Hai pemirsa puteriputeri.com semua, saya Melly Denadya akan berbagi cerita liburan santai rute Purwokerto-Jogjakarta.

Penghujung libur adalah waktu sempurna untuk membuat liburan kamu jadi menjadi berarti. Bagi kamu anak muda liburan harus dimanfaatkan sebaik mungkin. Kali ini saya akan membagi pengalaman berharga bagaimana saya memanfatkan libur kuliah.

Liburan kemarin saya memutuskan untuk pergi berlibur ke Purwokerto – Jogja dengan mengandalkan transportasi darat yaitu kereta api dan disambung dengan bus.

Perjalanan saya dimulai di stasiun Senen, Jakarta dan waktu yang ditempuh Jakarta – Purwokerto sekitar sepuluh jam dengan menaiki kereta api Serayu Malam.

Seharusnya saya bisa mendapatkan tiket dengan waktu yang cukup cepat yaitu sekitar empat jam, namun saya sudah kehabisan tiket.

Bukan jadi penghalang untuk saya, perjalanan ini adalah bagian dari penghujung liburan yang harus berarti dan penuh makna.

Waktu berjalan cukup lambat dari perkiraan, tubuh saya sudah cukup letih, karena harus menunggu waktu yang masih berjalan selama empat jam dan saya mencoba membunuh waktu dengan berbicara lewat telepon bersama teman saya, ngomong–ngomong ini adalah pengalaman pertama saya berlibur sendiri tanpa teman atau keluarga.

Setelah 10 jam berlalu, tibalah saya di Stasiun Purwokerto pukul 09.00WIB, saya di jemput oleh sepupu yang siap mengantarkan saya menjelajahi kota Purwokerto.

Tiba di rumah saya istirahat sejenak. Hari pertama pukul 16.00 WIB saya berkeliling kota Purwokerto yang sangat kecil, namun bersih.

Hari kedua masih berada di Purwokerto. Hari ini saya ditemani oleh teman saya yang berkuliah di UNSOED bernama Ica (18) yang merupakan teman semasa SMA, dan masih berkomunikasi dengan baik.

Ica yang baik ini memandu saya untuk berkeliling sisi lain dari kota Purwokerto yaitu tempat wisata Batu Raden.

Cuaca di sana cukup basah, karena sedang musim hujan.

Hujan menyambut dengan baik kedatangan saya ke sana. Udara yang masih segar, sawah yang masih menghampar, langit mendung penuh tangis dan inilah suasana yang sangat saya rindukan, di Jakarta saya tidak pernah merasakannya.

Saya mencoba untuk menghirup udara di sana dengan perlahan–lahan kemudian saya hembuskan dan rasanya seperti lahir kembali, adanya halang-rintang ataupun kepenatan yang menimpa diri ini menjadi terlihat lebih mudah untuk dilewati.

Kurang lebih empat jam saya dan Ica menghabiskan waktu di Batu Raden dan saya harus kembali turun. Ica merekomendasikan untuk pergi ke taman, tibalah saya di sana dan taman di sana adalah fasilitas kota yang indah dan tempat nya cukup menenangkan.

Selama kurang lebih dua jam saya dan Ica menghabiskan waktu dengan berbincang – bincang. Saat ini waktu berjalan cepat dan saya harus kembali pulang ke rumah sepupu saya.

Hari ketiga dan saya harus pamit untuk melanjutkan perjalanan ke Jogja.

Bus adalah moda transportasi darat yang saya pakai untuk menuju Jogja, kurang lebih lima jam perjalanan. Tidak seperti saat di kereta saya berbincang bersama teman lewat telepon, tapi saat itu saya diberi kesempatan untuk berbincang–bincang bersama penumpang yang duduk disebelah saya. Percakapan yang sangat seru dan berwawasan, karena hal yang saya bicarakan mengenai bisnis.

Hal ini adalah perjalanan yang sangat saya suka, bertemu orang lain dan membagi pengalaman masing-masing. Waktu pun berjalan cukup cepat dan tidak terasa lima jam telah berlalu.

Jogja, selamat datang itulah tulisan penyambutan untuk saya dari kota Jogja, cukup mengharukan yaah 🙂 walaupun tulisan itu memang bertujuan untuk menyambut para pelancong yang datang ke Jogja.

Kali ini ada teman saya yang sudah sangat lama tidak bertemu, dia berkuliah di UGM, Jogja yaitu Salsa dia akan menemani saya berkeliling Jogja.

Hari ke empat, sebenarnya ini adalah perjalanan saya yang terakhir. Hari ini Salsa membawa saya ke pasar Beringharjo untuk belanja oleh–oleh.

Sekitar 2 jam saya memburu oleh–oleh. Setelah itu saya berkunjung ke tebing Breksi dan Candi Ijo.

Tersesat adalah hal utama dari perjalanan tapi hal itu membawa kita jadi “tahu jalan”.

