Hai para sahabat puteriputeri.com semua, terus terang aku sangat menggemari rubrik wisata serta semua rubrik di www.puteriputeri.com ini, untuk itulah kuberanikan diri untuk menorehkan seklumit pengalamanku berlibur di Hutan Mangrove Karang Song, Indramayu, Jawa Barat.

Libur weekend lalu, aku sudah berniat ingin mengujungi Hutan Mangrove Karang Song, setelah bersiap maka akupun berjalan menjinjing tas kecilku keluar dari rumah untuk menuju rumah temanku yang akan bersama-sama liburan ke Indramayu.
 Kulihat semua kawanku itu sudah kumpul. salah seorang temanku berceloteh “Wow hijau”
“Hehe iya dong, kita kan mau berlibur ke Hutan Mangrove jadi aku pakai baju hijau biar terlihat menyatu dengan alam,”. jawabku penuh semangat, maklumlah, suasana petualangan liburan memang memberikan semangat pada jiwa kita.
Jam menunjukan waktu pukul 08.00 WIB,  dan kita bersiap-siap untuk jalan ke Hutan Mangrove yang berada  di daerah Karang Song, Indramayu.
Di perjalanan kita berbincang tentang kesibukan masing-masing sembari menikmati angin pagi dan melihat sawah yang hijau.
Di tengah perjalanan kita berhenti sejenak di taman kota Indramayu, beristirahat dan memesan makanan untuk mengganjal perut di pagi ini.
Setelah selesai sarapan kita melanjutkan perjalanan menuju Karang Song, berjalan menyusuri kota Indramayu yang masih sepi.
Sampailah kita di Karang Song, hutang mangrove sudah terlihat dari jalanan.
Lalu kita mengantri untuk menaiki perahu kecil agar bisa sampai di Hutan Mangrove. Setelah lama mengantri kita mendapat giliran menaiki perahu ini menuju Hutan Mangrove.
Dari perahu sudah terlihat rimbunnya Hutan Mangrove Karang Song, kami bermain air dari perahu sebelum tiba di dermaga Hutan Mangrove.
Setelah tiba aku terkejut melihat Hutan Mangrove, hatiku berkata, “Hutan Mangrove ini sangat rimbun dan hijau, bagaimana dengan Pulau Biawak yang belum terjamah orang.
“Mungkin lain kali aku harus ke Pulau Biawak ketika hari libur tiba,” batinku.
 Aku dan teman-teman ku pun  meneruskan berjalan menuju menara dan menaiki menara itu untuk melihat dengan jelas Hutan Mangrove ini dari ketinggian.
“Wow, luar biasa”. Celetuk teman ku.
Cantik sekali Hutan Mangrove ini, kita harus bangga dan berterima kasih kepada orang-orang yang sudah menjaga dan melestarikan Hutan Mangrove ini,” ucap Soleh, seorang saudaraku.
Kami menuruni anak tangga menara ini dan berjalan di atas jembatan yang terbuat dari bambu menuju ke dalam Hutan Mangrove.
Melihat ke kanan dan ke kiri penuh dengan tumbuhan Mangrove (Bakau) yang sangat rimbun, dengan sedikit air di akar Mangrove ini. Kami terus berjalan menikmati keindahan alam ini sambil berbincang-bincang dengan teman-teman ku.
Di tengah hutan kami berhenti dan duduk di atas jembatan bambu sambil mengayun-ayunkan kaki.
“Tiga tahun lalu hutan ini sepertinya tidak ada,” ucapku.
“Kamu pernah ke tempat ini sebelumnya Dita?,” tanya Mega.
“Ya, aku pernah kesini saat masih sekolah bersama mantan kekasihku,”.
“Kamu benar Dita, dulu tanaman mangrove ini tidak sebanyak dan serimbun ini, bahkan jembatan ini merupakan jalan untuk langsung ke pantai,” timpal Tria seorang rekanku.
“Benar bukan? Pantas saja rasanya aku tidak asing dengan jembatan bambu ini,” jawabku
“Cieee kau teringat dengan mantan kekasihmu, Dita?” celetuk Bagus.
“Ahh tidak,” jawabku tersipu *move on mode on 🙂
Sinar Mentari sedari tadi mengintip perbincangan kami dari celah-celah dedauan, membuat mata kami menyipit.
“Ayoo kawan kita jalan lagi,” ucap kawanku Anjar.
Kami berjalan menyusuri hutan ini,  sampai di ujung jembatan terlihat pantai dengan anginnya yang menerbangkan jilbab ku. Kami terus berjalan menuju pantai. Aku, Tria dan Mega bermain air, sedangkan teman-teman laki-laki  asyik bermain bola di pasir dekat pantai.
Tidak terasa matahari mulai tenggelam, terlalu asik bermain di laut hingga lupa waktu.
Saatnya pulang kawan…
Kami pulang melewati Hutan Mangrove lagi, menyusuri hutan yang rimbun dengan jembatan bambunya yang berbelok-belok.
Tiba di dermaga Hutan Mangrove kami mengantri lagi, aku menoleh ke belakang, melihat kembali Hutan Mangrove dan hatiku berkata “Kau luar biasa Mangrove, tetaplah tumbuh lebat seperti ini,” batinku.
Lalu kami menaiki perahu dan pulang ke rumah masing-masing.
Itulah Karang Song, Indramayu.
(Liputan  oleh : Dita Kartika Sari)

Tinggalkan Balasan