kompor untuk tetap memanaskan kuahnya, kalau nasi kucing, kadang kita masak pagi, jualan hingga sore, jadi sudah tidak lagi hangat, kalau Mie Ayam, akan tetap terjaga panas suhunya, maka lebih segar dan lezat disantap kapan saja, “ papar Pak De.

Mukti : “Oh begitu… berapa kilo mie yang dihabiskan dalam sehari Pak? “

Pakde : “Kurang lebih saya bisa menghabiskan 8 kg mie, dan setiap kg berisi 16 pak mie, “ jawab Pak De yang memang mie ayamnya laris dan disukai anak muda ini.

Mukti : “Apa suka duka dalam berjualan mie ayam Pak ?“

Pakde : “Ya biasa… kalau rame kan omsetnya bertambah ! Kalo sepi ya… nasib…, tapi saya yakin kalau kuliner Mie Ayam ini adalah kuliner untuk semua kalangan, cocok untuk lidah orang Indonesia, jadi saya tak khawatir tidak laku, pasti laku !“ jawab Pak De serius.

um-mie-ayam-2
Pak De tengah memakai topi

Kami selaku anak muda yang mewawancarai pak De ini, melihat betapa sektor UKM atau usaha kecil ini memang mengharuskan pelaku usahanya tidak bergantung pada pegawai, atau bergantung usahanya pada hasil kerja orang lain.

Seperti Pak De ini, semua dikerjakannya sendiri, dengan penuh disiplin dan tanggung jawab. Mulai dari buka hingga selesai di petang hari, semua dia kerjakan sendiri.

Jadi kami pun berpikir seketka, bahwa ternyata, sikap mental yang siap menghadapi kesulitan dalam bekerja, dan pantang malas serta menyerah itulah yang penting untuk mereka para pelaku UKM seperti pak De ini.

Mukti : “Berapa rata-rata omset dalam sehari, Pak kalau boleh tahu ?“

Pakde : “Omset ya biasalah, kurang lebih Rp 300rb / hari, dan itu sudah bersih, “ ungkap Pak De.

Mukti : “Apa keinginan ke depan usaha Bapak ini ?“

Pakde : “Bisa lebih besar, meningkatkan pelayanan yang ada. Dan Insya Allah ingin menunaikan ibadah Haji ! “ ujar Pak De dengan nada mantap.

Mukti : “Ya… semoga saja terwujud ya Pak! Amin… sekian wawancara dari kami ! Maaf bila ada kesalahan kata dan mengganggu waktu Pak De,“ kamipun kemudian memesan empat porsi mie ayam Pak De ini.

Pakde : “ Terima kasih atas do’anya dan sama-sama.“

Demikianlah potret UKM dari sudut Ibu Kota Jakarta, memang terjun di bidang UKM tidaklah semudah proses melamar kerja, kemudian bekerja menjadi pegawai.

ukm-mie-ayam
Tim Liputan

Karena proses menjadi pengusaha yang paling penting adalah diawali dengan sikap mental, dan siap mental, karena ternyata jauh beda antara mental pegawai dan mental pengusaha.

Mental pegawai mungkin kebanyakan adalah : buru-buru datang pagi untuk mengejar absen agar tak dipotong gaji, berusaha tampil disiplin agar dipandang orang sebagai pegawai yang disiplin (tidak semua, namun mayoritas), dan berupaya bekerja dengan memenuhi target serta perintah atasan agar tak kehilangan karir pekerjaan (kalau ini umumnya pegawai).

Dengan irama kantor yang mungkin mayoritas monoton.

Nasib karyawan juga kadang ditentukan dari like and dislike Boss pada sang karyawan.

Namun sikap mental pengusaha, biarpun itu pengusaha UKM seperti Pak De ini adalah : dia bertanggung jawab pada diri sendiri dan berusaha menyajikan yang terbaik untuk para pelanggan dan orang-orang sebagai konsumennya. Karena pengusaha UKM seperti Pak De ini sadar bahwa yang menentukan nasibnya adalah bukan orang lain namun upaya diri sendiri.

(Liputan oleh :  Mukti Alfiansyah, Joanov, Didan Hariyanto, dan Aditya Indra Bagus S)

Video bisa dilihat di :

 

 

Baca Juga :

Bermodal Rp. 20.000,-Sukses Kembangkan Usaha Kripik Singkong Jadul

Tinggalkan Balasan