Perjalanan ke Bali kali ini terasa berbeda, setelah beberapa kali mengunjungi Bali untuk menikmati wisata bahari, kali ini saya suami beserta si kecil akan mengunjungi sebuah gunung yg terletak di kecamatan Kintamani Kabupaten Bangli.


Perjalanan selama 2 jam setengah dari Bandara tidak terasa melelahkan, Bali yang menawarkan sejuta pesona tidak hanya menawarkan keindahan pantai – pantainya, sepanjang perjalanan menuju Batur kami disuguhi dengan hijaunya persawahan, pura dan perkampungan – perkampungan dengan nuansa Bali yang sangat kental.

batur7

Kami mencapai daerah Kintamani sekitar jam 4 sore, hawa terasa sejuk, dan mata ini di manja dengan pemandangan gunung batur yang berdiri dengan angkuh, dikelilingi kaldera yang luas dan danau berwarna biru yang berkilauan di terpa matahari sore, danau itu pun memiliki nama yang sama dengan gunungnya yaitu Danau Batur.

Perjalanan menuju penginapan ternyata tidak mudah, hari yang mulai gelap dan jalan yang yang berkelok dan kecil membuat kami berkali kali berhenti karena berpapasan dengan truk pengangkut pasir. Akhirnya kami sampai di penginapan, sayangnya hari sudah gelap ketika kami sampai di penginapan, padahal penginapan tersebut terletak tepat di bibir danau dan saya yakin pasti menyajikan pemandangan yang indah.

Setelah makan malam dan menyewa guide untuk naik ke puncak batur keesokan paginya, kami pun beristirahat mengumpulkan tenaga untuk pendakian dan mencoba melawan dinginnya hawa malam.

batur3

Jam 4 pagi, kami sudah siap melakukan pendakian, hawa terasa dingin si Kecil yang saat itu masih berusia sekitar 1,5 tahun masih terlelap dalam tidur, setelah diselimuti jaket dan dimasukan dalam gendongan bayi yang tentunya di gendong papanya kami mulai pendakian, deg degan an sih karena ini pertama kalinya kami melakukan pendakian dan membawa si kecil, dengan harapan dia tidak terbangun sepanjang perjalanan dan medan yang kami hadapi tidak terlalu berat.

batur4_jpg

Pendakian kami lakukan secara perlahan tapi juga tidak bisa berhenti karena sekalinya berhenti si kecil terbangun dan merengek, akhirnya perlahan tapi pasti setelah 2 jam mendaki sampai lah kami ke puncak, syukurlah medan memang tidak terlalu berat dan sesampainya di puncak terbayarlah semuanya, langit masih gelap dan kami disuguhi oleh bintang yang gemerlapan, sambil menikmati kopi dan indomie yang dijual oleh seorang nenek kami pun menikmati indah matahari terbit, semburat kuning mulai muncul di ufuk timur, matahari pun muncul malu-malu menepiskan kabut putih, mengusir dinginnya hawa puncak gunung.

Diseberang sana tampak lah gunung agung berdiri dengan angkuhnya di selimuti kabut di pisahkan oleh danau batur, sungguh pemandangan yang luar biasa.

Setelah beristirahat beberapa waktu, mengenyangkan perut dan membiarkan si kecil menikmati alam sekitar, kami pun memutusakan untuk turun.

Berat rasanya meninggalkan pemandangan indah itu, tapi hawa pun sudah mulai panas dan kami pun mesih memiliki 1 agenda lagi yang harus kami lakukan hari itu, yaitu mengunjungi Terunyan. Perjalanan turun terasa lebih mudah, dan pemandangan selama menuruni gunung begitu indah, Danau Batur berkilauan di sinari matahari pagi, di seberang Danau Batur tersebut ada sebuah perkampungan yang memiliki adat istiadat yang unik, tidak seperti adat warga Bali lainnya yang memperlakukan kerabat atau jenazah dengan upacara pembakaran atau ngaben, warga desa ini meletakan mayat kerabat nya di bawah sebuah pohon. Tidak aneh kalau dari danau Batur terlihat mistis dari kejauhan.

batur5

Setelah makan siang dan beristirahat sejenak, kami pun menyewa boat untuk berkunjung ke Terunyan, membutuhkan waktu sekitar 20 menit dengan fast boat untuk mencapai pemakaman di Desa Terunyan.

batur8

Pemakaman masyarakat Terunyan ini tampak begitu unik sekaligus menyeramkan, tengkorak–tengkorak di susun secara teratur, dan tampak pula beberapa mayat yang masih baru yang dilindungi oleh bambu yang disusun berbentuk prisma.

batur6

Berdasarkan keterangan yang kami baca di tempat wisata, keberadaan pohon Taru Menyan lah yang menyebabkan mayat-mayat ini tidak berbau, Taru yang berarti pohon dan Menyan yang berarti harum.

Pohon Taru Menyan ini, hanya tumbuh di daerah ini.

Jadilah Tarumenyan yang kemudian lebih dikenal sebagai Terunyan yang diyakini sebagai asal usul nama desa tersebut.

batur8

Adat Desa Terunyan mengatur tata cara menguburkan mayat bagi warganya. Di desa ini ada tiga  ‘kuburan’ (sema) yang diperuntukan bagi tiga jenis  ‘kematian’ yang berbeda.

Sema Wayah adalah tempat yang di peruntukan apabila seseorang meninggal secara wajar, mayatnya di tutupi kain putih dan kemudian di letakan di bawah pohon Taru Menyan di Sema Wayah.

Sedangkan apabila penyebab kematian nya tidak wajar makan akan disimpan di sebuah tempat bernama Sema Bantas. Dan yang terakhir adalah Sema Muda, diperuntukan bagi mayat-mayat bayi atau warga yang sudah dewasa atau belum menikah.

Masyarat Terunyan, sudah memiliki tradisi ini secara ratusan tahun dan di lakukan secara turun termurun, harapan saya adalah semoga tradisi ini akan tetap terus bertahan.

Karena ini merupakan tradisi yang sangat unik yang tentunya memperkaya khazanah kebudayaan bangsa.

(Liputan oleh : Tanty Ayu Sumanty)

Tinggalkan Balasan