Puteriputeri – Jakarta, Kedutaan Besar Kolombia untuk Indonesia bekerjasama dengan CGV Blitz, menggelar event Kolombia Festival Film 2016, yang diselengggarakan mulai 2 – 4 Desember 2016. Bertempat di CGV Blitz Grand Indonesia Jl. MH Thamrin Jakarta. Demikian disampaikan Ms Claudia Loves yang didampingi Mr Jose R Salazar, dihadapan sejumlah awak media, di acara press conference Kolombia Festival Film 2016, di Jakarta, Kamis (24/11/2016).
 
Kolombia saat ini merupakan salah satu atraksi budaya utama di Amerika Latin dalam hal pembuatan proyek film, terutama di Bidang produksi, penyutradaraan dan telah menjadi Negara kedua dengan keragaman biologis paling tinggi di dunia, menjadikannya lokasi pengambilan gambar yang sempurna dalam pembuatan film
 
Berkat disetujuinya Undang-Undang Pertunjukan Publik dan Undang-Undang Perfilman Kolombia, industri sinematografi senantiasa di perkuat di Negara tersebut, dan saat ini memungkinkan pengembalian modal prosedur dalam negeri dan luar negeri hingga 40% dari investasi dalam pembiayaan film, dan 20% pembiayaan logistic, mendorong dan memperkuat pembuatan film di negeri ini.
 
Untuk alasan itu, dan dengan dukungan pada talenta-talenta Kolombia, Kedutaan Besar Kolombia di Indonesia mempersembahkan untuk pertama kalinya di Jakarta, Festival Film Kolombia 2016, dengan diputarkannya lima film dan documenter.
 37-img-20161124-06220
“Kedutaan Besar Kolombia di Indonesia, yang berkeinginan untuk mempromosikan produksi kebudayaan dari Negara kami, mengundang Anda sekalian untuk menikmati persembahan ini yang didukung dan mendapat pengakuan dari Academy Awards, Festival Film San Sebastian, Festival Film Mar del Plata, Festival Havana, Festival Lima, Platinum Awards, Fenix Awards dan Yayasan Film Amerika Latin dan masih banyak lagi,” ujar Ms Claudia Lopez.
 
Beberapa film kolombia yang masuk nominasi dalam Colombian Film Festival 2016 ini adalah Embrace of The Serpent, sebuah film karya sutradara Ciro Guerra, dengan durasi 123 menit, menceritakan tentang kisah yang menghadirkan dua kisah yang terjadi antara tahun 1909 dan 1940 ketika terjadi ‘boom’ karet di hutan Amazon Kolombia. Karamate, seorang dukun Amazon sekaligus penyintas terakhir di sukunya, kehilangan memori dan hidup sebatang kara. Kedatangan seorang warga Amerika bernama Richard Evans dan pencarian atas “yakruna” (sebuah piring keramat yang bisa mengajari orang untuk bermimpi), menjadi petualangan bagi keduanya. Selama perjalanan mengarungi jantung hutan, masa lalu, masa kini dan masa depan keduanya mengalami kebingungan saat ingatan Karamate mulai kembali pulih.
 
Colombia Wild Magic, sebuah film karya sutradara Mike Slee yang diproduksi Grupo Exito ini merupakan film documenter, dengan durasi 90 menit, merupakan sebuah perjalanan sinematografis yang ditujukan untuk menampilkan kekayaan keanekaragaman hayati Kolombia yang belum pernah dieksplorasi sebelumnya. Sekelompok pembuat film yang diundng oleh Grupo Exito mendatangi 85 lokasi dan 20 ekosistem, dengan peralatan berteknologi mutakhir, untuk mengisahkan sejara dari negeri istimewa ini melalui keanekaragaman hayati dan lokasi geografisnya.
 
Film Colombia Wild Magic ini bercerita 90 menit penyelamatan ke kedalaman Samudera Fasifik, di Pulau Malpelo, lahan-lahan terlantar dan dikelilingi oleh kekayaan alam, Amazon, los Llanos Orientales dan Kepulauan Providencia dan sebagainya, penuh dengan warna dan menghidupkan layar dengan pemandangan dan spesies dari Taman Nasional. Kepiting, Beruang Sloth, Tamarin berkepala kapas, Buaya Orinoco, Arawana, Jaguar, Kupu-kupu Morpho, Burung Kolibri, dan sebagainya yang akan mengejutkan penonton.
 
