Hai pemirsa semua saya Citra Carella, akan menceritakan tentang Misteri Gedung Tua eks Bank Bumi Daya di Old Batavia, DKI Jakarta 🙂

Pada hari sabtu tanggal 05 Maret 2017, saya berdua dengan temen saya yang bernama Amitha Apriliasyar mengunjungi Kota Tua Jakarta.

Saya tertarik untuk mengungkap misteri sebuah Gedung Tua zaman Belanda, posisi gedungnya sesudah Museum Bank Indonesia.

Dari museum Bank BI, sudah terlihat Gedung Tua yang berwarna putih kumuh dan banyak tumbuhan liar yang tumbuh di jendela-jendela gedung tersebut.

Untuk bisa masuk ke Gedung Tua ini tidak susah, hanya dengan izin dengan satpam penjaga.

Pas kami meminta izin beliau bilang, “Tapi tidak bisa lama ya Neng, karena waktu sudah sore,” ujar Bapak Satpam Tua ini berbicara lirih pada kami.

Kami berdua kemudian ditemani beliau untuk berkeliling di Gedung Tua dengan gaya arsitektur Kolonial Belanda ini.

Pada saat mengelilingi Gedung Tua ini, tidak banyak cerita yang diceritakan bapak satpam, hanya saja berdasarkan adanya plakat di sudut Gedung Tua ini, tertulis The Chartered Bank, of India, Australia and China, peletakan batu pertama 27 Februari 1921, masih jaman penjajahan Kolonial Belanda.

Plakat Prasasti Gedung yang penuh sejarah

Beliau juga bilang, “Neng, ketika  saya baru jaga malam di gedung ini, saya sering diganggui oleh penunggu gedung ini,”  ujarnya sambil menoleh ke arah dalam bangunan Tua ini.

Selain pak satpam, ada juga Bapak Tua satu lagi, berumur sekitar 65 tahun, bapak itu tinggal di teras gedung.

Kami sempat juga mewawancarai Bapak Tua itu, ternyata bapak Tua tersebut lebih lama tinggal di situ sejak Bank Bumi Daya itu masih beroperasi.

Beliau bercerita kalau sudah lewat Adzan Maghrib tidak boleh lagi kunjungan ke Gedung Tua eks BBD ini, karena pernah ada kunjungan satu kelas anak sekolah yang sedang melakukan sesi foto untuk buku tahunan.

Awalnya, Pak Tua penjaga Gedung Tua ini sudah bilang dan mengingatkan, bahwa sebelum Adzan Maghrib harus sudah selesai foto-fotonya.

Namun semua anak-anak sekolah itu melanggarnya, karena saking asyiknya berfoto-ria di Gedung Tua ini. Akhirnya ada salah seorang dari anak sekolah itu yang kesurupan.

He he he… saya geli sendiri mendengarnya, ini baru aneh sekaligus ‘trendy’, yakni berfoto Buku Tahunan di Gedung Berhantu 🙂 🙂

Dari cerita ini saya sadar kenapa Pak Satpam Tua tadi juga menyuruh untuk tidak berlama-lama mengelilingi Gedung Tua ini, karena kalau sudah masuk Maghrib, para Makhluk Halus penunggu Gedung Tua ini tidak mau diganggu kenyamanannya oleh kedatangan manusia.

Bapak penjaga itu juga sering melihat Makhluk Halus berupa anak kecil yang berlarian di lorong lantai satu, selain itu ada juga sosok perempuan berambut sebahu, yang sering menampakan wujudnya di sekitar Gedung Tua eks BBD ini.

Beliau bercerita kalau dulu pada zaman gedung BBD itu beroperasi salah satu karyawan pernah ada yang meninggal seorang perempuan yang sedang hamil.

Tidak ada yang tahu apa penyebabnya karyawan itu sampai meninggal. Tapi ini katanya loh ya, mirip-mirip hikayat urband legend deh jadinya 🙂

Ada lagi cerita dari penjual jagung malam hari yang kata Bapak Tua penjaga penjual itu dipanggil oleh seorang perempuan dari gedung itu yang memanggil Abang penjual Jagung untuk membeli jagung rebusnya.

Pas Si Abang Penjual Jagung itu kemudian berjalan ke arah dalam Gedung Tua, mau mengantarkan jagungnya, di pinggir Gedung dia  berpapasan dengan Bapak Tua penjaga, dan ditanya oleh Bapak Tua penjaga, “Mau dibawa kemana Bang, Jagungnya ?” penjual menjawab, “Oh itu Pak, tadi ada seorang perempuan pak yang memanggil saya” ujarnya lugu.

Bapak Tua itu kemudian menempelkan jari ke mulutnya dan menggelengkan kepala, memberi isyarat agar Sang Abang Penjual Jagung itu tidak melanjutkan langkahnya masuk ke arah tengah Gedung Tua ini.

Bapak Tua pun sudah menduga kalau penjual jagung itu diganggu dan diisengin oleh kejahilan penunggu gedung ini.

Pada saat sesi mewawancarai Bapak Tua itu saya sempat bertanya,“Pak, maaf, apa bapak percaya dengan adanya mahkluk halus itu ?” tanya saya penasaran.

Beliau kemudian menjawab sembari menatap saya dan tersenyum penuh arti, “Yah Neng, mau bagaimana lagi, karena saya sendiri sudah lama tinggal di sini, dan sudah sering melihat, juga mengalami kejadian–kejadian aneh tersebut.” ujarnya menatap saya serius.

