Ini adalah Foto Telapak Kaki Raksasa milik legenda Tuan Tapa di Kota Tapak Tuan, Kabupaten Aceh Selatan.

Provinsi Aceh punya cerita rakyat yaitu cerita Tuan Tapa yang meninggalkan bekas berupa sebuah tapak raksasa. Tapak tersebut disebut Tapak Tuan, konon nama tersebut merupakan asal muasal dari Ibu Kota Kabupaten Aceh Selatan yaitu Kota Tapak Tuan yang berjarak sekitar 480 Kilometer dari Ibukota Provinsi Aceh.

Dalam perjalanan menuju Tapak Tuan kita akan disungguhi oleh pemandangan alam yang sangat indah.

Kota Tapak Tuan yang terletak di Kabupaten Aceh Selatan ini mempunyai luas 92,68 kilometer persegi dan mempunyai jumlah penduduk sekitar 22,343 jiwa.

Kota Tapak Tuan, Kabupaten Aceh Selatan, mungkin belum banyak yang mengetahui daerah ini. Tapi untuk orang-orang di daerah Sumatera, mungkin tempat ini tidak begitu asing.

Sayang sekali saya tidak banyak memotret keindahan Pantai di Tapak Tuan ini.

Saat saya menuju kawasan bekas jejak kaki dari si Tuan Tapa, banyak mitos disebutkan seperti jika kesana kita tidak boleh berpasangan atau melakukan euphoria yang berlebihan karena ada beberapa kejadian banyak yang terseret arus saat berada di Bekas jekak kaki Tuan Tapa.

Karena memang yang lokasinya sangat dekat dengan pantai.

Saya sempat berpikir bukankah pasang air laut itu adalah hal yang biasa. Tapi mengapa di Daerah Tapak Tuan ini pasang surut air laut tidak dapat diprediksi bahkan sering datang di saat yang tepat pada mitos yang berkembang seperti beberapa kejadian seorang pasangan muda mudi dan seseorang yang terlalu beruphoria yang terseret air pasang.

Ada kemungkinan juga seseorang yang melakukan euphoria berlebihan dikarenakan ia terlalu senang sampai tidak memperhatikan keadaan di sekitarnya.


Bukankah itu berarti tempat wisata itu berbahaya jika pasang surut air laut datang tiba tiba, saya hanya mendengar cerita legenda itu dari beberapa penduduk setempat.

Legenda menyatakan  Tuan Tapa sendiri adalah diceritakan seseorang yang bertubuh besar, jika melihat bekas telapak kakinya saja sebesar itu.

Legenda ini membuat saya berpikir apakah ada orang zaman dulu sangat tinggi sekali, padahal fosil manusia yang banyak ditemukan di Indonesia, rata-rata tinggi manusia purba hanya sekitar 160 cm, di beberapa situs purba ada pula kerangka manusia tinggi sekitar 2 meter juga ada.

Namun kalau ‘cap’ telapak kakinya saja rentangnya sama dengan orang berbaring melintang, maka sulit sekali untuk dipercaya secara ilmiah 🙂

Konon legenda juga menyebutkan adanya makam dari sang Tuan Tapa yang panjang.

Legenda mengisahkan, jejak kaki yang membekas itu diceritakan karena sang Tuang Tapa merasa terganggu dari pertapaannya akibat keributan yang ditimbulkan oleh Naga.

Naga ini diceritakan mengasuh seorang anak perempuan yang ditemukan saat terjadi badai. Sepasang Naga itu menyanyangi putri tersebut dengan penuh kasih sayang, sampai suatu saat putri mereka jatuh cinta dengan seorang nelayan.

Putri itu pergi bersama sang nelayan tapi Sepasang naga mengira sang Putri mereka diculik sehingga mereka membuat keributan dan mengejar putri bersama Nelayan.

Sang Tuan Tapa akhirnya melihat keadaan dan mengira Naga sedang menggangu Nelayan tersebut sehingga dia menangkap sang naga jantan dan melangkah ke ujung pantai sehinggan meninggalkan bekas jejak kakinya sedangkan sang naga betina pergi begitu saja.

Hal yang menjadi pertanyaan adalah ,jejak kaki manusia biasa tidak mungkin akan bertahan lama dan menimbulkan jejak yang lama apalagi sampai bisa diairin oleh air laut.

Bahkan membentuk artistik yang indah. Dan juga Naga adalah hewan mitos, Apakah cerita tapak tuan benar atau tidak itu sampai sekarang tidak ada yang bisa menjawab dengan pastinya. Banyak misteri yang belum terungkap.

Namanya juga legenda atau hikayat.

(Liputan Oleh : Fitri Ramadani)

Tinggalkan Balasan