The Wind Journeys, sebuah film yang diproduksi tahun 2009, karya sutradara Ciro Guerra, dan mendapat penghargaan terpilih dalam Festival Cannes untuk berpartisipasi dalam kategori Un Certain regard. Siapapun yang pernah membaca karya Gabriel Garcia Marquez akan mengenali dalam sejarah The Wind Journeys, realisme magis dari sebuah narasi. Film ini berkisah tentang Ignacio Carrillo, seorang musisi Vallenato dari Majagual (Sucre), yang di hampir seluruh hidupnya menempuh perjalanan ke desa-desa di utara Kolombia, memainkan lagu-lagu tradisional dengan akordeon miliknya, sebuah alat musik yang disebut-sebut milik setan.
 
Seiring berjalannya waktu, ia menikah dan menetap di sebuah kota kecil, meninggalkan kehidupan namadennya. Tapi setelah kematian mendadak sang istri, ia memutuskan untuk tak lagi memainkan akordeon dan ia memulai pada sebuah perjalanan terakhir untuk mengembalikan instrument itu pada pemiliknya yang sah.
 
Dalam perjalanan, Ignacio diikuti oleh Fermin, seorang remaja penuh semangat yang memutuskan untuk menjadi muridnya. Lelah dengan kesunyian, Ignacio menerima anak muda itu menjadi muridnya dan bersama-sama mereka melintasi luasnya Kolombia Karibia, penemuan keberagaman musical dari kebudayaan Karibia.
Of Love And Other Demons, diproduksi tahun 2009, karya sutradara Hilda idalgo, merupakan film yang diangkat dari kisah nyata berdasarkan novel karya penulis dan peraih nobel sastra Gabriel Garcia Marquez, dan difilmkan dengan durasi 95 menit, di Cartagena de Indias (Kolombia). Kisah ini mengambil setting periode colonial Kolombia, masih dengan pengaruh kuat Holy Inquisition dan perbudakan di masa berkuasanya Kerajaan Spanyol. Sierva Maria, putrid Marquises, 13 tahun dan dibesarkan oleh budak Afrika, ingin tahu bagaimana rasanya sebuah ciuman. Tapi, ketika seekor anjing menggigitnya, sang uskup percaya bahwa gadis itu telah kerasukan dan diperintahkannya seorang pastor muda untuk mengusir setan yang ada padanya, tanpa mengetahui bahwa akan tergoda oleh setan yang lebih kuat dari iman dan nalar.
 
Film ini mendapat penghargaan dari Pengembangan feature films. Film Development Fund Stimulus of co-production IBERMEDIA Program Yayasan Film Amerika Latin Baru.
 
Gabo : The Creation of Gabriel Garcia Marquez. Sebuah film yang diproduksi tahun 2015 oleh Kate Horne ini merupakan film documenter berdurasi 90 menit, karya sutradara Justin Webste. Film ini mengisahkan sosok Gabriel Garcia Marquez, peraih nobel sastra tahun 1982 dan seorang pengarang sebuah masterpiece yang diakui berjudul Seratus Tahun Kesunyian. di dunia ia dikenal luas dengan sapaan “Gabo”, pernah menjadi jurnalis, koresponden di Paris, Cile, Angola dan beberapa Negara di bawah Uni Soviet. Ia turut berpartisipasi dalam perjuangan politik tahun 1970-an dan 1980-an, melalui jurnalismenya yang militant dan pertemuannya dengan para pemimpin politik seperti Fidel Castro dan kemudian Bill Clinton.
 
Ia senantiasa berganti-ganti ruang redaksi sejalan dengan kecenderungan politiknya, sala satu proyek kontroversialnya pada masa itu adalah pembuatan Majalah Alternatif yang melibatkan sejumlah pimpinan penting gerakan kiri Kolombia, pada suatu masa ketika negeri itu media umumnya bersifat resmi.
 
Lebih dari itu, Gabo juga diakui atas usahanya yang tiada henti dalam partisipasi bijaksana di semua proses perdamaian yang berlangsung selama 30 tahun di Kolombia, di bawah kondisi di mana perannya sebagai perantara, penjamin atau utusan, dilakukan secara sangat rahasia. Ini dan aspek lain dari pria yang menjadikan “realisme magis” sebuah genre sastra baru, dikisahkan oleh orang-orang yang bangga karena pernah mengenalnya. (Puteriputeri – Lrd Viga-801/Riri).

Tinggalkan Balasan