Hai pembaca puteriputeri.com. kalian tahu tidak mendaki sebuah Gunung ternyata merupakan hal yang sangat menyenangkan, exotic dan menantang. Awalnya saya adalah orang yang sukanya hanya jalan-jalan ke Mall, duduk-duduk manis dan berpakaian ala-ala gaun wanita yang berciri khas kan anak-mami 🙂

. Tapi begitu saya mencoba bersahabat dengan alam, wowww luar biasaa kerennn abiss men!!! Dan ini merupakan pertama kalinya saya mencoba, yang mana belum pernah terjadi sepanjang usia saya. “HIKING” kalo kata orang. Yuuu… kita simak artikel dibawah ini!!!

Gunung Semeru adalah gunung tertinggi di Pulau Jawa, dengan ketinggiannya 3.676 meter dari permukaan laut yang terletak di dua kabupaten yaitu kabupaten Malang dan kabupaten Lumajang Jawa Timur.

Saya tidak pernah membayangkan akan bisa menggapai puncak gunung Semeru yaitu Mahameru, karena sebelumnya saya bukanlah seorang pendaki.

Oleh karena ajakan teman-teman dalam mengisi liburan pada musim long weekend, sehingga saya merasa tertarik untuk bergabung dalam liburan tersebut.

semeru-12

Maka nekadlah (niat dan tekad determinasi membara!!) kami empat belas orang terdiri dari 8 laki-laki dan 6 perempuan berangkat menuju Kota Malang dari Jakarta, tepatnya dari stasiun pasar Senen Jakarta.

Tanpa hambatan dan tepat pada jam dan lokasi yang telah ditentukan di stasiun, kami saling bertemu dan segera memeriksa semua kelengkapan-kelengkapan terutama dokumen yang akan dibutuhkan nantinya.

Jam 13.00 wib kami benar-benar meninggalkan stasiun pasar Senen menuju kota Malang di Jawa Timur. Dalam kereta, kami terus bersenda gurau, tertawa, bercerita dan tak henti-hentinya membuat acara yang tidak membosankan, maklum perjalanan dari Jakarta ke Malang memakan waktu 18 jam.

Kami tiba di kota Malang keesokan harinya pukul 08.00 WIB, dan langsung mencari angkutan kota yang menuju ke sebuah daerah di Kota Malang yang bernama Tumpang.

semeru-11

Di sinilah kami kembali sejenak beristirahat, sarapan, dan menunggu kendaraan Jeep terbuka yang sudah kami pesan sebelumnya, untuk dapat membawa kami ke kaki Gunung Semeru.

Menunggu Jeep tiba, memakan waktu yang lama. Layaknya menunggu sang rembulan terbenam.

Sehingga kami terpaksa minta ijin pada pengelola warung untuk bisa mandi dan bersantai-santai sembari belanja kebutuhan untuk logistik.

Untungnya di Tumpang ramai sekali, jadi tidak terlalu jenuh untuk menunggu. Kami dapat berjalan dari ujung ke ujung menghampiri beberapa toko, tawar menawar dan sesekali mencicipi jajanan yang berjualan di sekitarnya.

Banyak juga terlihat lalu lalang para pendaki, dimana mereka semua juga menunggu kendaraan yang akan mengangkut mereka ke desa Ranu Pane, desa dibawah kaki gunung Semeru, yang merupakan pemberhentian terakhir dari kendaraan roda empat.

semeru-10

Dannnn….. yuppsssss, akhirnya setelah hampir 3 jam lebih si “Jeep Orange dengan bak terbuka” pun muncul. Wawwwww keren sekali ternyata Jeep yang kami sewa, tidak sia-sia menunggu lama.

Kami langsung mengemas semua barang kami dan siap meluncur. Dalam perjalanan menggunakan jeep yang terbuka ini, sungguh kami sangat menikmati pemandangan yang segar di sisi kanan kiri jalan yang kami lalui, aroma pedesaan yang masih murni sangat terasa, sehingga kami semua terus bergembira dan sangat menikmatinya.

Di pertengahan jalan, kami berhenti di suatu pos pemberhentian untuk bisa menikmati panorama gunung Bromo dari kejauhan, luar biasa indah sekali gunung Bromo, demikian juga dengan bukit Teletubbiesnya yang menawan.

