Sejak kapan angklung muncul dan berkembang, menurut perkiraan, sebelum berkembangnya pengaruh Hindu di Indonesia Angklung sudah merupakan alat musik yang digemari.

Pada saat zaman Hindia Belanda Angklung pernah dilarang dimainkan. Alasan larangan itu, karena menurut pengamatan beberapa pembesar Belanda Kolonial, permainan angklung berpengaruh terhadap semangat perlawanan rakyat atas kekuasaan pemerintah jajahan dalam larangan itu dikecualikan permainan angklung anak-anak dan pengamen, mungkin karena dianggap tidak menimbulkan keresahan dan tidak membahayakan bagi ketentraman pemerintah jajahan Belanda.

Keadaan nasib angklung di Priangan yang demikian itu berlangsung hampir satu abad. Baru menjelang masa penjajahan Jepang terjadi perubahan, sebagai hasil kreativitas dan usaha tidak kenal mundur dari Daeng Soetigna, seorang Guru di Kuningan, kelahiran Garut. Pada masa gerakan kebangsaan di kalangan bangsa Indonesia makin menggelora, angklung yang sekian lamanya ikut menjadi korban penjajahan asing, mulai terjaga kembali.

Dalam benak saya mengapa Belanda begitu takut Angklung itu dapat mempengaruhi pemberontakan dan rasa semangat rakyat Indonesia ? padahal alunan dari angklung sangat merdu, apa pada saat itu Belanda percaya pada kekuatan mistis mengenai awal mula terciptanya angklung karena adanya ritus padi yaitu mitos atau upacara adat untuk menyambut padi beling atau padi yang berisi (menjelang panen) dan angklung memegang peranan penting. Suara angklung dipercaya oleh masyarakat sunda yang lebih dari masyarakatnya adalah agraris (petani) dapat memikat Dewi Sri (Nyi Sri Pohaci) yaitu dewi padi yang merupakan lambang kehidupan agar turun ke bumi dan membawa kesuburan terhadap tanaman padi para petani dan akan memberikan kebahagian serta kesejahteraan bagi umat manusia, nyatanya tidak ada yang tahu pasti.

Tapi yang pasti bahwa Belanda mengakui bahwa Angklung adalah alat musik yang unik. Buktinya banyak warga Belanda yang mempelajari mengenai Angklung walaupun tidak hanya warga Belanda saja sebenarnya. Dan yang menarik lagi walaupun Angklung berasal dari Jawa Barat tapi asal namanya bukan dari Jawa Barat melainkan Bali yaitu mitologi dari Bahasa Bali, yaitu Ang yang berarti angka (berupa not) dan klung yang berarti rusak. Jadi, jika digabungkan angklung berarti angka yang rusak. Dan saya awalnya berpikir bahwa angklung itu ada unsur dari China tetapi saya salah ternyata Angklung ada unsur dari Filiphina

 

angklung-1

Angklung ini saya dapatkan sebagai hadiah karena berhasil menjawab pertanyaan MC di Saung Mang Udjo Bandung 3 tahun yang lalu saat saya sedang kelas 2 SMA. Pada saat itu sekolah saya sedang mengadakan study tour dan saung Mang Udjo adalah tujuannya.

Sebenarnya angklung tidak asing bagi saya, karena ketika SMP saya menjadi salah satu pemain angklung di sekolah saya, hanya saja yang saya tau tentang angklung hanyalah alat music yang berasal dari jawa barat yang cara mainnya digoyangkan dan terbuat dari bambu.

Seperti yang kita ketahui bambu merupakan simbol perjuangan kemerdekaan Indonesia melawan penjajah atau bangsa lain yang ingin merebut keragaman budaya Indonesia dikenal sebagai bambu runcing.

Seiring berjalannya waktu bambu semakin populer setelah diolah oleh seniman Indonesia menjadi beberapa alat musik tradisional, antara lain: suling, calung, munsang, clempung, rengkong, dan lainnya. Awalnya saya tidak begitu tertarik mengetahui asal usul angklung dan detail bagaimana angklung itu, tapi saya tersadar setelah MC dari Saung Mang Udjo berkata “ Angklung pernah di klaim Malaysia sebagai budaya Negara mereka, tapi itu tidak sepenuhnya salah mereka karena kita yang tidak menjaga benar- benar”.

Alasan Udjo Ngalagena dan istrinya Uum Sumiati mendirikan Saung Mang Udjo, dengan maksud untuk melestarikan dan memelihara seni dan kebudayaan tradisional Sunda.

