Halo pembaca puteriputeri.com semuanya, apa kabar ? berikut ini saya kisahkan perjalanan saya (Rencha) menuju ke Puncak Gunung Rinjani, “atap” Pulau Lombok, Nusa Tenggara Barat.


Perjalanan menuju Rinjani ini sudah saya rencanakan 30 hari sebelumnya.
Maka dengan menaiki pesawat dengan sistem paket tiket promo dari Jakarta menuju Bandar Udara International Ngurah Rai, berangkatlah kami bertiga yakni Ilham, Saya (Rencha) dan Faizal.

Perjalanan hanya ditempuh dalam waktu delapan puluh menit dari Jakarta, tiba di Ngurah Rai, Bali pukul 08.00 WITA.
Dari Bandara International Ngurah Rai, kami menuju ke Terminal Ubung untuk mencari transportasi menuju Pelabuhan Padang Bai di Amlapura, Bali, guna selanjutnya menyeberang menuju menuju Pulau Lombok.

PELABUHAN PADANG BAI
Satu jam 30 menit, kemudian, kami sampai di pelabuhan Padang Bai.
Begegas turun dari angkutan sewaan L300, kami turunkan tas carrier dari dalam mobil.
Kemudian ke loket membeli karcis kapal ferry, harga Rp40.000, menuju Pelabuhan Lembar di Lombok. Perjalanan kapal ferry dari Padang Bai-Lembar ditempuh sekitar lima jam, dengan menaiki kapal Ferry, di mana saya juga bertemu rombongan pendaki lainnya yang juga ingin ke Rinjani.

PELABUHAN LEMBAR
Tak terasa lima jam kemudian, kami sampai di Pelabuhan Lembar.
Kapal ferry yang kami tumpangi perlahan-lahan merapat ke dermaga.
Kami bersiap bergegas turun dari kapal yang kami tumpangi.
Di Pelabuhan Lembar kami sempatkan untuk mencari tempat makan dan minum untuk sekedar duduk-duduk sekedar ngopi atau ngeteh, karena hari sudah mulai gelap kalau tidak salah sekitar pukul 18.00 WITA.
Beberapa calo berlalu lalang menawarkan jasa ingin mengantarkan kami ke Sembalun, tapi kami konsisten bersama rombongan menolak dengan halus.
Sayapun segera menghubungi persewaan mobil yang telah menawarkan jasa bisa mengantar dari Pelabuhan Lembar ke Sembalun, dengan terlebih dahulu singgah di kota Mataram.

MATARAM
Karena hendak transit sebentar di Mataram, sebelum ke Sembalun, maka mobil melesat sangat kencang di jalan menuju kota Mataram karena jalanan sangat lengang malam itu langit cerah, udara dari luar masuk dari kaca jendela yang belum ditutup.

SEMBALUN
Setelah naik mobil sewaan yang sama, jam di tangan menunjukan pukul 14.00 WITA, kami semua rombongan sampai pos TNGR (Taman Nasional Gunung Rinjani), tak membuang waktu kami segera mengurus perizinan, pendaftaran harga tiket Rp.5000,- per-malam, kami mengambil lima malam berarti kami harus mengerluarkan uang Rp.25.000,- untuk satu orang.
Selesai daftar, kami masuk ke mobil dan melewati jalur dari pos Sembalun kami mengambil jalur untuk turis waktunya lebih cepat dua jam.
Tiba di awal pendakian, petualangan dimulai, kami bersiap semua sebelum dimulai perjalanan ini, kami semua berdo’a menurut agama masing-masing semoga lancar tidak ada halangan apapun berangkat selamat pulang selamat, Aamiin.
Pendakian awal menuju ke Pos I, saya berjalan selangkah demi selangkah melewati perkebunan warga sekitar, terus dan terus melangkahkan kaki dengan beban tas carrier (65 liter), sepanjang perjalanan di hari pertama, kami sering bertemu dengan penduduk desa Sembalun.
Pemandangan ladang pertanian warga sekitar di kiri-kanan, sempat pula bertegur sapa dengan para pendaki lainnya yaitu para turis bule yang memang sangat mengagumi Rinjani.
Trek perjalanan awal setelah area pertanian adalah jalur yang landai dan didominasi oleh punggungan bukit dengan tumbuhan ilalang yang lebat.
Mood perjalanannya sendiri sangat bagus, semangat semua.

Pukul 17.30 WITA sampai di Pos I, tidak istirahat langsung terabas jalan yang lain sebagian di belakang, sebagian didepan.
Berjalan santai saja udaranya segar Pos I percaya nggak, ada yang jualan makanan pula 🙂

Perjalanan kami kali ini memang tidak terburu-buru. Tak berapa lama, setelah berjalan dari Pos I, sampailah kami di Pos II, bertemu dengan rombongan pendaki lain di Pos II.

Di Pos II ini kita bisa menemukan sumber air, dan kita bermalam di Pos ini, Pukul 20.00 WITA, setelah makan dan sholat yang di-jamak, saya langsung istirahat.