 

semeru-9
Sudah 30 menit kami berhenti, berfoto-foto. Waktupun telah habis dan sang sopir memberi aba-aba pada kami untuk melanjutkan perjalanan. Jam 16.00 wib, tibalah kami di desa Ranupane, dan kami langsung diserbu para Porter untuk membawakan barang-barang kami. Setelah melakukan pendaftaran, dan pembelian tiket seharga Rp.20.000 /orang kami segera mengadakan doa bersama secara singkat untuk memulai perjalan yang sesungguhnya berjarak 5km menuju pos Watu Rejeng.

semeru-8

Dengan 3 orang porter yg membawakan barang-barang, kami berjalan agak ringan, kecuali teman – teman pendaki yang memang sudah terbiasa membawa beban berat yang ada dalam tas carrier mereka.

Saya sebagai pemula waktu itu berjalan dengan membawa tas carrier hanya dengan jarak beberapa meter saja sudah mengalami sakit pada pundak, berat sekali rasanya sehingga mau tidak mau tas carrier saya dibawa oleh Porter juga.

Jam 18.00WIB pun tiba. Desa Ranu Pane sudah terlihat gelap, sehingga kami bergegas menyiapkan headlamp atau senter untuk menerangi jalan menuju danau Ranu Kumbolo yang terkenal itu. Sebelum danau Ranu Kumbolo kami jumpai, kami harus melewati pos Watu Rejeng, dan terus melakukan perjalanan yang melelahkan, karena jalannya menanjak, berkelok-kelok dan banyak batu-batu besar yang harus dilompati.

Saya sempat terjatuh di sebuah lompatan kecil, karena menghindari longsoran. Alhasil, saya tidak mengalami cidera. Lain lagi dengan beberapa teman yang mengalami kram kaki , keseleo dan lecet-lecet. Sudah mulai terlihat kerikil-kerikil dalam perjalanan.

semeru-7

Selama hampir 6 jam ( seharusnya normal 4 jam ), kami tiba di danau Ranu Kumbolo kira-kira pukul 23.00 WIB.

semeru-6

Disana kami langsung mendirikan tenda sebanyak 3 tenda untuk 14 orang, Di danau inilah pertama kali saya tiba langsung mengalami kedinginan yang luar biasa, dinginnya hingga menusuk tulang-tulang saya, dan sebagai pertolongan pertama saya menghangatkan badan di tempat perapian yang ada disebelah tenda kami.

Pertolongan berikutnya adalah makan roti panas dan masuk dalam sleeping bag. Suhu pada waktu itu hingga mencapai 6 derajat celcius !! Air yang kami masak perlahan menjadi es , tenda-tenda kami dipenuhi butiran es diatasnya, daun-daun juga berlapiskan es. Tubuh ini rasanya seperti ditusuk-tusuk. Sungguh Luar biasa keadaan malam hari itu.

Tak terasa hari sudah pagi, langit tampak terang dan awan-awan bermunculan keluar. Ketika saya terbangun dan mengintip keluar tenda, suhu masih terlihat tinggi, rasanya tidak sanggup untuk melepaskan sleeping bag dan keluar dari tenda.

semeru-5

Namun beberapa teman yang kuat membangunkan kami yang masih tertidur untuk segera melihat pemandangan danau Ranu Kumbolo yang begitu indahnya, hati pun tergoda juga. Secara perlahan-lahan sambil berdoa meminta kekuatan pada Tuhan, akhirnya berhasil juga menahan rasa dingin tersebut.

Luarrrr biasaa, Danau Ranu Kumbolo bak cermin raksasa yang terhampar, kerenn, kerenn. Tak bisa diucapkan dengan kata-kata. Indah, sangat Indah…

semeru-4

Namun sayang,, banyaknya pendaki yang ada membuat suasana riuh dan kami tidak dapat berfoto dengan luwes karena terhalang oleh tenda dan banyaknya orang.

Jam 10.00WIB kami bersiap-siap meneruskan perjalanan menuju Pos Kalimati, pos yang peristirahatan yang jaraknya beberapa kilo dari puncak gunung.

Sebelum perjalanan, kami tetap melakukan doa bersama secara singkat dan mulai menanjak melalui Tanjakan Cinta.

semeru-3

Tanjakan ini sangat terkenal dikalangan pendaki, karena memiliki legenda tersendiri, yang kata anak muda sekarang “ jika naik tanjakan cinta jangan mencoba untuk menengok kebelakang, maka akan putus ditengah jalan, sebaliknya kita harus membayangkan orang yang kita sayangi sampai atas, maka kelak kita menikah dengan orang yang kita bayangi tersebut… ( hahahaha, mitos ini lucu sekali ya, dan hebat juga, karena sebagian besar orang percaya dengan mitos ini).

