Puteriputeri – Jakarta, Sosok model cantik ini semakin mengembangkan sayapnya, dengan mempertajam wawasan tentang seni budaya Negara Eropa. Bukan hanya di dunia modelling saja, tetapi berbagai kegiatan dilakoninya. Selain kegiatan fashion, pemotretan, tarik suara dan menekuni bidang bisnis. Baru-baru ini Faika Putri demikan model cantik ini disapa, bahkan bergabung dengan salah satu komunitas dengan teman-temannya dari Rusia, Negara Eropa yang sarat dengan berbagai keunikan, mulai dari film, seni budaya, kultur dan karakter orang-orangnya.
 
Bahkan untuk menunjang penampilannya, Faika tak segan meluangkan waktunya menghadiri beauty class and work shop “Beauty and Brilliant” with PAC By Martha Tilaar yang diselenggarakan Hotel Millenium Jakarta, Sabtu (23/04/2016).
 
Kali ini Faika Putri tidak sengaja terlihat dalam kumpulan orang-orang Rusia yang saat itu berkumpul di salah satu café di kawasan Pondok Indah – Jakarta Selatan. Keakraban nampak jelas diantara mereka, senda gurau, dan canda lepas menunjukkan bahwa ada kedekatan tersendiri yang tidak bisa diungkapkan dengan kata-kata.
 
Ketika dikonfirmasi, saat itu, Sabtu (30/04/2016), Faika Putri mengatakan bahwa kehadirannya itu, dalam rangka menonton film Rusia yang ditayangkan oleh temannya yang warga Rusia.
 SAMSUNG CAMERA PICTURES
“Ini pertemuan antara orang-orang Rusia dengan orang Indonesia yang ingin berbagi cerita tentang negara masing-masing, baik dari sisi kultur, budaya, seni, termasuk film. Kebetulan saya mewakili Indonesia,” ucap Faika Putri 
 
“Ini perkumpulan yang ingin menyatukan visi dan misi serta wadah untuk bisa saling berbagi informasi antara kedua Negara, Indonesia dan Rusia. Saya senang dapat berbagi cerita sekaligus mengenalkan kepada teman-teman disini mengenai keunikan dan keindahan Indonesia seperti budaya, pariwisata, kuliner, dan masih banyak lagi keragaman yang membuat warga negara asing menjadi betah tinggal di Indonesia, termasuk teman-teman dari Rusia ini” tambah Faika Putri.
 
Senada dengan hal tersebut, Dmitry dan Bulet Niz, warga Rusia, selaku penyelenggara dan pengagas acara pertemuan Komunitas seniman dan seniwati Rusia – Indonesia sebagai pemerhati dan pencinta Kebudayaan Rusia membenarkan apa yang disampaikan Faika Putri, bahwa pertemuan tersebut untuk mengumpulkan orang-orang penyuka seni kebudayaan Indonesia maupun Rusia, atau yang mempunyai minat dan kesukaan yang sama terhadap kesenian dan budaya kedua Negara, Rusia dan Indonesia.
 
“Salah satunya ya pemutaran film ini, disamping juga sebagai media untuk bisa memberikan minat kepada para komunitas untuk bisa hadir di acara ini, itu sih intinya,” katanya.
 
Disinggung tentang Film Rusia yang diputar saat itu, Dmitry mengatakan bahwa dirinya maupun teman-temannya hadir di acara tersebut, bukan juri yang harus menilai film tersebut, melainkan melalui film dia berharap bisa menyatukan dan memberikan informasi tentang seni dan kebudayaan Rusia kepada teman-teman Indonesia.
 
Namun demikian, dia menceritakan sekitas tentang gambaran dan isi pesan dari film tersebut yaitu tentang kehidupan Rusia di tahun 1997, yang kala itu Pemerintahan Uni Soviet baru saja jatuh. Dalam ketidakpastian keadaan, kejatuhan, kehancuran, serta kebingungan, seiring dengan waktu seluruh warga Uni Soviet – Rusia, terus berjuang dan tidak berhenti belajar, hingga kemudian bagaimanapun keadaannya, bahwa kebenaran pada akhirnya pastilah menang, dan kota yang mengalami kesuraman masa itu, saat ini sudah berkembang pesat, menjadi kota yang maju dan modern.
 
“Tapi kebenaran itu selalu menang, itu intinya pesan dari film itu,”
 
Setelah kehancuran Uni Soviet terus belajar dari sejarah, meski keadaan kacau balau, seiring berjalannya waktu, Rusia pun kembali membaik. Karakter yang di zaman-zaman sebelumnya sebagai karakter yang tertutup, perlahan mencoba mulai mengeksplore diri dalam berbagai hal, salah satunya melalui seni dan budaya Rusia.
 
