Galeri Nasional atau yang sering disebut “Galnas” terletak di Jalan Medan MerdekaTimur, Gambir, Jakarta Pusat.

Galeri Nasional terkenal di kalangan pelajar karena selalu memamerkan karya-karya terbaik dan unik oleh para seniman Indonesia.

Padahari Jumat tangga 21 Oktober 2016 Pukul 10.00 WIB kami mengunjungi Galeri Nasional yang terdiri dari Lia, Rina, Fyrda dan Tina.

Kami tidak bosan mengunjungi “Galnas” karena tempatnya yang mudah diakses dan gratis.

Selain itu tentunya tema karya yang dipamerkan selalu berubah-ubah sehingga pengunjung tidak bosan melihat karya-karya di Galnas, tema pada saat kami mengunjungi Galeri Nasional yaitu : “Encounter Art From Different Lands”, yaitu pertemuan seni dari Negara berbeda, khususnya Asia Tenggara yang diadakan setiap 30 tahunan sekali.

Kami memulai menjelajahi Galeri Nasional dan Gedung A.

Seperti biasanya kami harus menyimpan tas di loket yang dikhususkan dan hanya dibolehkan membawa kamera untuk masuk ke ruang pameran.

Baru sebentar kami melihat-lihat lukisan dan ingin berfoto dengan lukisan yang ada, seksi keamanan datang kepada kami dan memperingatkan kami, untuk tidak mendekati karya seni lukisan yang tengah dipamerkan, padahal jarak kami dengan lukisan cukup jauh.

Jadi, benar-benar serius pengamanan terhadap karya lukis di “Galnas” ini.

Lalu kami melanjutkan melihat pameran ke setiap sudut ruangan sambil berfoto dan membuat video.

Dikarenakan dalam ruangan tempat ini kurang terang karena cahaya lampu hanya menyoroti pameran sehingga saat kami berfoto, wajah kami tidak begitu jelas dan kami menggunakan cahaya pada kamera atau blitz.

Tetapi sesaat kemudian seksi keamanan datang lagi, kepada kami  dan menegur kami agar tidak menggunakan blitz, karena dapat merusak karya.

Kami sangat menghargai sistem keamanan di “Galnas” ini, sehingga pengunjung dapat lebih mengapresiasi seni dengan penuh kehati-hatian.

Jadi pembaca juga bisa membaca pengalaman kami ini, dan bisa lebih berhati-hati dalam bersikap di “Galnas”.

Jangan memegang/menyentuh karya, atau menggunakan lampu blitz, karena bisa merusak karya.

Kalau di Gallery Luar Negeri biasanya sudah ada line tali atau pagar pembatas yang elegan antara pengunjung dan lukisan.

Bahkan gallery-gallery terkenal di Amerika sudah memberikan space luas antara dinding yang memajang lukisan, dengan kursi atau bangku tempat oran duduk memandangi lukisan yang diletakkan di tengah ruangan.

Kita sangat apresiasi terhadap manajemen “Galnas”, karena dengan begitu, “Galnas” sangat menghargai karya seni yang telah dihasilkan oleh para seniman.

Kita juga tentunya jadi lebih menghargai para seniman, karena mereka telah mencurahkan karsa dan karya mereka, sehingga bisa diapresiasi oleh para pengunjung “Galnas”.

Bisa dinikmati khalayak yang lebih luas.

Maka  hal ini kami sambut positif, bahkan bisa untuk perhatian pada para pembaca, agar kita lebih berhati-hati dan menghargai karya seni yang sedang dipamerkan dimanapun karya seni itu berada.

Karena karya seni mewakili unsur kemanusiaan yang terdalam, dan mewakili serta mencerminkan peradaban ummat manusia pada jaman karya itu diciptakan, jadi generasi mendatang dapat belajar dari karya seni generasi terdahulu.

Ada suatu ruangan di mana menurut kami itu cukup ‘menyeramkan’, jika kita memperhatikannya karya tersebut berupa video yang dipantulkan ke lantai menggunakan proyektor, dalam video tersebut seorang yang mungkin digambarkan sebagai master pengajar, tengah memberikan pelajaran kepada sekumpulan ‘mayat’ yang terbaring dan seluruh tubuhnya tertutup kain.

Bagi pemerhati seni serius, karya seni rupa ini akan sangat dalam maknanya.

Karena interpretasi seni amat dalam dan sangat intens dalam menyentuh sisi rasa manusia.

Wah hebat dan luar biasa yah ?

Jadi jika bagi mereka yang berjiwa seni tinggi, akan sangat menikmati mengunjungi ‘Galnas’ ini.

Tapi menurut kami yang agak-agak awam dan baru belajar seni,  -kami pelajar seni linguistik bahasa,  namun juga tertarik dalam seni rupa pembuatan film dan videografi-,  tempat itu agak “menyeramkan”  🙂  namun  kami tetap merekam suasana di dalam ruangan tersebut.

Dari tempat yang secara  hariah mengajak kita mengapresiasi kedalaman makna seni video tersebut, kami langsung ke ruangan lainnya untuk melihat dan berfoto dengan karya-karya lain.

Setelah dari Gedung A kami beranjak ke Gedung B yang berdekatan.

Saat kami keluar Gedung A, ternyata hujan turun dengan deras, tetapi kami tetap melanjutkan ke Gedung B.

Di Gedung B ini tempatnya menyenangkan, sehingga kami puas untuk berfoto dan membuat video.

galnas-6

Ada salah satu karya yang unik, yaitu baju yang dibuat dengan tali sehingga terlihat transparan, menurut kami itu pembuatannya sangat kreatif dari mulai ukuran besar sampai ukuran anak-anak.

galnas-5

Pengunjung pada saat itu tidak begitu ramai mungkin karena hari Jumat, ditambah lagi musim hujan yang tak menentu, tetapi menurut kami pemandangan di luar halaman juga unik.

Selesai kami melihat dan berfoto di pameran kami pun berteduh selama satu jam kami menunggu hujan reda, kami pun memutuskan untuk pulang sekitar pukul 14.00 WIB.

(Liputan Oleh  : Lia Mega PutriRachman, Rina Ananda Maharani, Siti Fyrdayny,  Agustina Rotes)

Video liputan  kami bisa dilihat di youtube:

 

Tinggalkan Balasan