Pukul 05.30 WITA, terbangun karena suasana sudah berisik di luar ada yang sudah menyalakan kompor sepertinya seduh kopi, kami terpukau dengan hamparan hijaunya pemandangan di Pos II.

Pukul 08.30 WITA, kami siap membongkar tenda melanjutkan perjalanan kembali, tidak lupa sampahnya kami masukan ke trash bag.

Kami melanjutkan perjalanan menuju Pos III, langit cerah, awan putih dan biru.
Trek medan yang di lalui lumayan landai dan terjal kami berjalan setapak demi setapak selangkah demi selangkah, kiri-kanan adalah hamparan bukit kehijauan.

Sampai di sebelum Pos III, kami sempatkan minum dan berjalan kembali kaki ini melangkah menuju Pos III, tidak lama kemudian sampai di Pos III santai dulu duduk-duduk dulu
Kemudian kami lanjutkan perjalanan dari Pos III menuju ke Plawangan, di mana medannya sangat terjal dan melelahkan, kalo tidak percaya, coba saja sendiri! 🙂

Kami berjalan mulai menanjak ke atas menuju bukit, entah berapa bukit kami kehabisan bekal air di tengah perjalanan, dan tidak sungkan kami meminta kepada para porter yang lalu lalang, Alhamdulillah sempat dikasih air secukupnya.
Para bapak-bapak porter yang kami jumpai ini sedang mengantarkan para pendaki turis asing menuju Pelawangan.

Saya jadi teringat nanas dan pisang yang dibawa para porter itu bikin kami ‘mupeng’ sambil mengelap keringat yang ada di muka.

Di trek kita lalui ini perjalanan benar-benar menanjak bukit, istilahnya bener-bener di ‘php-in’ sama bukit, sumpah mengira sudah sampai puncak bukitnya,… dan ternyata masih ada bukit selanjutnya, bukit penyesalan orang-orang bilang begitu karena lelahnya.

Pas tanjakan terakhir sebelum ke Pelawangan untuk perjalanan kami sebelum tembus Pelawangan butuh tenaga ekstra, karena kemiringan bukit beberapa derajat terjal, kaki serasa engselnya kendor.

PELAWANGAN
Sampai Pelawangan sekitar pukul 18.00 WITA. Setelah melewati tanjakan tebing terakhir, rasa lelah dan letih terkikis oleh pemandangan Pelawangan.

Awan berarak berwarna pokoknya keren dengan pemandangan bukit, danau Segara Anak, Gunung Barujari, semuanya demikian indahnya.

Setelah photo-photo, kami berjalan kembali hari sudah mulai gelap headlamp, di keluarkan dari tas, udara menembus suhu minus 5 derajat celcius. Bagi para turis bule suhu minus 5 derajat, hal ini mungkin sudah biasa, namun bagi kami yang warga Jakarta, ya agak luar biasa.

Suhu seperti ini pernah saya rasakan ketika trip ke Gunung Semeru mungkin lebih dingin Semeru, saya membatin, kenangan lama tiba-tiba saja berkelebat dalam benak, dan tak terasa saya sudah di Pelawangan.
Kamipun segera mencari spot lokasi untuk mendirikan tenda.

Dengan hati-hati berjalan di antara tenda-tenda para pendaki yang sudah berdiri tegak.
Di antara tenda-tenda ini ada seorang porter lagi menggoreng tempe, saya melewatinya dan menyapanya, tanpa rasa malu saya meminta tempe tersebut yang masih hangat. Alhamdulillah dikasih sedikit, terima kasih pak porter, saya berjalan kembali melangkahkan kaki hanya bermodal headlamp, menelusuri jalan gelap di Pelawangan.

Setelah mengambil air kami lekas kembali naik keatas melangkahkan kaki berjalan sedikit gontai kembali, membawa air di tangan kanan dan kiri, setelah sampai di tempat untuk mendirikan tenda saya menunggu di sini, takut nanti di didirikan oleh orang lain, (nge-tap tempat) karena banyak pendaki yang terus mengalir naik, dan sibuk mencari tempat mendirikan tenda.

SUMMIT
Pukul 05.00 WITA. saya terbangun ingin segera summit reaching.
Pada perjalanan mendaki menuju ke puncak gunung Rinjani, langitnya cerah sekali.

Perbedaannya dengan medan di Semeru, kalau menuju Puncak Semeru setelah vegetasi tumbuhan jalan lurus terus ke atas, di Rinjani tidak seperti itu berbelok-belok dulu.

Karena rute yang panjang ini kita pun merasa kesiangan.
Perjalanan masih panjang menuju puncak Anjani, kami terus berjalan menelusuri jalan pasir dan berdebu, sesekali bisa melihat gunung Barujari dari samping kanan saya.

Sayapun berjalan terus sambil sesekali meneguk botol air yang saya bawa karena haus, tibalah perjuangan melewati krikil-krikil bebatuan kecil, dan kanan kiri jurang dengan trek pasir bebatuan ditambah debu serta angin berhembus sangat kencang.