Memang, Jika dilihat dari jauh, tanjakan ini biasa-biasa saja, namun jika kita sudah berhadapan, betapa beratnya perjalanan kita. Saya sering berhenti di tanjakan ini karena beratnya medan yang dicapai.

Namun, dibalik keputus asaan ada harga yang harus dibayar yakni setelah melewati tanjakan ini, kita dihadapkan pada panorama yang tak kalah indahnya dengan danau Ranu kumbolo, yaitu Padang Savanna Oro-Oro Ombo. Yaitu sebuah padang rumput yang ditumbuhi lavender terbentang luas dihadapan kami.

Sayangnya, bulan Agustus bunga Lavender tidak tumbuh, sehingga kami tidak bisa menikmatinya.

semeru-2

Setelah melewati Oro-oro ombo, kami tiba di Cemoro Kandang, sebuah pos perhentian. Hanya 10 menit kami disana, dan mulai lagi meneruskan perjalanan melalui hutan yang jalannya menanjak, hampir tidak ada “bonus” (sebutan bagi pendaki / tempat datar untuk beristirahat duduk ), kami juga harus melewati pohon-pohon besar yang tumbang menghalangi jalan kami.

Di jalan dan tanjakan inilah banyak teman-teman yang mengalami kram kaki, karena perjalanan yang terus menanjak.

Setelah itu kami tiba di pos berikutnya yakni pos Jambangan. Disinilah kami bisa beristirahat agak lama sembari duduk meluruskan kaki dan mengurut sebentar kaki kami.

Karena kami terus diburu waktu, mau tak mau kami harus segera berangkat menuju pos Kalimati. Dalam perjalanan ke Kalimati inilah kami sedikit agak lega, karena jalan tidak terlalu banyak tanjakan, walau jalannya sangat panjang dan melelahkan .

Pada jam 15.00 WIB, kami tiba di Kalimati dengan perasaan gembira karena akan bisa beristirahat lumayan lama sembari menikmati puncak Mahameru dari jarak lebih dekat.

Disini juga kami banyak melakukan acara, tegur sapa terhadap teman-teman yang ada di tenda lain, berkenalan, sampai bercerita mengenai gunung yang akan kami daki pada keesokan malamnya.

Tenda-tenda kami sudah disiapkan oleh para porter, dan kami bisa menikmati menu makan malam, dan api unggun. Di kali mati kami beristirahat semalam karena keesokan paginya kami harus mengikuti upacara tujuh belas Agustus di pos tersebut dengan ratusan pendaki lainnya.

semeru-4

Dan benar juga, setelah kami bangun pagi harinya, jam 09.00WIB kami melihat bendera merah putih telah disiapkan di tengah-tengah tanah lapang yang agak datar, dengan ratusan pendaki lainnya, kami bersama-sama mengikuti upacara dengan khidmat.

Suasana saat itu sangat ramai dan menggembirakan.

Setelah selesai acara, kami gunakan kesempatan untuk berfoto-foto, jalan-jalan disekitar Kalimati dan aktivitas kecil lainnya. Sesuai rencana, saya dan team akan melakukan summit attack pada pukul 21.00 WIB sehingga kami mulai mempersiapkan segala sesuatunya dari logistic hingga peralatan lainnya. Seperti biasa, sebelum itu kami menyalakan api unggun dan doa bersama.

Tiba waktunya, puncak Gunung akan segera kami raih. Kami semua berkumpul dengan rombongan lainnya untuk melakukan pendakian. Membentuk formasi barisan, membuat kode untuk tanda berhenti sesuai dengan kelompok masing-masing dan bergegas memulai perjalanan.

Sungguh perjalanan malam kali ini cukup menguras tenaga, karena jalan gelap, banyak pohon besar tumbang, batu batu terjal yg harus dilewati, jalan yang meliuk tajam dan hutan yang lebat. Hanya beberapa kali kami berhenti, karena jika kami berhenti terlalu lama dan sering akan semakin menguras tenaga dan hawa dingin akan segera menyerang kami. Hampir dua jam kami tiba di Pos Arcopodo atau shelter terakhir.

Tak berhenti lama kami bergegas menuju “pintu gerbang” Gunung Semeru dan harus mengantri karena banyaknya pendaki yang juga melalukan summit pada malam yg sama.

