Seni Mengelola Keuangan Keluarga 🙂

Tulisan ini hanya ingin membantu Anda sahabat semua untuk semakin bijak dalam mengelola keuangan keluarga, karena hal mengelola keuangan keluarga sebenarnya bisa dilakukan bersama dan bukan sendiri-sendiri.

Karena inti dari berumah tangga itu adalah kerja sama antara suami istri dalam mengelola keuangan keluarga. Jika masing-masing memiliki ‘anggaran hantu’ atau ‘ghost budget’ masing-masing maka akan sulit untuk memperoleh kesamaan pendapat pada akhirnya.

Tidak jarang kegagalan mengelola keuangan keluarga ini mengakibatkan berakhirnya pula rumah tangga pasangan suami istri. Ini kemungkinan terburuknya. Resiko paling ringan dari buruknya pengelolaan keuangan keluarga adalah anda akan mengalami kesulitan keuangan sebelum pendapatan rutin kembali diperoleh.

Ada beberapa tipsnya berikut ini :

1. Hidup Di Bawah penghasilan Anda

Artinya hiduplah dengan anggaran pengeluaran yang di bawah pendapatan keluarga anda, jangan besar pasak daripada tiang. Jika suami dan istri bekerja, atau hanya gaji suami saja ini tidak menjadi masalah selama pengelolaan keuangan dibicarakan bersama.

2. Jangan kebanyakan Cicilan Kredit

Kreditan atau cicilan jangan terlalu banyak membebani keuangan keluarga. Batas toleransi aneka cicilan hanya boleh maksimal 30% dari total pengeluaran. Manfaatkan menabung untuk memperoleh barang. Jangan banyak mencicil barang-barang artifisial. Kalau mencicil rumah dan mobil upayakan mencari jumlah harga yang paling rasional untuk pendapatan anda.

3. Hati-hati terhadap investasi

Sudah banyak dan sering investasi bodong, rekan puteriputeri.com namanya Ibu Diah (45) mengalami tidak kembalinya uang investasinya di sebuah lembaga keuangan. Segala sesuatu investasi yang menjanjikan bunga tinggi jauh di atas bunga deposito bank per-tahunnya, maka patut diperhitungkan masak-masak.

Jika anda teliti maka segala sesuatu investasi yang berbunga di atas bunga bank normal maka wajib berhati-hati. Ini kan sebatas saran saja, karena banyak pula rekan puteriputeri.com yang gemar spekulasi dan sedikit gambling. Sebaiknya boleh dilihat dulu berapa bunga deposit di bank anda secara resmi per-tahunnya. Maka jumlah itulah yang rasional.  Juga cek di Otoritas Jasa Keuangan, tentang nama-nama lembaga keuangan yang sedang bermasalah.

4. Buat Anggaran Pendapata dan Belanja Rutin Keluarga (APBK)

Caranya adalah membuat pembukuan sederhana, bisa melalui excelsheet di komputer Anda, atau hanya menulis semuanya di selembar kertas. Yang penting dalam APBK adalah masukkan asumsi-asumsi pendapatan dan belanja bulanan. Jika sebuah keluarga tidak memiliki APBK ini sama saja dengan Negara tidak memiliki APBN.

Banyak pula para lajang yang tidak pula memiliki APBP (Anggaran Pendapatan dan Belanja Pribadi). Artinya, memang ada orang yang semenjak single sudah malas membuat anggaran keuangan sederhana atau pembukuan sederhana dalam hidupnya. Anggarannya cuma satu, yakni angan-angan di kepala (kira-kira) dan anggaran di dalam dompet saja. Ini cukup memprihatinkan jika tidak ingin disebut mengerikan.

Agaknya sulit  mencatat bon-bon atau catatan pengeluaran kita, kalau pemasukan  orang gajian itu kan rutin, tapi kalau pengeluaran misal hari ini habis berapa ya, rasanya segan mencatat dan sering lupa iya.

