Hei para pembaca setia puteriputeri.com kembali lagi trip saya ke Jawa Tengah dan Jawa Timur, khususnya di Trowulan lets check it out 🙂

Saya dan keluarga, saat liburan lalu mudik ke Jawa Tengah (Boyolali, Solo) kerumah eyang meggunakan kendaraan pribadi.

Kami berangkat pukul 20.00 malam, tiba di Boyolali pukul 06.00 pagi, sesampai dirumah eyang kami rehat sejenak untuk mandi dan makan. Siang pun tiba kami pergi ke Umbul Tlatar, pemandian, pemancingan ini tidak jauh dari rumah eyang.

Setelah selesai dari Umbul kami lanjut ke gedung sapi “Lembu Suro” yang menjadi ikon Boyolali, hanya sekedar photo saja sih hehe.

Dari Gedung Sapi kami melanjutkan perjalanan ke Jawa Timur.

Setelah melintasi perbatasan Propinsi Jawa Tengah dan masuk Propinsi Jawa Timur, maka sekitar pukul 17.00 sore kami tiba di Jombang Jawa Timur.

Jalan-jalan dulu di Jombang dan sekitar pukul 23.30 malam, kami menginap dirumah saudara.

Pagi sampai siang kami masih rehat, menjelang sore kami berangkat menuju kompleks Trowulan sebagai situs sejarah peninggalan Kerajaan Majapahit.

Gerbang Pendopo berbentuk Candi Bentar

Pertama, kita ke Pendopo Agung Trowulan Mojokerto, pendopo ini dibangun tahun 1964-1973 oleh pihak Kodam V Brawijaya.

Bangunan ini konon katanya tempat Mahapatih Gajah Mada mengucap Sumpah Palapa.

Memasuki area Pendopo Agung terlihat sebuah pintu gerbang berbentuk Candi Bentar bergaya Jawa Kuno, bangunan Candi Bentar biasa dibuat untuk memisahkan bagian luar sebuah bangunan suci dengan bagian tengah.

Setelah melewati gerbang Candi Bentar terlihat ada cungkup kecil yang didalamnya sebuah tugu prasasti yang menyangga patung dada Maha Patih Gajah Mada yang diresmikan oleh Komando Pusat Polisi Militer tanggal 22 Juni 1986.

Di bagian depan halaman Pendopo Agung terdapat patung lagi yang menggambarkan sosok Raja Brawijaya penguasa Majapahit dalam posisi berdiri tegak dan dipayungi oleh payung kerajaan.

Struktur Pendopo Agung bergaya khas bangunan tradisional jawa, dibagian belakang Pendopo Agung terdapat pula petilasan panggung berupa bangunan joglo, dipetilasan ini banyak orang-orang yang bersemedi, yang mana petilasan ini lokasi yang dipercaya sebagai tempat Raden Wijaya semedi.

Tugu Prasasti,patung dada Mahapatih Gajahmada

 

 

Patung Raja Brawijaya

Kedua, kami melanjutkan ke Candi Tikus peninggalan purbakala yang terletak di kompleks Trowulan.

candi Tikus

Candi Tikus yang semula telah terkubur dalam tanah ditemukan kembali pada tahun 1914, ditemukannya miniatur candi di sebuah pekuburan rakyat.

Nama tikus hanya merupakan sebutan yang digunakan masyarakat setempat, konon pada saat ditemukan Candi tersebut merupakan sarang tikus.

selfie dulu di Candi Tikus 🙂

Candi ini merupakan tempat mandi para raja dan keluarganya, namun ada yang berpendaapat bahwa Candi ini merupakan tempat penyambungan dan penyaluran air untuk keperluan penduduk Trowulan pada masa itu, dan juga berfungsi sebagai tempat pemujaan dewa-dewa Hindu.

Ketiga/terakhir, kami melajutkan ke Gapura Bajang Ratu yang terletak di kompleks Trowulan juga. Bangunan ini diperirakan dibagun abad ke-14 dan merupakan salah satu gapura besar pada zaman Majapahit.

Gapura ini berfungsi sebagai pintu masuk bagi bangunan suci untuk memperingati wafatnya Raja Jayanegara, dan sampai saat ini di daerah Towulan sudah menjadi suatu kebudayaan jika melayat orang meninggal harus lewat pintu belakang.

Trowulan Candi Bajang ratu
Gapura Bajang Ratu

Selesai sedikit dari trip kompleks Trowulan saya, oia memasuki kompleks Trowulan ini hanya laporan kepada penjaga dan sumbangan seiklasnya untuk biaya sampah.

Semoga tempat peninggalan kerajaan-kerajaan di Indonesia terutama Kerajaan Majapahit ini bisa tetap terjaga banguan dan lingkungannya dengan baik. Salut dengan tempatnya, karena bersih tidak ada sampah. perjalanan saya berlanjut ke alun-alun Jombang, pesantren di daerah Jombang dan kembali ke Solo.

Sekian, terimakasih 🙂

(Liputan oleh : Ayu Listiyari)

Tinggalkan Balasan