Saya sesekali terduduk di bebatuan tersebut ketika angin kencang menghempas saya dari sisi kiri, saya langsung tengkurap di bebatuan krikil untuk melindungi diri agar tak terhempas angin yang menderu.
Harus hati-hati, jalan mulai menanjak tajam keatas, saya sempat berpapasan dengan turis-turis bule berombongan turun dengan semangat beserta para porternya.


Saya hanya melongo melihat mereka… aduh letih, mulai terasa, dengkul sudah berasa capek, pelan-belan berjalan ini tantangan terberat sepertinya, yang.

Harus saya hadapi summit oh summit… yang penting maju terus jangan menyerah, sudah berdo’a sebelum summit, sudah berusaha sekuat tenaga sudah sampai sini.

Puncak sudah terlihat merah putih berkibar tertiup angin dan saya hampir menyerah, (apa menyerah aja ya ?) saya membatin berserah diri kepada sang pencipta.

Ya Alloh berat sekali untuk menuju puncak Rinjani ini, saya sedikit pesimis.
Apapun yang terjadi setelah ini adalah kehendak-Nya, pengen menyerah tapi, berat pikulan di dalam backpack kecil, atensi-atensi selembaran kertas, pesenan teman-teman, semua yang sudah diprint, ini yang membuat saya mendadak semangat, lagi, ayo pasti bisa, mendaki Semeru saja bisa masa ini menyerah, saya membatin.

Kaki terus melangkah setapak melangkah terus maju sedikit lagi puncak, puncak dan puncak saya bersugesti terus dalam benak.

Saat kelelahan melanda, saya membayangkan dengan segenap visi, saya akan berdiri di sana iya,… disana yang ada bendera merah putih semangat.
Sugesti pada diri sendiri ini manjur melawan kelelahan mulai berkobar yang di belakang saya teriakin ayo dikit lagi puncakkk ayooo puncak…. teriak saya memberi semangat pada kawan-kawan.

Akhirnya… klimaknsya adalah saya dan rekan-rekan akhirnya berhasil mencapai puncak Rinjani.
Yah… memang bukan laksana film ‘5cm’, atau film Mendaki Rinjani (kalau ada).

Namun lebih pada kecintaan kami semua pada Tanah Air Indonesia.

Salam cinta Tanah Air, khas puteriputeri.com

(Liputan oleh : Rencha Putra)

Video karya Rencha Putra :

Mendaki Gunung Rinjani

Hai pembaca, saya Niken Rahmadianti juga ingin menceritakan pengalaman saya tentang berpetualang mendaki Gunung Rinjani yang terletak di Pulau Lombok, Nusa Tenggara Barat, Indonesia. Gunung Rinjani merupakan gunung berapi kedua tertinggi di Indonesia dengan ketinggian 3.726 m dpl serta terletak pada lintang 8º25′ LS dan 116º28′ BT.

Gunung ini merupakan bagian dari Taman Nasional Gunung Rinjani yang memiliki luas sekitar 41.330 ha dan ini akan diusulkan penambahannya sehingga menjadi 76.000 ha ke arah barat dan timur. Ada beberapa jalur pendakian yang biasa dipilih, yaitu Sembalun, Senaru, Timba Nuh, dan Torean.


Puncak Gunung Rinjani merupakan tujuan sebagian besar para petualang dan pencinta alam yang mengunjungi kawasan ini karena apabila telah berhasil mencapai puncak itu merupakan suatu kebanggaan tersendiri. Saya dan kawan kawan memilih Gunung Rinjani sebagai pendakian kali ini karna Gunung Rinjani merupakan salah gunung yang unik di Indonesia dan terdapat Danau yang sangat indah yaitu Danau Segara Anak disana.

Saya senang bisa berpetualang di Gunung Rinjani, sangat jauh perjalanan yang saya lalui dari Jakarta hingga bisa sampai di Lombok, untuk mendaki Gunung Rinjani. Saya bangga bisa mengenal keindahan alam yang ada di Indonesia. Saya mendaki keatas Puncak Gunung Rinjani dan saya melihat keindahan alam. Untuk menuju Danau Segara Anak, dapat ditempuh dari dua jalur pendakian yaitu jalur pendakian Senaru dan jalur pendakian Sembalun.

Bukan hanya keindahan saja yang saya lihat tapi mendaki Gunung Rinjani menjadi pengalaman dan kebanggaan saya tersendiri karna bisa mengenal pesona alam yang ada di Indonesia. Terbayar sudah setelah menempuh perjalanan yang cukup lelah saya bisa melihat keindahan yang ada di Gunung Rinjani.

Jika anda berkunjung ke Gunung Rinjani banyak hal yang bisa disaksikan yang begitu indah. Mulai lah dari sekarang untuk mengenal keindahan pesona Indonesia.

(Liputan Rinjani ke-2, Oleh :  Niken Rahmadianti)

Tinggalkan Balasan