Kalau sering lupa mencatat ya berarti memang tidak ada APBK, yang ada adalah perkiraan isi dompet saja, agak susah memang, butuh kedisiplinan dalam membuat asumsi, jadi paling penting buat asumsi pos-pos pengeluaran dan pos pemasukan, ini yang kaum wanita kadang kurang disiplin ya, kaum wanita juga banyak yang tak terencana pengeluaran rutinnya.

5. Bedakan antara Butuh dan Ingin

Di jaman konsumerisme seperti sekarang ini sudah tak jelas lagi batas antara butuh/need dan ingin/want. Terpaan iklan membuat kebutuhan dan keinginan berbalur menjadi satu.  Di sini lah letak keberhasilan iklan, jika sudah bisa membuat keinginan menjadi kebutuhan. Keinginan pada prinsipnya adalah sesuatu barang/jasa yang kita masih bisa hidup tanpanya. Sementara kebutuhan kita akan sulit hidup tanpa barang/jasa tersebut. Maka itu disebut seni, guna memyeimbangkan antara kebutuhan dan keinginan.

6. Mulai Menabung

Jika Anda menyimpan secara teratur dana anda, Anda akan segera menemukan bahwa uang Anda bertambah dan terus tumbuh. Sisihkan beberapa tabungan darurat yang bisa anda ambil jika Anda benar-benar membutuhkannya. Serta sisihkan minimal 10 persen dari penghasilan anda tiap bulan untuk ditabung.

Menyisihkan keuangan untuk tabungan ini ringan di teori tapi tidak ringan pada prakteknya. Bahkan banyak keluarga yang sudah bertahun-tahun namun tak memiliki tabungan. Mengapa tak memiliki tabungan ? karena pimpinan keluarga tidak tegas untuk membuat pos tabungan. Juga didorong oleh sifat boros serta konsumerisme serta menuruti keinginan panca indera kita.

Di kalangan strata ekonomi pas-pasan, tidak adanya tabungan karena memang disebabkan harga kebutuhan pokok, terutama beras sebagai makanan pokok senantiasa bergerak naik meninggalkan daya beli masyarakat pada garis kemiskinan dan di bawah garis kemiskinan.

Apa itu garis kemiskinan ?

Garis kemiskinan dipergunakan sebagai suatu batas untuk mengelompokkan penduduk menjadi miskin atau tidak miskin. Penduduk miskin adalah penduduk yang memiliki rata-rata pengeluaran per kapita per bulan di bawah garis kemiskinan.

Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat garis kemiskinan di Indonesia pada mulai periode Maret 2016 lalu ditetapkan sebesar Rp. 354.386,- per kapita per bulan.

Garis kemiskinan di perkotaan secara nasional mulai bulan Maret 2016 sebesar  Rp. 364.527,- per kapita per bulan

Kemudian, garis kemiskinan di pedesaan secara nasional mulai Bulan Maret 2016 menjadi Rp.343.646,- per kapita per bulan, mulai pada Maret 2016.

Pada Maret 2016, jumlah penduduk miskin (penduduk dengan pengeluaran per kapita per bulan di bawah Garis Kemiskinan) di Indonesia mencapai 28,01 juta orang (10,86 persen), berkurang sebesar 0,50 juta orang dibandingkan dengan kondisi September 2015 yang sebesar 28,51 juta orang (11,13 persen).

Jadi dikatakan miskin di Indonesia adalah jika per-kapita/ per-kepala/ per-penduduk  memiliki pengeluaran di bawah garis kemiskinan itu.

namun lucunya dan uniknya, ada saja pegawai berpendidikan tinggi yang setelah gajinya dipotong utang dan keperluan ini itu maka tidak ada sisanya lagi he he he 🙂  apalah ini dsiebut miskin ? Mungkin tidak, namun disebut : Tak mengelola keuangannnya setelah di atas garis kemiskinan 🙂

Memang pembaca, kemiskinan tak perlu ditakutkan, karena Tuhan Yang Maha Esa Maha pemberi rezeki, namun yang perlu dikhawatirkan adalah tidak bisa mengelola rejeki keuangan itu sendiri 🙂

(imung mung ming)

 

Tinggalkan Balasan