Selain Bukit Sikunir, puteriputeri.com juga bersyukur telah menyaksikan “Golden Sunrise” di Gunung Prau, dahsyatnya keindahan….

…alam Gunung Prau, Dieng ini.

Dewasa ini kegiatan alam bebas menjadi magnet tersendiri untuk menghabiskan liburan di sela-sela penatnya kegiatan sehari-hari. Di sela-sela hiruk pikuknya ibu kota Jakarta yang siang malam tak pernah ‘tertidur’ tentu anda memerlukan suatu liburan.

Bagi Anda yang ingin menghabiskan waktu untuk berkegiatan di alam bebas anda bisa menikmati ‘Surga tersembunyi di Dataran Tinggi Dieng’di Gunung Prau.

Gunung Prau terletak di Dataran Tinggi Dieng, Kabupaten Wonosobo, Jawa Tengah. Bagi anda yang gemar mendaki gunung, tentu pernah mengetahui tentang Gunung Prau ini. Gunung yang memiliki ketinggian 2265 mdpl (meter di atas permukaan laut) ini mampu menyajikan sensasi mendaki yang berbeda karena gunung ini terletak di dataran tinggi Dieng yang ‘scenic’.

Untuk akses menuju ke Gunung Prau ini memang cukup rumit apabila ditempuh dari Jakarta.

Ada beberapa pilihan transportasi untuk menuju ke Gunung Prau :

Menggunakan Bus Umum

Bila menggunakan bis anda bisa menaiki bis Antar Kota Antar Provinsi jurusan Jakarta-Wonosobo, lalu sesampainya di Wonosobo anda dapat menaiki minibus Elf menuju kawasan Dataran Tinggi Dieng, kemudian turun di Base Camp Patak Banteng, yaitu Pos Base Camp awal untuk mendaki Gunung Prau.

Menggunakan Kereta Api

Pilihan transportasi berikutnya ialah menggunakan Kereta Api dari PT KAI, yaitu Anda berangkat dari Stasiun Senen Jakarta, kemudian turun di Stasiun Purwokerto. Sesampainya di Stasiun Purwokerto, Anda harus menaiki angkutan kota menuju Terminal Purwokerto, lalu menyambung angkutan lagi menuju Dataran Tinggi Dieng dan turun di Base Camp Patak Banteng.

Berawal dari rasa penasaran karena cerita teman maka saya berserta teman saya yang berjumlah total 11 (sebelas) orang berangkat untuk mendaki Gunung Prau,  baru-baru ini.

Kami memilih untuk menggunakan transportasi Kereta Api untuk sampai ke Stasiun Purwokerto kemudian melanjutkan angkutan umum ke Terminal Purwokerto, dan lanjut denan Mini Bus ke Base Camp Patak Banteng di kaki Gunung Prau.

Kamis-Jumat-Sabtu Trip Gunung Prau

Kami berangkat hari Kamis malam menaiki kereta malam dari Jakarta. Kami sampai di Base Camp Patak Banteng keesokan harinya hari Jumat pukul 13:00 WIB, lalu mengurus registrasi perizinan untuk dapat mendaki Gunung Prau tersebut.

Setelah melakukan berbagai persiapan awal sebelum pendakian akhirnya kami pun memulai pendakian tepat pukul 15 : 00 WIB (Jumat).

Perlu Anda ketahui, Gunung Prau ini adalah gunung yang bersahabat karena tidak perlu memakan waktu yang lama untuk mendaki sampai ke puncaknya yakni kita hanya memerlukan waktu kurang lebih 3 jam untuk sampai ke puncaknya.

Di Gunung Prau terdapat 4 pos yakni : Pos 1 bernama Sikut Dewo, kemudian Pos 2 yang hanya ditandai oleh sebuah Warung, serta Pos 3 Gatakan dan Pos 4 Camp Spot Area atau Puncak.

prau-3
Puncak Gunung Prau-Dieng

Tepat pukul 18:00 WIB kami sampai di camp spot atau puncak Gunung Prau dan langsung mendirikan tenda untuk bermalam.

Cuaca pada malam itu di Gunung Prau sangat dingin hingga mencapai 5 derajat celcius, untunglah persiapan kami dari sisi logistik dan perlengkapan cukup aman, sehingga semuanya berjalan lancar.

Setelah makan malam yang nikmat, kami pun bergegas tidur untuk melihat Sunrise atau matahari terbit besok pagi.

prau-2

Tepat pukul 05:00 WIB keesokan harinya di hari Sabtu, kami dibangunkan oleh suara hiruk pikuk para pendaki lain yang sudah terbangun untuk menunggu moment Sunrise, sama seperti kami.

prau-1
Epic Golden Sunrise Gunung Prau-Dieng

Perlahan namun pasti muncul langit jingga dari barat dan dengan diiringi mentari yang mulai menampakkan kemegahannya, sebuah garis lurus melingkar berwarna keemasan memanjakan setiap mata yang melihat pada waktu itu, sungguh lukisan indah dari Alloh Sang Maha Agung.

Puas menikmati Golden Sunrise yang sungguh epic kami langsung packing dan persiapan pulang menuju ibu kota, dengan demikian selesai sudah pengalaman kami menikmati Gunung Prau Dataran Tinggi Dieng.

(Oleh: Muhammad Renaldi/ Edo Bagasprabowo/ Nikita Leo Witri)

Tinggalkan Balasan