Teman Puteri,  inilah yang dinamakan sebuah wisata edukasi, salah satu contoh trip yang ada manfaatnya, marilah kita simak liputan dari Andika Raka  yang menyaksikan Suaka Elang Loji,.

Pembaca semua, sebenarnya kisah mengenai Burung Elang Loji adalah sebuah kisah yang cukup menyedihkan.

Elang Loji yang dilindungi Undang-undang

Karena kini semua jenis burung Elang yang merupakan Burung asli Indonesia, semuanya terancam punah, sama dengan hampir punahnya dengan Burung Cenderawasih di Papua.

Burung Elang Loji yang merupakan satwa endemik Pulau Jawa ini juga di ambang kepunahan.

Apalagi kini di tengah gencarnya perdagangan burung eksotis yang membuat banyak orang menjadikan burung-burung eksotis sama seperti perburuan hobby batu akik.

Ingat Burung eksotis bukan akik eksotis.

Semua jenis Burung Eksotis yang terdapat dalam Peraturan Pemerintah Nomor 7 tahun 1999 adalah dilindungi secara hukum.

Dalam lampiran PP No 7 Tahun 1999 tentang Jenis-jenis Tumbuhan dan Satwa yang Dilindungi, untuk kelas Aves (burung) hanya terdiri atas 93 jenis spesies burung langka. Namun bukan berarti bahwa hanya 93 spesies atau jenis burung tersebut saja yang dilindungi di Indonesia.

Dari daftar 93 burung tersebut beberapa diantaranya hanya menyebutkan nama genus bahkan famili. Dengan penambahan keterangan ‘semua jenis dari famili atau genus xxx’.

Artinya, pemerintah melindungi keseluruhan spesies burung dari genus atau bahkan famili yang disebutkan.

Jenis burung yang hanya ditulis nama genus dan familinya saja dari PP No 7 Tahun 1999, yaitu :

Semua jenis dari famili Accipitridae, Pandionidae, dan Falconidae (alap-alap dan elang)
Semua jenis dari famili Alcedinidae (burung udang / raja udang)
Semua jenis dari famili Bucerotidae (Julang, Rangkong, atau Enggang)
Semua jenis dari famili Paradiseidae (Cenderawasih)
Semua jenis dari famili Pelecanidae (Gangsa laut)
Semua jenis dari famili Pittidae (Paok)
Semua jenis dari famili Sternidae (Dara laut)
Semua jenis dari famili Megapododae (Maleo dan burung gosong)
Semua jenis dari famili Nectariniidae (burung madu)
Semua jenis dari genus Egretta (kuntul dan bangau)
Semua jenis dari genus Goura (Dara mahkota, Mabruk)
Semua jenis dari genus Numenius (burung gajahan)

Jadi semua burung di atas sudah mulai langka dan punah, karena banyak yang menyamakannya dengan hobby akik, diburu, dibawa pulang, dan kalau bosan maka burung-burung eksotis itu bisa diperjual belikan, mirip koleksi batu akik.

Ingat sekali lagi, memelihara, memilki dan memperdagangkan burung eksotis apapun jenisnya adalah melanggar  UU No. 5 Tahun 1990 Tentang Konservasi Sumber Daya Alam Hayati dan Ekosistem.

Pada dasarnya, larangan perlakuan secara tidak wajar terhadap satwa yang dilindungi terdapat dalam Pasal 21 ayat (2) UU 5/1990 yang berbunyi :

“Setiap orang dilarang untuk :
a. menangkap, melukai, membunuh, menyimpan, memiliki, memelihara, mengangkut, dan memperniagakan satwa yang dilindungi dalam keadaan hidup;
b. menyimpan, memiliki, memelihara, mengangkut, dan memperniagakan satwa yang dilindungi dalam keadaan mati;
c. mengeluarkan satwa yang dilindungi dari suatu tempat di Indonesia ke tempat lain di dalam atau di luar Indonesia;
d. memperniagakan, menyimpan atau memiliki kulit, tubuh atau bagian-bagian lain satwa yang dilindungi atau barang-barang yang dibuat dari bagian-bagian satwa tersebut atau mengeluarkannya dari suatu tempat di Indonesia ke tempat lain di dalam atau di luar Indonesia;
e. mengambil, merusak, memusnahkan, memperniagakan, menyimpan atau memiliki telur dan/atau sarang satwa yang dilindungi.”

Sanksi pidana bagi orang yang sengaja melakukan pelanggaran terhadap ketentuan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 21 ayat (2) adalah pidana penjara paling lama 5 (lima) tahun dan denda paling banyak Rp 100.000.000,00 (seratus juta rupiah) (Pasal 40 ayat [2] UU 5/1990).

Juga harap dibaca baik-baik tentang Peraturan Pemerintah  Nomor 7 tahun 1999 tentang daftar Burung yang dilindungi.