Dan disinilah, saya menyempatkan melihat kebelakang, sungguh mengerikan karena dibawah saya adalah jurang. Dengan sedikit gentar, saya tetap menguatkan hati untuk terus bisa bergerak.

Perjalanan yang tak pernah terbayangkan sebelumnya. Memang sebelum saya memilih untuk naik , beberapa orang yang saya temui di Kali mati sempat bercerita bahwa tidak sebaiknya pendaki pemula naik sampai puncak, harus bertahap, dimulai dari gunung-gunung kecil terlebih dahulu.

Karena medan trekking Gunung Semeru itu sangat sulit bagi para pendaki yang sama sekali belum pernah menginjak gunung.

Hampir semua orang yang saya temui mengatakan demikian. Dengan kata lain mengantisipasi para pendaki pemula supaya tidak terjadi hal-hal yang tidak diinginkan.

Tapi tidak, pikiran saya tidak seperti mereka, saya harus bisa walaupun ini yang pertama kalinya dalam hidup saya.

Saya harus buktikan kepada mereka!!!.

Setelah 5 menit beristirahat, kami melangkah kembali, berjalan dengan penuh semangat.

Tibalah kami di “Jalan Pasir”. Dan sungguh tidak saya duga, ketika saya pijak, kaki saya merosot, satu pijakan dua perosotan demikian terjadi seterusnya.

Benar apa yang dikatakan orang-orang yang dibawah sana. Saya benar-benar mulai merasakan ada tantangan hebat yang akan segera saya hadapi.

Dan ternyata benar, saya merasakan kelelahan yang amat sangat,..belum lagi rasa kantuk yang luar biasa, namun saya harus terus berjalan, terus bergerak,.jika tidak saya akan mengalami kedinginan diatas gunung..dan bisa-bisa saya akan jatuh ke dasar jurang.

Selangkah demi selangkah, dengan tongkat kayu dan bantuan teman-teman juga, saya terus bergerak maju..

Setelah beberapa lama, saya sungguh merasakan ketidak sanggupan lagi untuk meneruskan perjalanan..rasa kantuk yang hebat dan lelah yang luar biasa tak bisa dihindarkan, persediaan air dan snack juga semakin menipis.

Beruntunglah saya segera menemukan batu besar untuk berlindung sementara, tidur dan beristirahat untuk beberapa menit.

Oleh karena berhenti itulah, saya dikagetkan oleh hawa dingin, yang kemudian memaksa saya untuk kembali bergerak, tapi masih terasa berat bagi saya. Sementara itu juga, saya melihat banyak anak-anak muda yang kembali turun kebawah, mereka tidak kuat melanjutkan pendakian, sehingga mereka menyerah, hal ini sempat membuat saya goyah.

Saya sempat membayangkan apakah para pemain film ‘5cm’ itu semuanya para bintang film ‘5cm’ yang meromantisir Semeru itu semuanya  sudah pernah mendaki hingga puncak Mahameru ?

Hahaha…ada-ada saja ya…pastinya para bintang film itu kan cuma syuting film belaka.

Nah kalau sekarang yang saya alami ini… ternyata cukup pedih juga mendaki Gunung Semeru yang bukan secara film sinematografi. Ini yang mendaki benar-benar kekuatan fisik, mental, serta tanpa make up 🙂

Serta tidak ada arahan ‘cut’, tidak ada ‘break syuting’, ini kenyataannya yang tak ada dalam film, semuanya hanya fokus terus melangkah ke atas, atau turun balik ke bawah.

Disisi lain saya mendengar ada bisikan hati saya yang tetap menguatkan saya untuk tetap maju. Maka akhirnya saya putuskan untuk tetap maju dan kembali bergerak.

Tak terasa, pagi telah tiba, waktu itu pukul 05.00 WIB, dan sinar pagi pelan-pelan menyinari kami, namun kami masih dibibir gunung, perjalanan masih jauh. Bayangkan, jika perjalanan dilakukan oleh pendaki biasa hanya memerlukan waktu 4 jam, ini kami lakukan 10 jam, maklumlah beberapa dari kami bukan pendaki dan belum pernah melakukan pendakian sama sekali.

Semakin lama pergerakan saya, semakin terlihat pemandangan dibawah gunung, jurang-jurang terlihat dengan jelas, Pos Kalimati terlihat sangat kecil sekali. Suasana semakin hening dan sepi.

