Hai para sahabat pembaca puteriputeri.com, berikut ini adalah kisah keuletan tak kenal menyerah, juga jatuh-bangunnya Usaha Kecil Menengah (UKM).


Hidup itu memang tak seindah di sinetron-sinetron.
Karena hidup itu seperti roda yang berputar, kadang kita ada di atas, terkadang kita juga ada di bawah.
Meskipun begitu hidup ini terus berjalan, jadi apapun itu kita jalani dengan penuh semangat dan ketekunan untuk meraih impian yang didambakan seperti halnya air yang mengalir deras.

Seperti halnya yang dialami oleh Miftahol Arifin (42) yang terus berjuang untuk tetap bisa membiayai sekolah anak-anaknya dan juga hidup keluarganya.

Untuk membiayai semua itu, sudah banyak jenis usaha yang telah dijalani oleh Miftahol Arifin dan harus ditempuhnya dengan perjuangan yang sangat gigih.

Mulai dari usahanya di bidang fashion seperti usaha sepatunya yang gagal karena biaya produksi yang lebih besar daripada pendapatan.

Kemudian beliau mulai merintis usaha di bidang kuliner seperti usaha kuliner baksonya yang masih gagal juga.

Kemudian beliau merintis usahanya di bidang komunikasi dengan membuka wartel.

Selama beberapa tahun usahanya ini berjalan sangat dengan baik dan mendatangkan cukup banyak keuntungan finansial bagi keluarganya bersama dengan usaha warungnya.

Namun karena perkembangan teknologi komunikasi begitu pesat yang ditunjukkan dengan kehadirannya handphone yang perkembangannya juga tak dapat dibendung. Hal ini membuat usaha wartelnya mengalami penurunan pendapatan dan akhirnya usaha wartelnya harus ditutup.

Meskipun begitu Pak Arifin tidak habis akal untuk tetap mencari ide kreatif untuk dapat melanjutkan usahanya di bidang komunikasi, “Karena tidak akan bisa kalau hanya mengandalkan pendapatan dari warung,” tuturnya.

Kemudian dengan ide kreatifnya beliau melihat peluang untuk membuka usaha konter pulsa handphone.
Usahanya kali ini bisa dibilang berhasil, terbukti dengan sekarang sudah ada tiga konter pulsa yang tersebar di sekitar daerah Kebagusan, Pasar Mingga, Jakarta Selatan.

Dengan usahanya ini beliau sudah dapat memiliki kebun di Bogor yang ditanami pohon singkong.

jatuh-bangun-3

Namun ide kreatif Pak Arifin tidak berhenti di sini saja. Saat Pak Arifin melihat tanaman singkong yang dihasilkan dari kebunya begitu melimpah, beliaupun mendapatkan ide untuk membudidayakan singkong agar memiliki nilai jual yang lebih tinggi.

Kemudian akhirnya Pak Arifin pun mencoba peruntungannya kembali di bidang kuliner yakni dengan usaha keripik singkongnya.

Dalam memulai usaha keripik singkongnya ini tentu tidak mudah.

jatuh-bangun-2

Banyak kegagalan yang menghadangnya untuk dapat menghasilkan keripik singkong yang gurih, renyah dan memiliki cita rasa. Saat awal pembuatannya dengan menggunakan 30 kilogram singkong dan ternyata keripik singkong yang dihasilkan memiliki tekstur yang keras dan “Akhirnya harus dibuang daripada mengecewakan konsumen,” kata Pak Arifin yang meskipun skala usahanya adalah kecil dan menengah namun sangat peduli pada para konsumen.

Untuk mendapatkan hasil keripik singkong yang gurih, renyah dan memiliki cita rasa, beliau mencari resep dari internet dan juga bertanya kepada orang lain. Meskipun kegagalan masih dialami dalam percobaannya, namun dengan kegigihanya dipercobaannya yang ke-empat beliau mendapatkan resep keripik singkong yang memiliki cita rasa yang enak, gurih dan renyah.

jatuh-bangun-4

Untuk pemasaranya bermula dari warung sendiri yang berada di kawasan Kebagusan Jakarta, kemudian ternyata banyak juga konsumen menyukai keripik singkongnya dan sekarang tidak sedikit warung-warung milik orang lain yang ingin menjual keripik Pak Arifin dan mereka pun meminta Pak Arifin untuk menitipkan keripik singkongnya di warung mereka.

jatuh-bangun-5

Selain itu Pak Arifin juga menerima pesanan apabila ada orang yang ingin memesan banyak untuk acara-acara besar.
Untuk tetap bisa eksis di kalangan konsumennya. Pak Arifin melakukan berbagai inovasi, mulai dari menawarkan banyak rasa dan juga bentuk dari keripik singkong itu sendiri.

Selain itu kini Pak Arifin juga menawarkan varian keripik yang berbeda yakni keripik pisang dan juga keripik talas. Hal ini dilakukan agar pelanggan keripik Pak Arifin tidak bosan dengan keripik singkong yang itu itu saja.
Dengan usaha kreatif dan inovasi-inovasi yang ditawarkan oleh Pak Arifin dapat menghasilkan pendapatan yang terus berkelanjutan.

Meskipun ini masih terhitung usaha rumahan namun hingga kini beliau sudah mempunyai beberapa rumah kontrakan di Jakarta dan juga di daerah Bogor dari usaha keripiknya itu.
(Oleh : Abdul Rozak)

Tinggalkan Balasan