Saya pun kemudian meneruskan eksplorasi saya ke semua sudut dalam Gedung Tua yang bersejarah ini, lagi pula kami berdua (saya Citra Carella dan teman saya, Amitha) perempuan, jadi menurut saya mungkin sesama ‘perempuan’ ada saling pengertian, meskipun dia ‘perempuan halus’ saya ‘kasar’ he he he 🙂

Kalau pemirsa lihat di liputan ini, sayapun sempat berfoto di tangga di dalam ruang utama Gedung Tua ini yang kata Bapak Tua ini, sering ada penampakan perempuan yang naik turun tangga.

Saya Citra Carella di dalam gedung eks Bank Budi Daya

Ehm, mengesankan juga ketika kita mengalami berada di Gedung Tua ini, saya juga dengan niat baik masuk dan berfoto di Gedung Tua ini, karena sebagai anak muda, sebaiknya kita juga menghargai sejarah Kota tempat tinggal kita.

Sisa Peradaban Kolonial Belanda

Pemirsa puteriputeri.com, gedung tiga lantai yang masih berdiri megah dan kokoh ini merupakan sebuah gedung tua di kawasan Old Batavia (Kota Tua) Jakarta Kota.

Gedung yang terletak di sudut Jalan Kalibesar Barat No 1-2 di atas areal 2.275 m2 memiliki ciri kubah seperti terlihat dalam foto.

Gedung ini dibangun pada 1920-an, saat ekonomi Hindia Belanda maju pesat terutama dari hasil ekspor berbagai komoditas pertanian seperti karet, teh, kopi, tembakau, yang laku keras di pasaran dunia.

Kalibesar Barat, yang pada awalnya merupakan permukiman Cina, digantikan dengan gedung perkantoran seperti perusahaan John Peet & Co, Maintz & Co, Chartered Bank of India, Australia, Cina dan lain-lain.

Seperti tertera dalam plakat prasasti di Gedung Kuno ini peletakan batu pertama gedung yang telah berusia tiga perempat abad ini, dilakukan pada 27 Februari 1921 oleh anak perempuan dari Manager Chartered Bank of Batavia: Juice Murray Stewart.

Kalau kita menelusuri kawasan Kalibesar, kawasan Kota Tua Batavia, kita masih menjumpai gedung-gedung tua yang dibangun saat kejayaan kota Batavia.

Gedung Chartered Bank, yang kini menjadi aset bangunan sejarah milik Bank Mandiri, pada 2 Maret 1965 setelah terjadi nasionalisasi terhadap perusahaan asing, gedung ini diambil alih oleh pemerintah RI.

Pengelolaannya setelah negara kita merdeka diserahkan pada Bank Umum Negara (BUNEG) yang kemudian menjadi Bank Bumi Daya (Desember 1968).

Gedung yang berlokasi tidak jauh dari gedung Balai Kota lama (kini Museum Sejarah DKI Jakarta), menggunakan konstruksi beton dan dinding bata.

Dari kejauhan sosok gedung dengan bentuk kubahnya yang menutupi seluruh ruang sudut depan di lantai tiga, terlihat masih sangat megah.

Ketika memasuki bagian dalam gedung Chartered Bank, yang pernah menjadi bank terkemuka di Hindia Belanda setelah De Javasche Bank, terdapat sejumlah lukisan kaca patri yang indah.

Kaca patri ini dibuat oleh J Sabel’s en Co yang pusatnya di Haarlem, Belanda. Di dalam gedung kita juga menjumpai prasasti perletakan batu pertama 27 Pebruari 1921.

Sebuah Plakat Historis yang menandakan gedung Tua ini bekas Bank Chartered di Kota Tua Batavia

Berikut foto kuno dari arsip lama yang menggambarkan suasana tahun 1940 saat Bank Tua Chartered ini masih beroperasi :

Foto tahun 1940-an di atas mengabadikan sejumlah bangunan tua di Jalan Kali Besar Barat, Jakarta Kota. Paling kiri yang ada kubahnya adalah gedung Chartered Bank India, Australia, dan China yang hingga kini masih berdiri dan menjadi angker.

Pada masa kolonial Belanda, keberadaan bangunan ini dengan bangunan lain di sepanjang Kali Besar Barat membentuk suatu lingkungan yang mengingatkan lingkungan perkotaan di Eropa masa lampau, dan memiliki daya tarik tersendiri.

Pada kurun waktu 1960-an, Chartered Bank kemudian diambil alih Pemerintah dan dijadikan sebagai Badan Usaha Negara, awalnya menjadi Bank Negara Indonesia Unit IV.

Pada masa Orde Baru, BNI Unit IV dijadikan Bank Bumi Daya.

Bila kita perhatikan seksama foto kuno di atas, di pinggir gedung tampak trem dari Pasar Ikan, Jakarta Utara, menuju Meester Cornelis (Jatinegara), sementara beberapa mobil merek Austin dengan kap yang bisa dibuka tutup tengah markir di depannya. Tak bisa dipungkiri bahwa bekas gedung Chartered Bank dengan arsitektur gaya neo klasik Eropa ini pernah menjadi salah satu arsitektur terindah di Batavia.

Sekian cerita dari saya ya para pemirsa semua, semoga bermanfaat.

Dan satu lagi, menurut pendapat saya  pribadi,sebenarnya semua tempat ada misterinya seperti mahkluk halus, akan tetapi tegantung kitanya saja menyikapi mereka, karena alam dimensi makhluk mereka Bangsa Halus dengan dimensi kita makhluk manusia sudah berbeda 🙂

Oke Pemirsa semua silahkan nikmati  liputan foto-foto saya saat di Gedung Tua eks BBD ini itu dan saya juga membuat video saat mengelilingi gedung kuno bergaya kolonial Belanda ini 🙂

Terima kasih 🙂

Lihat Video Liputan saya di :

(Liputan oleh : Citra Carella)

Tinggalkan Balasan