Pengalaman Wisata di  Gunung Salak, Cidahu-Jawa Barat

Gambar sisip 1
Pagi itu kami bersiap berangkat menuju Gunung Salak di daerah Cidahu, Sukabumi Jawa Barat. Semua kebutuhan yang kami perlukan dalam kegiatan ini sudah lengkap kami siapkan. Mulai dari bahan makanan, tenda dan alat-alat lainnya.
Kami semua berjumlah dua puluh lima orang. Kami  menuju ke sana dengan menggunakan kendaraaan truk yang kami sewa.
Sepanjang  jalan kami saling bersenda-gurau, ada juga yang asik bernyanyi dengan gitarnya. Kami semua pun  menikmati perjalanan itu. Setelah beberapa jam kemudian kami memasuki daerah Ciawi.
Di sinilah mulai timbul rasa bosan, kenapa? Karena kemacetan sedemikian parah.Untuk membuang rasa bosan, sebagian dari kami memilih untuk tidur, ada juga yang turun dari truk untuk sekadar mencari makan.
Memang banyak sekali kendaraan di daerah ini yang melintas, terutama kendaraan besar, seperti truk dan bus. Ternyata ruas jalan di kawasan Ciawi, Bogor-Jawa Barat  memang sempit dan tidak sebanding dengan kendaraan besar yang melintas.
Hal ini perlu diperhatikan oleh pemerintah setempat mengingat jalur Ciawi ini sangat strategis guna menuju ke berbagai tempat wisata, baik itu ke wilayah Pegunungan seperti Gunung Salak, ataupun ke tempat wisata laut di Pantai Selatan yang terletak di Sukabumi Jawa Barat.
Rasa bosan itu akhirnya  terobati dengan pemandangan Gunung Salak yang begitu indah.
Nampak dari jalan raya, nuansa kehijauan dan udara yang sejuk membuat ingin rasanya untuk cepat sampai.
Tapi ada sedikit pemandangan yang kurang sedap untuk dilihat, hal itu  adalah tumpukan sampah dari pasar yang dibiarkan begitu saja.
“Ya sudahlah, mungkin pekerja kebersihannya sedang  lelah,” batin saya. Selang beberapa menit, truk kami memasuki sebuah ruas jalan yang ternyata jalur itu menuju ke kawasan Cidahu.
Kamipun melintasi perkampungan penduduk yang lumayan padat, banyak aktivitas di sana, misalnya ada ibu-ibuyang sedang mencuci  pakaian, ada yang sedang menjemur dan menjahit kasur, dan ada juga yang sedang menjemur padi.
Tak lama kemudian sampailah kami di kaki Gunung Salak guna persiapan camping atau berkemah. Namun pintu pagar menuju ke tempat perkemahan masih tertutup dan tidak terlihat penjaga di sana.
Kemudian kami semua bergegas turun dari kendaraan. Tak lama kemudian datanglah bapak penjaga kawasan perkemahan. Katanya pada kami, “Maaf adik-adik semua kalau sudah  lama menunggu,” sapanya ramah.
“Tidak mengapa pak tenang saja, kami juga baru saja datang,” jawab kami serempak.
Selanjutnya kami diantar untuk berkeliling  di daerah tersebut guna mencari lokasi yang cocok untuk kami dapat mendirikan tenda. Tak lama kamipun menemukan tempat yang bagus dan bersih  untuk mendirikan tenda.
Menjelang malam hari, tenda-tenda kami telah berdiri. Di malam itu kehangatan suasana lengkap rasanya dengan api unggun dan iringan gitar.
Dingin sekali ternyata di sini, rasanya AC pun kalah dinginnya.Nyamuk pun tak terlihat, sepertinya tak berguna semprotan nyamuk yang kami bawa.
Saat acara api unggun, kami membuat beberapa games atau permainan  seperti tebak angka dan menari. Begitu serunya permainan itu sehingga tak terasa menjelang tengah malam. Acara api unggun pun selesai dan kami mulai beristirahat.
Persiapan Pendakian
Gambar sisip 2
Pagi-pagi kami semua sudah bangun dan mulai senam pagi, untuk  pemanasan juga persiapan pendakian menuju Kawah Ratu. Sebelum kami mendaki terlebih dahulu kami sarapan pagi dengan menu sederhana, ada nasi, tempe goreng dan sayur tak bersantan.
Sehabis sarapan mulailah kami berjalan menuju Kawah Ratu. Banyak yang kami jumpai  jenis pepohonan dan hewan-hewan di sepanjang jalur pendakian.
Memang begitu indah pemandangan di Gunung Salak ini. Terlihat rimbun pepohonan serta burung-burung yang terbang  bebas, bahkan penulis sempat melihat sepasang monyet yang melintas. Pengalaman ini  pasti akan penulis ingat sepanjang masa.
Akhirnya sampai juga kami di Kawah Ratu, rasa lelahpun tak kami rasakan lagi. Kami sempat berfoto di kawah itu dengan latar belakang asap yang membumbung tinggi.
Sejenak di tempat ini penulis teringat pada sosok mantan kekasih, andaikan saja belum putus mungkin akan penulis ajak ke lokasi yang romantis ini untuk  berfoto bersama (mengharap).
Setelah beberapa jam kami di sana, kamipun bergegas untuk kembali menuju ke lokasi perkemahan. Perjalanan turun ini sangat menantang dan cukup melelahkan. Kami diguyur hujan deras dan kabut semakin tebal. Penulis ingat kabut tebal  itu ada yang berbentuk seperti  perahu layar yang terus bergerak naik-turun.
Setelah sampai di perkemahan, maka penulis pun segera untuk mencatat semua pengalaman ini agar tak  terlupa dan bisa menuangkannya dalam catatan perjalanan wisata. Begitulah oleh-oleh penulis saat berwisata di Kawasan Gunung Salak dan Kawah Ratu, Jawa Barat.
(Liputan Oleh : Supriyanto)

Tinggalkan Balasan