Sahabat puteriputeri.com dengarlah pengalaman saya, Niken seorang pembaca setia puteriputeri.com, dari Kabupaten Kulon Progo, Jogjakarta.

Jogyakarta atau Jogja, dikenal sebagai kota gudeg dan kota pelajar. Kentalnya budaya Jawa dan beragam keseniannya mampu menghiasi kota cantik nan ramah satu ini.

Ribuan pelajar dari berbagai daerah juga berbagai suku turut memenuhi kota ini. Jogja terbagi menjadi empat kabupaten dan satu kotamadya. Empat Kabupaten ini adalah Kabupaten Sleman, Bantul, Kulon Progo, dan Gunungkidul.

Aku dilahirkan disebuah Puskesmas kecil yang berada di daerah Nanggulan wilayah Kabupaten Kulon Progo.
Masa remajaku banyak aku habiskan di kota Wates Kulon Progo. Kota kecil nan cantik dengan icon Patung Nyi Ageng Serang di simpang lima daerah Karangnongko.

Tanah kelahiran, yang selalu membuatku rindu kemanapun aku pergi. Wates adalah kota kecil yang menyimpan sejuta kisah bagiku. Banyak hal yang membuatku betah berlama lama di sana.

Dari keramahan orang orangnya, beragam makanan yang murah meriah, juga sudut-sudut kota yang penuh keindahan. Jika kita bepergian ke Wates dengan menggunakan kereta, kita akan turun di stasiun Wates yang kebetulan berada tepat di sebelah selatan alun alun Wates. Di depan stasiun, setiap sore banyak dijajakan beragam makanan tenda.

Aku masih ingat, ada satu es yang enak dan segar. Penjualnya seorang kakek paruh baya. Namanya es tumarem.

Kalo dibaca sambung jadilah kata “estumarem”. Yaitu bahasa jawa yang artinya “beneran puas”. Es yang isinya air kelapa muda dengan sedikit serutan kelapa mudanya, dicampur dengan buah kweni serut, dan campuran lainnya.

Warnanya pink dengan perpaduan rasa serta aroma buah kweni dengan air kelapa menjadikan es ini unik. Di sebelahnya tenda es ini ada nenek paruh baya yang berjualan sayur krecek lengkap dengan masakan olahan ayam kampung yang bisa memanjakan lidah. Ada ayam areh, ayam goreng, ayam ungkep, dan lain lain.Selain itu masih banyak lagi makanan yang dijajakan di sepanjang jalan dekat stasiun itu.

Berjalan ke arah timur, ada lagi satu tempat makan favoritku. Bakmi jawa depan samsat Wates.

Tapi entah sekarang masih ada atau tidak. Sudah lama aku tidak mampir ke sana. Dulu buka tiap malam.

Hampir pasti selalu antri. Dekat sana ada juga bakso Malvinas. Klo anak anak sekolah biasanya sepulang sekolah sering mampir di warung bakso itu. Selain menjual bakso, tempat itu juga menjual mie ayam pangsit.

Rasanya enak dan cukup recomended. Klo dulu aku pengen makan sate, ibu sering memesankan sate ayam di tempat Bu Titik Kembang.

Tempatnya berada di sebelah timur STM Kembang Pengasih. Sate di sana enak. Lain dengan sate sate yang dijual di tempat lainnya. Pokoknya bisa dibilang mak nyuuuuss!!! Ada juga satu jajanan khas, namanya geblek dan tempe besengek. Aku biasa beli di daerah Pengasih. Rasanya gurih dan enak.

Di Kulon Progo banyak terdapat obyek wisata.


Dari wisata pantai, goa, air terjun (curug), pegunungan, waduk, bahkan wisata religi. Untuk wisata pantai, di sana terdapat banyak lokasi, diantaranya ada Pantai Congot, Glagah, Bugel, dan Trisik.

Pasir di pantai pantai ini mengandung unsur besi. Jika kita membawa maghnet, pasir pasir tersebut akan menempel dengan sangat kuat pada maghnet tersebut. Maka tak heran lokasi ini sering menjadi rebutan bagi pihak pihak tertentu untuk mengambil keuntungan dengan mencoba menambang pasir besi tersebut. Tapi usaha tersebut selalu gagal karna warga sekitar menolak alamnya diexploitasi.


Untuk goa terdapat Goa Kiskendo yang ada di perbukitan menoreh, Goa Kebon dan masih banyak lagi. Ada juga waduk Sermo di kawasan Kokap,  Kalibiru yang mempesona dan waduk mini di Girimulyo.

Saya ihat di puteriputeri.com ini ada dua buah liputan pembaca tentang Kalibiru juga ada pembaca puteriputeri.com yang mengisahkan asyiknya berfoto di ketinggian Kalibiru.

Memang kekinian, sedang trenf berselfie di ketinggian alam.

Sedangkan jika ingin berwisata religi, ada tempat namanya Gunung Lanang dan Gunung Putri di sekitar Pantai Congot.

Untuk wisata religi di perbukitan ada yang namanya Puncak Suroloyo yang sudah cukup fenomenal. Di daerah Temon Kulon Progo, terdapat Makam keluarga Pakualaman yang bernama Giri Gondo. Giri dalam bahasa Jawa artinya gunung. Gondo dalam bahasa Jawa berarti bau atau wangi.

Untuk mencapai makam, kita diharuskan menaiki anak tangga yang jika kita hitung secara bersama sama di dalam hati, hasilnya tidak akan pernah sama antara satu dengan yang lainnya.

Dari atas kita bisa melihat pemandangan hijau yang terbentang bak permadani.

Terlihat pula lautan yang menjadi batas cakrawala.

Pokoke, tenaaaang rasa hati jika sudah di sana 🙂

Semua memberikan kenyamanan yang membuat hati sulit untuk berpaling. Bak sedang berada di pangkuan ibu tercinta 🙂

(Liputan oleh : Niken)

Tinggalkan Balasan