Saya sempatkan untuk memotivasi pikiran-pikiran saya dengan hal-hal yang positif, bahwasanya saya akan melihat surga diatas sana, dan akan menceritakan kepada keluarga bahwa saya mampu sampai di puncak Semeru, itulah yang menjadi kekuatan saya pada saat itu.

Dan saya merasakan percuma jika harus kembali turun, saya harus terus bergerak apapun yang terjadi. Dan dengan tekad yang bulat, saya bergerak dengan sekuat tenaga, sepanjang sisa perjalanan saya melihat banyak para pendaki tertidur di bibir gunung dan dibawah batu, mereka semua kelelahan.

semeru-1

Waktu menunjukkan Jam 8 pagi, saya tidak menyangka ternyata pijakan terakhir saya sudah ada di puncak gunung MAHAMERU. Tanpa sadarkan diri saya langsung melompat dan berteriak.

Ya, MAHAMERU yang saya nantikan, akhirnya berhasil saya pijak. Dengan air mata dan penuh ucapan syukur saya ada diatas “PUNCAK MAHAMERU” atapnya pulau Jawa…

“Thnks GOD”, Ucapan yang tak henti-hentinya keluar dari mulut saya, teman yang dibawah tadi meremehkan saya dan bertemu diatas langsung memeluk tanda bangga terhadap kami yang mampu naik sampai disini.

Rasa bangga dan haru sungguh kami rasakan. Tak dapat diucapkan dengan kata-kata. Dan kini, kebanggaan itu telah menjadi milik saya, bukan untuk membanggakan diri, tapi untuk belajar lebih rendah hati dan tidak meremehkan orang-orang di sekitar, juga peduli terhadap sesama.

Mahameru inilah saya bisa merasakan semuanya. saya memandangi semua penjuru, terlihat kebesaran Tuhan melalui pemandangan dibawah dan disekitar puncak gunung. Disini kami semua sesama team berpelukan tak henti-hentinya karena bahagia sekali akan keberhasilan ini.

Kami bahagia karena bisa mengalahkan rasa takut dan kuatir selama dalam pendakian.

Walau 4 orang teman kami tidak berhasil menggapai puncak gunung Semeru ini, kami tetap memberikan dukungan semangat kepada mereka, bahwa lain waktu mereka harus bisa hingga menggapai tanah para dewa (sebutan orang Hindu untuk puncak Semeru ).

Seketika itu juga rasa lelah lenyap seperti disambar kilat dalam sekejap. Entah kenapa perasaan gembira yang dashyat itu dapat mengalahkan semuanya. LUAR BIASAA!!!!

Waktu menuntut kami untuk turun, alhasil dalam waktu 2 jam saja kami sudah bisa sampai di kemah Kalimati, padahal menaikinya sampai 10 jam.. HAHAHAH!!! Kamipun beristirahat, bertemu teman-teman, bercerita, dan kemudian langsung berkemas kembali untuk turun, karena lebih baik kami melakukan penginapan satu malam lagi di Ranu Kumbolo daripada di Kalimati yang dinginnya tak tertahankan.

Maka setelahnya, kamipun kembali ke Malang dan keesokan harinya kami meneruskan perjalanan kembali pulang ke Jakarta dengan menggunakan kereta yang sama. Dan membawa pengalaman, ilmu yang tak bisa digantikan dengan apapun juga.

Kini saya mengerti bahwa mendaki tidak hanya membutuhkan kesiapan fisik, tapi juga harus siap mental yang tangguh, pengorbanan, kasih satu sama lain, dan yang utama pikiran yang positif….dan satu hal lagi, pendakian adalah soal keselamatan bersama, dan tidak seperti dalam film-film arahan sutradara di mana ada pemain pengganti. Dimana film itu menurut skenario.

Di gunung,satu-satunya  skenario yang harus kita ingat adalah petunjuk arahan pihak berwenang yang wajib ditaati.

Juga pahamilah informasi prakiraan cuaca.

Informasi cuaca amat vital.

Rencana & Persiapan pendakian juga amat vital.

Terutama  siap dengan equipment kontijensi pertolongan pertama di lapangan (longmalap).

Tidak pernah ada pemain pengganti atau stunt man dalam kehidupan nyata, apalagi dalam pendakian, jika Anda terjatuh, maka Andalah yang jatuh, bukan stunt man.

Maka tetap jaga keselamatan Anda dan orang lain. Selalu waspada dan berhati-hati.

Selamat mendaki Semeru.

(Dalam pengalamannya Oleh : Chorry Hartini Brilliantino)

 

Tinggalkan Balasan