Hal yang membuat saya menarik adalah bukan karena ingin mempertahankan budaya angklung sebagai warisan budaya Indonesia karena jujur saya tidak begitu tau banyak tentang budaya Indonesia tetapi seberapa istimewa angklung sampai Malaysia menginginkan Angklung menjadi budaya mereka. Bukankah di Indonesia banyak yang terbuat dari Bambu tapi mengapa harus Angklung ?. Setelah pertunjukkan di Saung Mang Udjo selesai waktunya saya dan kelompok saya untu bertemu dengan tour guide untuk menanyakan apa saja seputar kesenian Jawa Barat.

Harus diakui walaupun banyak alat musik di Jawa Barat tetapi Angklung merupakan primadonanya. Jadi saya dan kelompok lebih menekankan pertanyaan seputar Angklung. Hal yang saya tanyakan pertama kali adalah Asal Usul Angklung itu sendiri. Untungnya teman saya masih menyimpan data mengenai angklung ini jadi saya dapat ,menjabarkannya lagi dalam tugas ini.

Menurut tour guide Saung Mang Udjo yang saya sudah lupa namanya, hampir tidak ada keterangan tertulis mengenai angklung pada masa dahulu, yang terdapat hanyalah cerita-cerita lisan, sebagaimana terdapat dalam beberapa cerita rakyat di zaman Padjajaran yang biasa dibawakan dalam bentuk pantun. Menurut cerita di sana, pada masa kebesaran Pajajaran, kerajaan di Pasundan, disamping sebagai alat musik upacara pertanian.
MELESTARIKAN ANGKLUNG

angklung-3
Sepertinya alasan Angklung begitu menarik adalah unik, yang membuat unik adalah selain dibuat dari bambu tapi cara dimainkannya dengan digoyangkan dan untuk membentuk harmoni yang indah harus dilakukan bersama. Karena memainkan hanya dengan satu angklung tidak artinya tapi memainkan beberapa angklung akan membuat harmoni yang indah, tapi daripada memainkan banyak angklung sendirian lebih seru jika bermain bersama dan setiap orang memegang satu Angklung. Hal ini juga yang mungkin membuat Belanda takut rakyat Indonesia bermain Angklung karena mereka berkumpul untuk memainkan Aggklung tapi Belanda berpikir bahwa rakyat Indonesia sedang berkumpul untuk membentuk pemberontakan.

Malaysia begitu ingin meng-klaim bahwa Angklung adalah miliknya jika dilihat dari hal hal tadi sepertinya bukan hanya Malaysia saja yang menginginkan salah satu budaya Indonesia ini tapi banyak , oleh karena itu kita wajib terus melestarikan angklung, cara melestarikan itu banyak tidak harus kita mengadakan pertunjukkan angklung seperti mengupload angklung di media social dan menjelaskan bahwa ini adalah budaya Indonesia itu saya rasa sudah cukup untuk melestarikan Agklung dan tentunya budaya budaya Indonesia yang lainnya.

Walaupun Angklung sudah ditetapkan menjadi Warisan Budaya Dunia (The Intangible Heritage) oleh UNESCO. Penetapan alat musik angklung ini menyusul Wayang, Keris, dan Batik yang telah terlebih dulu ditetapkan sebagai warisan budaya dunia dari Indonesia. Tepatnya pada tanggal 18 November 2010 di Nairobi, Kenya. Angklung ditetapkan sebagai “Representative List of the Intangible Cultural Heritage of Humanity” (Daftar Representatif Budaya Takbenda Warisan Manusia).

angklung-2

Dan pastinya alat musik angklung dipastikan menjadi salah satu dari 10 prioritas utama yang dipertimbangkan Organisasi Pendidikan, Ilmu Pengetahuan, dan Kebudayaan Perserikatan Bangsa-Bangsa (UNESCO) untuk mendapatkan pengakuan sebagai warisan budaya dunia tak benda. Namun, prioritas itu bisa berubah bila masyarakat Indonesia tidak ikut ambil bagian melestarikannya. Semoga dengan diakuinya angklung sebagai salah satu warisan budaya dunia (The Intangible Heritage) semakin menyadarkan kita semua akan kekayaan budaya Indonesia. Juga mampu menumbuhkan rasa bangga dan cinta pada budaya bangsa Indonesia terutama angklung.]

Ya yang pada awalnya saya hanya ingin tau mengapa Malaysia ingin merebut Angklung dari Indonesia, sekarang saya tidak hanya ingin melestarikan Angklung tapi semua budaya Indonesia, walaupun saya belum sepenuhnya menjalankan atau melestarikan budaya Indonesia, Saat ini saya hanya juga suka mengunjungi museum jika ada waktu luang untuk mengetahui hal hal tersembunyi yang tidak saya ketahui.

(Ulasan oleh : Fitri Ramadani)

Tinggalkan Balasan