Pemandangan yang masih didominasi oleh sawah, hutan dan jalanan yang naik turun tidak menghalangi saya dan Salsa untuk menuju tempat tujuan.

Tebing Breksi adalah tebing dengan material kapur, tinggi menjulang namun sangat indah, masuk ke sana tidak bayar hanya saja ada semacam pungutan liar sekitar lima ribu rupiah.

Tebing Breksi

Berfoto–foto melihat pemandangan dari ketinggian adalah hal yang indah dan menantang.

Letak Tebing Breksi berdekatan dengan Candi Ijo.

Lokasi Tebing Breksi ini tepatnya berada di Dusun Groyokan Desa Sambirejo Kecamatan Prambanan Kabupaten Sleman. Rute menuju Tebing Breksi juga mudah dijangkau karena terletak di jalur utama, Prambanan Piyungan sekitar 1 km sebelum sampai ke Candi Ijo.

Rute menuju Tebing Breksi yang paling mudah ditempuh adalah dari Candi Prambanan. Jadi kalau datang dari Jogja, langsung menuju arah Candi Prambanan, kemudian di pertigaan pasar Prambanan ambil kanan arah ke Piyungan. Dari situ sekitar 3 km menuju Tebing breksi. Cari petunjuk arah ke Candi Ijo kemudian ambil kiri (pertigaan ini sebelum SDN Sambirejo). Dari pertigaan ini masih harus menempuh perjalanan sekitar 1 km. Jalan menuju Tebing Breksi ini cukup menanjak dan kondisinya juga tak terlalu mulus.

Setelah selesai sesi foto di Tebing Breksi yang seksi, perjalanan pun dilanjutkan menuju Candi Ijo.

Saat masuk ke Komplesk Candi Ijo ada pendataan nama dan jumlah orang yang berkunjung.

Menariknya Candi Ijo  yang dibangun sekitar abad ke-9 masehi, di sebuah bukit yang dikenal dengan Bukit Hijau atau Gumuk Ijo yang ketinggiannya sekitar 400 m di atas permukaan laut.

Candi Ijo

Terletak di ketinggian sekitar 400 meter di atas permukaan laut (Mdpl), Candi Ijo merupakan candi yang letaknya paling tinggi di Yogyakarta.

Karena ketinggiannya, maka bukan saja bangunan candi yang bisa dinikmati tetapi juga pemandangan alam di bawahnya berupa teras-teras seperti di daerah pertanian dengan kemiringan yang curam. Pemandangan alam di sekitar candi sangat indah untuk dinikmati.

Kompleks candi terdiri dari 17 struktur bangunan yang terbagi dalam 11 teras berundak. Teras pertama sekaligus halaman menuju pintu masuk merupakan teras berundak yang membujur dari barat ke timur. Bangunan pada teras ke-11 berupa pagar keliling, delapan buah lingga patok, empat bangunan yaitu candi utama, dan tiga candi pendamping (perwara).

Misteri Candi Ijo

Di candi ini ada sebuah misteri yang tercantum pada sebuah prasasti.

Prasasti itu terletak pada teras ke-9 yang bertulisan Guywan atau Bhuyutan yang berarti pertapaan.

Prasasti lainnya yang terbuat dari batu berukuran 14 cm dan tebal 9 cm tercantum mantra-mantra yang berbunyi : “Om sarww­awinasa, sarwwawinasa” yang bertulis berulang hingga 16 kali.

Mungkin para pemangku Agama Hindhu atau Buddha yang bisa mengartikannya.

Hingga kini masih belum terkuak peristiwa apa yang berhubungan dengan prasasti tersebut.

Saya sungguh terkesima dengan pemandangan yang ada di Candi Ijo dengan pemandangan Bandara Adisutjipto di sebelah barat. Ya, candi Ijo memang bertetangga dengan bandara Adisutjipto, dan karena Candi Ijo inilah bandara terpaksa mengalah tidak bisa dilebarkan ke arah Timur

Saya bisa melihat hamparan bukit dan keindahan sisi lain dari kota jogja. Melihat matahari terbenam adalah kesempurnaan dari liburan ini.


Masih di hari ke empat, saat ini adalah perpisahan terakhir saya dengan liburan di penghujung hari.

Sudah saatnya saya kembali ke Jakarta. Mimpi yang indah ini sudah berakhir, karena saya harus bangun dari mimpi dan melanjutkan aktivitas hidup yang sama setiap harinya.

Liburan kali ini adalah kenangan yang akan menjadi memori paling berkesan untuk saya, walaupun perjalanan saya nikmati sendiri tidak membuat saya kesepian ada banyak orang yang akan mengiringi perjalanan saya. Liburan adalah obat paling ampuh untuk stress.

Keluar rumah dan lihat betapa indah nya dunia ini.

Link video youtube:

 

Salam Wisata Santai Indonesia !  🙂

(Liputan oleh : Melly Denadya)

Tinggalkan Balasan