Salam kenal, pembaca puteriputeri.com sekalian, saya Adam Aditia ingin membagikan pengalaman berlibur ke Sawarna, Banten.

Bagi pembaca yang gemar berlibur ke pantai, mungkin destinasi yang satu ini  layak dikunjungi.
Berikut pengalaman yang dapat saya bagikan.

Perjalanan kami mulai pukul 05.00 WIB berangkat dari Matraman, Jakarta Timur. Via Jalan Raya Bogor.

Untuk menghindari kemacetan di Ciawi dan Caringin, kami memotong jalan melalui Jalur Batu Tulis > Cihideung >-Lido.

Tepat pukul 07.00 WIB kami memutuskan untuk beristirahat sejenak di Jalan Raya Sukabumi sekaligus memesan satu porsi “Bubur Ayam Cianjur” untuk sarapan.

Dengan harga yang cukup terjangkau, hanya Rp. 10.000,-/porsi. Selesai sarapan, kamipun melanjutkan perjalanan melalui jalur Cikidang.

Namun perlu diingat, walaupun jalur ini bebas macet dan kondisi aspalnya cukup baik, pengendara diharap agar tetap berhati-hati karena sepanjang jalurini terdapat banyak tanjakan, turunan, dan tikungan curam.

Penulis tidak menyarankan untuk melewati jalur ini pada malam hari untuk menghindari hal-hal yang tidak diinginkan, mengingat kurangnya penerangan jalan, dan masih dikelilingi oleh perkebunan karet.

Setelah menempuh perjalanan selama kurang lebih 8 jam… wooow delapan jam -pembaca puteriputeri.com-, sama dengan  perjalanan Jakarta- Jogja dengan naik kereta api 🙂

Namun selama 8 jam perjalanan itu tidak membosankan, dihiasi indahnya pemandangan di kota Pelabuhan Ratu, Pantai Citepus, dan Pantai Karanghawu, pukul 13.00 WIB tibalah kami di Desa Sawarna, Banten.

Hamparan pasir putih yang lembut, laut dan nyanyian debur ombak pantai selatan langsung menyambut kedatangan kami, seolah membayar lunas rasa lelah kami sepanjang perjalanan. Kami terkesima menyaksikan keindahan yang ada di hadapan kami seraya mengucap syukur atas keindahan ciptaan Sang Maha Kuasa.

Kami memutuskan untuk segera mencari penginapan untuk kami bermalam.
Beruntung kami mendapatkan sebuah kamar sederhana, yang cukup nyaman untuk kami beristirahat.

Lokasinya cukup strategis, hanya berjarak kurang lebih 20 meter dari bibir pantai.

Dan harganya pun cukup terjangkau untuk saku backpacker seperti kami, hanya Rp.100.000,-/malam dengan fasilitas kamar mandi di luar.

Keletihan setelah menempuh perjalanan sejauh +200 kilometer dari Jakarta (dengan jarak tempuh 8 jam termasuk waktu kemacetan), kami pun tidur untuk mengisi tenaga untuk menyaksikan matahari tenggelam petang nanti.

Setelah badan kembali segar, pukul 17.30 kami menuju ke pantai untuk menikmati indahnya sunset ditemani segarnya satu butir kelapa muda.

Sunset di sawarna
Sunset di sawarna

Benar saja, kami dapat menyaksikan matahari tenggelam di ufuk barat dengan sempurna.
Setelah puas menikmati sunset di pantai, kami bergegas untuk mencari santapan untuk makan malam, hidangan sea food pun menjadi pilihan kami, ditemani kelap-kelip lampu perahu nelayan, semilir hembusan angin laut dan cahaya rembulan yang mengintip di sela-sela daun kelapa.

Selesai makan malam, kami kembali ke penginapan untuk segera beristirahat.

Hari berganti.

Kami bersemangat sekali untuk segera mengeksplorasi keindahan lainnya yang sudah kami rencanakan sebelumnya.
Tujuan pertama kami hari ini adalah Pantai Tanjung Layar yang menjadi ciri khas dari desa Sawarna ini.

tanjung-layar01
Disebut Tanjung Layar karena adanya dua buah batu tebing yang menyerupai layar perahu.
Pagi hari adalah waktu yang tepat untuk berkunjung ke tempat ini, karena air laut sedang surut sehingga pengunjung dapat berjalan menuju ke batu karang yang menujulang setinggi kurang lebih 50 meter tersebut. Air laut di pantai ini pun sangat bening dan jernih.

tanjunglayar02
Membuat kami enggan beranjak.

Setelah puas berburu gambar foto di pantai Tanjung Layar, kami pun segera menuju ke Gua Lalay, salah satu obyek wisata yang wajib dikunjungi bila Anda berlibur ke Sawarna, Lalay dalam bahasa Sunda artinya adalah kelelawar, konon dahulu banyak kelelawar yang bersarang di gua ini, oleh karena itu gua ini diberi nama Gua Lalay.

?

Sama halnya seperti menuju ke TanjungLayar, untuk menuju ke Gua Lalay kami harus menggunakan kendaraan, karena lumayan jauh dari tempat kami menginap, kira-kira 2 kilometer.

Untuk masuk ke obyek wisata ini, pengunjung memerlukan cahaya lampu senter, karena cukup gelap di dalamnya, bila Anda tidak membawanya, Anda dapat menyewanya di tempat yang telah disediakan dengan harga Rp.5000,-/buah.

Gua Lalay ini terisi air sebatas lutut orang dewasa, dengan pasirputih yang cukup lembut untuk dipijak dengan kaki telanjang.

Namun pengunjung tetap harus berhati-hati agar tidak terbentur stalaktit yang menggantung di langit-langit gua. Masyarakat sekitar percaya bahwa gua ini pernah digunakan oleh pejuang kemerdekaan di wilayah Jawa Barat untuk tempat perlindungan dan persembunyian dari Kompeni Belanda, pada jaman penjajahan.

Sebagai tempat persembunyian saat gerilya, Gua ini cukup ideal, karena adanya sumber makanan protein berupa ikan di laut, dan kelelawar juga burung-burung yang bisa membuat para pejuang kita bertahan, dan terus ber-gerilya melawan imperialisme dan kolonialisme penjajah asing.

Setelah puas mengeksplor setiap jengkal keindahan Desa Sawarna, pukul 11.00 WIB kami pun segera bersiap untuk kembali ke Jakarta.

Auf Wiedersehen, Sawarna. Terimakasih untuk semua keindahan dan keramahtamahan. Kelak suatu hari kami akan kembali lagi.
(Liputan oleh : Adam Aditia)

Baca juga Liputan sawarna lainnya di :

Penuh Warna di Pantai Sawarna

1 Comment

  1. Pingback: Penuh Warna di Pantai Sawarna - puteriputeri.com

Tinggalkan Balasan