Karakter orang-orang Rusia yang dingin dan seperti acuh tidak perduli, tetapi bukan pemarah dan pendendam, kemudian mulai menunjukkan siapa jati dirinya sesungguhnya. Namun melalui film tersebut, orang Rusia ingin mengatakan dan diharapkan untuk tidak perlu takut dengan orang Rusia.
SAMSUNG CAMERA PICTURES
“Nggak ada dendam, tapi karakter orang Rusia itu, ya seperti itu. Orang Rusia tidak jahat, namun juga bukan berarti gampang. Karakter di film itu nampak jahat, tidak punya belas kasih, tetapi itu hanya kepada orang-orang yang jahat, kalau sama orang-orang yang baik, dia membantu, dan bahkan memafaatkan, semua orang dimaafkan, dan bisa baik banget. Film ini di Rusia booming banget,” papar Dmitry..
 
Film dengan durasi 2 jam ini mengambil shooting di tahun 1997 di St Pietersburgh, salah satu kota di Rusia dan sekarang sudah lebih baik. Merupakan film independent dan berdiri sendiri, karena dibuat oleh yang konsen terhadap seni dan budaya Rusia, yang juga ingin andil meng-go-public-kan Rusia ke manca Negara.
 
Film yang menggambarkan betapa suramnya di Rusia pada tahun 1997 waktu itu, menghabiskan biaya sekitar 20.000 dolar ini dibuat atas kekehendak dan keinginan sendiri sebagai wujud cinta akan seni dan budaya Rusia. Dipromosikan juga atas biaya sendiri. Semua dilakukan untuk Rusia dan warga Rusia.
 
Herry Balabaget, selaku Director, memrpoduksi film ini sebagai sebuah motivasi untuk menarik komunitas atau orang-orang yang bergabung dalam komunitas cinta Rusia (Seni Budaya Rusia).
 
“Film ini diproduksi secara perorangan, bukan oleh perusahaan atau yayasan, tapi sebuah gerakan untuk menghimpun mereka yang cinta atau senang Rusia untuk bergabung di komunitas Rusia ini,” kata Bulat Niz.
 
“Film ini tidak dibuat untuk bisnis itu sebab tidak dipromosikan banyak, namun demikian banyak orang yang menyukai dan tertarik untuk menonton film ini, meski begitu juga bukan untuk kegiatan amal,” tambah Dmitry.
 
Pemutaran film ini semata-mata karena ingin mengumpulkan orang-orang yang tertarik dengan seni dan kebudayaan Rusia.
 “Kegiatan ini, kita ngumpulin orang-orang yang punya ketertarikan kepada Negara Rusia melalui bahasa, budaya seni, adat istiadat dan kehidupan dan lain-lain tentang Rusia. Kumpulan ini sabagai wadah untuk membicarakan tentang topik yang sama yaitu Rusia,” jelas Dmitry B, yang didampingi rekannya Bulat Niz
 
Bahkan menurut Inge salah satu warga Negara Indonesia yang tergabung dalam komunitas tersebut yang juga sudah fasih berbahasa Rusia, kedepannya berharap, melalui kumpulan tersebut, akan ada kolaborasi antara dua negara yang berbeda, dalam bentuk karya seni, budaya ataupun film yang juga bermanfaat untuk kedua negara.
 
“Pertemuan ini, untuk yang pertama kali di adakan. Untuk menghibur komunitas yang hadir, kita putar sinema,” kata Inge yang berharap kedepannya akan ada Film yang dibuat tentang Kolaborasi kebudayaan kedua Negara, Rusia – Indonesia.
 
Diharapkan melalui pembuatan dan pemutaran film kolaborasi tersebut, baik orang Indonesia maupun Rusia, dapat mengerti dan mengenal kebudayaan dari masing-masing Negara.
 
“Orang Indonesia mengerti dan mengenal kebudayaan Rusia, begitu juga sebaliknya, orang Rusia bisa mengenal dan mengerti kebudayaan Indonesia, paling tidak itu,” jelas Inge.
 
Menurut Dmitry maupun Bulat Niz, sebagaimana disampaikan Inge, bahwa siapapun bisa menjadi anggota komunitas ini. Karena masing-masing Negara mempunyai budaya yang berbeda.
 SAMSUNG CAMERA PICTURES
“Melalui perkumpulan komunitas yang digagas Dmitry dan Niz ini, sesama anggota bisa saling sharing, diskusi, bertukar pikiran, saling berkomunikasi dan bertukar informasi tentang Negara masing-masing dalam banyak hal,” pungkas Inge menterjemahkan ucapan Dmitry dalam bahasa Rusia. (Puteriputeri– Lrd Viga-801/Riri).

Tinggalkan Balasan