Halo para pengakses puteriputeri.com, semuanya apa kabar ? Marilah simak pengalaman saya, Putri Syani, mendaki Gunung Burangrang berikut ini 🙂

Awal nya saya dan temen saya merencanakan naik Gunung di kota Bandung dan akhirnya terlaksana saat libur weekend lalu.

Saya dan teman-teman saya menuju kota Bandung dari Bekasi. Kami naik bis yang arah ke terminal Lempuyang, Bandung perjalanan dari Bekasi ke Bandung memakan waktu 2 jam untuk sampai kota Bandung.

Kami berangkat dari Bekasi jam 5 sore dan sampai terminal Lempuyang-Bandung sekitar jam 7 malam dan cuaca di kota Bandung sedang hujan.

Kami  dijemput oleh kawan-kawan dari Mapala Universitas Telkom Bandung, untuk mengadakan pendakian bersama ke Gunung Burangrang.

Keesokan harinya saya bersiap siap dengan teman saya untuk melakukan pendakian menuju puncak Gunung Burangrang pada malam hari.

Karena malam hari lebih enak untuk mendaki. Setelah persiapan perbekalan, serta perencanaan yang matang, maka kami menuju Lembang-Bandung.

Gunung Burangrang terletak di daerah Lembang Bandung.

Maka kamipun mulai menapaki perjalanan menuju pos pertama yakni pos pelatihan Kopasus di kaki  Gunung Burangrang.

Sesudah perjalanan 1 jam kami meminta ijin pada penjaga pintu masuk ke Gunung Burangrang untuk menitipkan motor kita.

Sehabis mengobrol sejenak untuk memperkenalkan diri, menyerahkan tanda identitas dan mengisi Buku Tamu serta permohonan ijin, kami langsung bersiap siap untuk jalan ke Gunung Burangrang.

Untuk masuk ke gerbang utama kita tidak di kenakan biaya tetapi bayar untuk penitipan motor saja.

Sesudah kita siap-siap kita berdoa menurut kepercayaan masing-masing sehabis berdoa kita melakukan perjalanan awal ke Puncak Gunung Burangrang

Karena pendakian malam hari, maka selama perjalanan kita menuju puncak Gunung Burangrang itu kami  semua fokus sama jalannya, apalagi kondisi malam itu gerimis, jadi kami tak sempat mendokumentasikan foto di perjalanan malam itu.

Setelah  saya bisa melewati rintangan untuk sampai ke atas puncak gunung ini, menjelang sepertiga malam kami sampai Puncak Burangrang.  Saat pagi datang, kami langsung bangun dan melihat alam di sekitar kita dan itu sungguh luar biasa.

Puncak Gunung Burangrang yang indah,  Ya Tuhan..Engkau menciptakan alam ini untuk kita hayati, dan saya bersyukur bisa sampai di puncak gunung ini dengan teman-teman saya. Kamipun lalu berfoto-foto.

Inilah puncak Gunung Burangrang yang tingginya 2050 mdpl

Tetapi tak lama kemudian datanglah kabut yang tebal dan angin cukup kencang, Matahari pun menghilang tertutup kabut.

Kami kira kita bakal hujan, sehabis foto-foto maka kamipun langsung memasak makanan  di depan tenda, dengan saling bercerita dan tawa kita menikmati makanan seadanya di atas Puncak Gunung Burangrang.

Walaupun cuma makan mie goreng, kornet dan nasi, namun  kita semua menikmatinya 🙂

Sehabis makan kita beres-beres untuk turun gunung.

Sebelum turun kita bersih-bersih di sekitar kita semua sampah, baik itu sampah kami atau bukan, semua kami kumpulkan dalam tas plastik.

Sampah-sampah dari Puncak Gunung Burangrang ini kami bawa turun. Sepanjang jalan turun juga kami sempatkan memungut sampah jika ada yang berserakan, baik itu sampah lama ataupun baru, milik pendaki lain.

Namun karena kegiatan kami bukan khusus bersih gunung, maka yang penting kami semua sempatkan membawa plastik besar untuk membersihkan Gunung Burangrang dari sampah, semampu upaya kami memungutnya dalam perjalanan turun Gununng.

Semua botol minuman, bungkus makanan dan sampah lain kami pungut.

Dan ternyata trek turun Gunung Burangrang sangatlah melelahkan dan extrim sekali .

Saya dan teman saya, terutama teman saya namanya Vera, yang hanya kami berdua cewek dalam rombongan, kami baru menyadari trek gunung ini sangat melelahkan karena batu dan tanah yang begitu licin.

Kalau untuk naik nya sih bisa merambat akar-akar pohon tetapi pas turun nya saya dan Vera meluncur begitu saja, karena kaki kita tidak kuat.

Kalau rekan-rekan anak Mapala terlihat sudah biasa naik atau turun gunung dengan trek seperti ini.

Sementara saya dan  Vera, kami cewek berdua,  sering kali turun dengan cara duduk dengan merosot dibanding jalan sambil lari atau jalan, karena jalan nya saja tidak rata, dan tanahnya merah dan licin.

Dari atas puncak sampai lah kita di Pos Tiga, karena jalan nya masih enak buat dijalani,  kita lanjut ke Pos Dua nah di Pos Dua kami sempat beristirahat karena sudah lelah, saat istirahat kami minum dan makan sesudah itu kita foto-foto dan melanjutkan perjalanan.

Sekali lagi semua sampah kami, bungkus makanan dan minuman, kami masukkan plastik dan kami bawa kembali.

Dan akhir nya kita sampai di bawah juga di pos pintu masuk ke Gunung Burangrang, semua sampah yang sempat kami kumpulkan itu kami taruh di dekat pos jaga.

Maka untuk tetap menjaga kebersihan Gunung kami musnahkan sampah itu dengan bantuan petugas pos jaga di kaki Gunung Burangrang.

Ini sebuah pengalaman untuk kita semua yang hobby naik Gunung, yakni pesan utama adalah : Bawa Pulang Kembali Sampah Kalian. Sebaiknya jangan dibakar di tengah hutan, atau dibuang sembarangan.

Satu hal penting : Bawa Pulang Kembali Sampah Kalian, dan taruh dalam pembuangan sampah yang terkelola dengan baik entah itu di wilayah tempat tinggal kalian, atau di TPS (tempat pembuangan sampah) Kota kalian.

Selesailah  perjalanan  ke Gunung Burangrang, dengan pemandangan kabut indah di atas puncak Gunung Burarang.

Pengalaman ini tidak bakal terlupakan karena ini pengalaman ini  mengesankan dan perjalanan wisata pendakian yang  luar biasa buat saya.

Salam kebersihan gunung, salam untuk puteriputeri.com.

(Liputan oleh : Putri Syani Augustina)

Tinggalkan Balasan