Puteriputeri – Jakarta, Desainer Indonesia Fashion Forward (IFF) generasi kelima siap membuktikan kreativitas di Jakarta Fashion Week (JFW) 2017.
 
Jakarta Fashion Week telah konsisten mengembangkan kapasitas desainer Indonesia, dengan mengadakan program Indonesia Fashion Forward (IFF), yaitu program inkubasi desainer muda hasil kerja sama Jakarta Fashion Week, Badan Ekonomi Kreastif Indonesia, dan British Council, sejak tahun 2012.
 
IFF merupakan asset penting bagi industri mode Indonesia karena menampilkan bakat generasi baru, sekaligus menunjukkan kebangkitan industri kreatif local. Melalui program IFF, kemampuan para desainer yang sudah memperkuat industri mode Indonesia ditingkatkan untuk dapat menembus pasar global dan memikat buyer Internasional.
 6-img-20161022-04638
“Bekembangnya potensi inovasi, kapasitas bisnis, serta keberanian para desainer mengedepankan label mereka sehingga mampu bersaing di pasar internasional, harus diakui merupakan buah binaan yang terasa manis bagi dunia fashion Indonesia,” kata
Triawan Munaf, Ketua Badan Ekonomi Kreatif Indonesia.
 
“Dan industri mode sebagai bagian dari ekonomi kreatif, memegang peranan yang semakin penting dalam perkembangan ekonomi Indonesia. Industri ini telah menjadi pencipta nilai tambah, pencipta lapangan pekerjaan, juga sebagai penyumbang devisa.” Lanjut Triawan Munaf.
 
Hingga saat ini, tak kurang dari 40 label dan desainer yang telah terpilih masuk program IFF setelah melalui proses seleksi dan kurasi yang ketat. Label-label dan para desainer yang tergabung dalam IFF antara lain adalah Major Minor, Tex Saverio, Yosafat Dwi Kurniawan, Dian Pelangi, Albert Yanuar, Patrick Owen, Toton, Peggy Hartanto, Jii by Gloria Agatha, Billy Tjong, Norma Hauri, I.K.Y.K, dan Jenahara. Kesuksesan dan pesatnya perkembangan bisnis para desainer lulusan IFF membuat para mitra dari dalam negeri dan luar negeri semakin antusias melakukan kolaborasi.
 
Pada tahun 2016 ini, label yang terpilih masuk program IFF generasi kelima adalah Rani Hatta (kategori modest wear), Paulina Katarina (kategori premium wear), Bateeq (kategori premium wear), Day and Night (kategori quirkly wear), dan Byo (kategori accessory). Hasil karya para desainer IFF generasi kelima siap ditampilkan dalam beberapa show yang berlangsung di Fashion Tent, Jakarta Fashion Week 2017, Senayan City, yang diselenggarakan 22 – 28 Oktober 2016.
 29-img-20161022-04665
Rani Hatta merupakan lulusan Lembaga Pengajaran Tata Busana Susan Budihardjo (LPTBSB) tahun 2012 sebagai salah satu siswa terbaik. Ia mendirikan label modest wear Rani Hatta pada tahun 2013, dan sejak saat itu menghadirkan pakaian ready-to-wear dengan desainer minimalis dan modern. Pada bulan Maret 2016 lalu, Rani Hatta mewakili Indonesia di ajang fashion kelas dunia, yaitu Bangkok International Fashion Fair & Bangkok International Leather Fair 2016 (BIIF & BIL 2016) di Thailand.
 
Paulina Katarina merupakan label busana wanita asal Bali yang diluncurkan pada tahun 2012. Duo desainer kakak beradik Surya Paulina Kuhn dan Ratna Katarina Kuhn menghadirkan busana dengan desain feminism dan potongan kasual yang pas untuk acara semi formal ataupun santai. Koleksi busana Paulina Katarina bisa didapatkan di berbagai toko di Bali, Jakarta, Singapura, dan Australia. Paulina Katarina merupakan finalis CLEO Fashion Awards 2015 untuk kategori Most Innovative Local Brand.
 
Sementara itu, sejak diluncurkan pada tahun 2013, Bateeq berinovasi dengan kain batik dan memberikan perhatian khusus pada permainan warna dan motif, Bateeq juga memadukan warisan budaya Indonesia yang kaya dengan gaya modern serta tren mode saat ini.
 36-img09269-20161022-1714
Day and Night merupakan label fashion local yang didirikan oleh Yelly Lumentu pada tahun 2012. Label busana wanita ini berfokus kepada desain yang sederhana dan wearable, namun diberi tambahan detail yang unik, contohnya penggunaan teknik puzzle. Pada tahun 2015 lalu, Day and Night terpilih menjadi pemenang CLEO Fashion Awards 2015 untuk kategori Most Innovative Local Brand.
 

Byo merupakan label aksesori yang berfokus kepada estetika, Tommy Ambiyo Tedji sebagai desainer Byo mengeksplorasi bahan, bentuk, dan konsep dalam menciptakan tas dan clutch dengan sentuhan futuristis. Pada tahun 2015, Byo memenangkan penghargaan CLEO Fashion Awards 2015 untuk kategori Most promising Accessories Brand.(Puteriputeri – Lrd Viga-801/Riri).20-img-20161022-04656

Tinggalkan Balasan