Puteriputeri – Jakarta, Terkait adanya issu keberatan warga Ambon terhadap pemutaran film Banda di Ambon, Film Banda Jalur Rempah berjudul “Banda the Dark Forgotten Trail” produksi Lifelike Pictures, yang disutradarai jay Subyakto yang seyogyanya ditayangkan serentak 3 Agustus 2017 di jaringan bioskop nasional, ditunda penayangannya. Tim Film “Banda the Dark Forgotten Trail” sigap menyikapi dan menanggapi keberatan pemutaran film Banda di Ambon.

“Kami dari tim film “BANDA the Dark Forgotten Trail” mengetahui dari media tentang demo yang dilakukan sekelompok orang di Ambon dan menemui DPRD untuk tidak menayangkan film BANDA. Demo tersebut yang kemudian diterima DPRD menyuarakan untuk menunda film BANDA dengan alasan film-nya melakukan kesalahan sejarah dan telah menimbulkan keresahan yang akan bisa memicu perkelahian masyarakat.

Terkait dengan hal tersebut, kami dari film BANDA menegaskan bahwa sejak awal dan disebutkan dalam narasi di film, kami “tidak pernah” memberikan pernyataan bahwa “Suku Banda asli punah dari muka bumi.

Penulis dan tim sejak awal mengetahui dan mengakui eksistensi kelompok masyarakat Banda Eli dan Elat sebagai kelompok masyarakat Banda yang berimigrasi ketika terjadi kolonialisasi di Banda baik sebelum tahun 1621 maupun sesudah tahun tersebut.

Penulis dan tim bahkan melakukan penelusuran sampai ke kampung Bandan (Jakarta Utara) dengan kesadaran masih adanya orang asli Banda serta merujuk karya tulis Timo Kaartinen “Song of Travel, Stories of Place” yang secara spesifik meneliti masyarakat Banda Eli dan Elat.

Fokus film adalah bukan mencari orang asli melainkan membicarakan apa yang tidak tersampaikan dalam sejarah mengenai kepulauan Banda sebagai salah satu pusat atau epicentrum pencarian rempah dan pala sebagai yang mula-mula endemik di sana. Sehingga fragmen sejarah 1621 yang digaris bawahi adalah bagian pembantaian massal/genosida pertama. Dalam film sendiri dijelaskan bahwa ada dua kelompok masyarakat di Banda, yakni masyarakat sebelum 1621 dan setelah 1621.

Usman Thalib sebagai sejarawan dan juga narasumber dalam film BANDA, telah menonton filmnya dan menyatakan “Setelah menonton, sebagai pakar sejarah saya harus mengatakan tidak ada kesalahan sedikitpun terkait dengan sejarah Banda sejak era sebelum kolonial sampai dengan saat ini.

“Sungguh sangat aneh, belum menonton filmnya tapi sudah menyatakan ada kesalahan sejarah. Film itu sesungguhnya media yang paling efektif bukan saja dalam rangka membangun karakter dan nasionalisme anak-anak di negeri ini, tetapi juga sarana promosi yang paling efektif dalam membangun dunia pariwisata di provinsi Maluku. Ancaman boikot terhadap film Banda the Dark Forgotten Trail sama halnya dengan ancaman terhadap pembangunan karakter dan nasionalisme anak bangsa di daerah ini. Demikian pula menjadi ancaman terhadap pembangunan kepariwisataan di Maluku.”


Klarifikasi untuk meluruskan kesalahpahaman ini juga telah kami sampaikan melalui media sosial kami, dan antara lain juga pada acara Rappler Talk 20 Juli 2017, dimana pada kesempatan yang sama tersebut kami juga bertemu dan berdiskusi dengan perwakilan saudara-saudara dari Banda yang ada di Jakarta dan permasalahan sudah dianggap selesai dan diterima dengan baik. Media Bisnis.com juga telah merevisi kesalahan kutipan yang mereka lakukan http:/bit.ly/2tQ8Evz.

Kami sangat menyayangkan bahwa hal ini semua terjadi, sementara mereka yang kontra terhadap film ini justru belum menonton filmnya. Kami mengajak semua pihak untuk berkepala dingin dan menonton filmnya dulu yang akan beredar di bioskop pada 3 Agustus 2017 ini.

(Puteriputeri – Lrd Viga 801 / Riri MU).

Tinggalkan Balasan