Ingat pula tidak ada orang yang kebal hukum, misal dengan memelihara satwa langka terutama burung eksotis kemudian dia tertawa terbahak-bahak mengejek lemahnya penegakkan hukum di Indonesia.

Apalagi jika orang yang punya satwa eksotis yang dilindungi UU di atas tadi adalah ternyata orang berpangkat/ oknum berpangkat, atau pejabat dan pengusaha kaya raya yang selama ini, kalangan ini terkenal tidak bisa dihukum begitu saja hanya karena memelihara hewan eksotis yang dilindungi UU.

Alasan kaum kuat ini biasanya adalah : “Ah hanya miara burung aja kok sampai dihukum ?? lha saya kan orang kuat, semua aparat pangkat bawah pasti sungkan, mau razia burung ke  rumah saya saja kan ga mungkin kan, lha pengamanan rumah saya berlapis cctv, belum lagi puluhan pengacara saya siap membela saya,” begitu mungkin pongah para orang kuat hobby burung langka ini 🙂

Pembaca, seiring menyempitnya ekosistem, juga meningkatnya perburuan akibat harga burung eksotis yang kian mahal mirip demam batu akik, maka burung-burung endemik negeri ini perlahan akan punah,

Oleh karena itu harus adanya pengembangan dan penangkaran hewan yang sudah mulai punah tersebut.

Di Cigombong, Bogor Jawa Barat ada tempat wisata alam sekaligus penangkaran Burung Elang Loji yang mulai punah yang dikenal sebagai Suaka Elang Loji.

Untuk menuju tempat tersebut kita bisa menggunakan kendaraan pribadi dan tinggal diarahkan menuju jalur alternative Bogor – Sukabumi Via Cihideung – Cijeruk.

Setelah melewati jalur yang cukup panjang dan menjelang keluar dari jalur alternative kita akan menemukan plang arahan Loji di pertigaan jalan tersebut.

Kita tinggal mengikuti jalan saja dan nanti tinggal menemukan plang yang kedua. Jarak antar plang pertama dan kedua cukup jauh karena tempat tersebut belum terlalu dikenal tetapi bisa untuk alternatif wisata alam dan edukasi.

Wisata ini mengingatkan kita jika burung eksotis bukanlah piaraan, burung-burung ini adalah potret menyedihkan, karena burung-burung ini tidak bisa lagi hidup di alam bebas. Mungkin kalau hidup di alam bebas seminggu saja, maka hari berikutnya pasti sudah ditangkap pemburu gelap, dan dalam hitungan hari sudah mapan dipiara oleh orang-orang kaya berkuasa.

Cukup sedih juga melihat nasib burung-burung eksotis endemik Nusantara, mungkin ditakdirkan untuk punah, atau berakhir di rumah para orang kaya berkuasa.

Di tempat ini, setelah sampai kita cukup membayar parkir sebesar Rp. 10.000 untuk kendaraan roda dua, serta membayar tiket masuk sebesar Rp.10.000 / orang. Setiba di parkiran kita harus berjalan menuju pintu masuk selama lebih kurang 15 menit berjalan kaki melewati jalan setapak serta sungai kecil.

Bagi pengunjung yang baru pertama kali datang tidak usah takut tersesat karena sudah ada petunjuk di setiap perpecahan jalan dan terdapat rumah warga sekitar.

Biasanya para pengunjung berfoto di jembatan gantung, disana juga terdapat curug dan camping area yang diperuntukkan bagi wisatawan yang ingin membuka tenda untuk bermalam disana.

Fasilitas lain yang disediakan di sana yaitu Musholla, toilet,dan di sewakan juga hammock untuk duduk di antara pepohonan.

Untuk menuju curug dibutuhkan waktu perjalanan kurang lebih 45 menit dari pintu masuk, batas waktu kunjungan iyalah 15.00 WIB namun apa bila cuaca buruk curuk bisa ditutup sementara.

Karena namanya juga penangkaran burung Elang maka di sini terdapat kandang Elang yang bisa dilihat oleh pengunjung, tetapi disarankan jangan terlalu dekat dan memegang kandang karena sewaktu-waktu merasa terdesak, maka  Elang liar ini bisa menyerang pengunjung

Bagi wisatawan yang ingin berkunjung disarankan untuk tidak berkunjung ke sana pada waktu musim hujan dikarenakan jalannan yang masih tanah sehingga kalau musim hujan jalanan jading becek dan licin. Oleh karena itu kalau tidak yakin sebaiknya bertanya ke penduduk sekitar 🙂

Salam Konservasi Alam Hayati Indonesia !

(Liputan oleh : Andika Raka/ Editor : Imung Mung Ming)

 

 

Tinggalkan Balasan