Lights Out : “Nyalakan Lampunya!”

Pada tahun 2013 David F. Sandberg membuat sebuah film horor pendek yang diupload ke Youtube dan di beri judul Lights Out. Durasi filmnya nggak lebih dari 3 menit atau lebih tepatnya 2 menit 41 detik.

Walaupun hanya sebuah film horor pendek namun film tersebut mendapat banyak pujian dan dibahas oleh para penggemar film di Eropa dan Amerika. Film pendek ini, para pemirsa puteriputeri.com dapat melihatnya di bawah ini :

(durasi awal film pendek lights out)

Melihat potensi besar yang dimiliki oleh Lights Out salah satu produser film horor yang sudah sangat terkenal yaitu James Wan memutuskan untuk mengangkat film pendek tersebut ke layar lebar dan menunjuk David F. Sandberg sebagai sutradaranya.

Dengan durasi yang lebih panjang, Sandberg telah menyiapkan lebih dari sekedar hal mengagetkan dengan hantu yang muncul di dalam. Lights Out telah dikembangkan dengan cerita yang lebih kompleks, punya latar belakang yang bikin penasaran serta konflik dan ending yang tak terduga.

Seperti yang telah disaksikan pada trailer sebelumnya, adegan film dibuka dengan seorang wanita yang melihat sesosok bayangan saat ia mematikan lampu di dalam gudang. Berulang kali ia menyalakan dan mematikan lampu karena penasaran dengan sosok misterius tersebut.

Entah mengapa adegan pembuka ini menjadi tidak begitu meyakinkan dan menurunkan ekspektasi. Karena adegan ini sama persis seperti yang telah disajikan Sanberg di film pendeknya. Sosok hantu dirasa juga terlalu cepat muncul, dengan wujud yang cukup jelas sehingga mengurangi rasa penasaran penonton.

Apalagi hantu ini langsung menampilkan keganasannya dengan membunuh orang dan yang dibunuh adalah ayah dari Marthin (Gabriel Bateman).

Tapi cerita kemudian dikembangkan kembali dengan adegan baru. Seorang anak kecil bernama Martin (Gabriel Bate) memiliki masalah dengan ibunya (Maria Bello), yang dianggap punya masalah kejiwaan.

Hampir tiap malam Martin nggak bisa tidur tenang, karena Ibunya punya teman gaib yang di film ini kita ketahui namanya adalah Diana (Alicia Vela-Bailey). Lama kelamaan Martin merasa terganggu dengan kemunculan Diana yang selalu meneror jam tidurnya. Untungnya Martin masih punya kakak tiri bernama Rebecca (Teresa Palmer).

Diceritakan di film ini bahwa Rebecca minggat dari rumah karena berselisih dengan sang ibu. Dan alasannya pun sama dengan masalah yang dihadapi Martin. Ada sosok yang selalu berbincang dengan sang ibu.

Dua bersaudara ini akhirnya berusaha bersama unutk mebongkar keanehan yang dialami Sophie dan menguak siapa itu sebenarnya Diana dengan dibantu oleh pacar Rebecca, yaitu Bret (Alexander DiPersia).

Ternyata, diketahuilah bahwa Sophie muda pernah masuk Rumah Sakit Jiwa. Disitulah Sophie kenal dengan Diana yang diketahui mempunyai penyakit kelainan pada kulitnya dan nggak bisa terkena cahaya.

Diana mati di Rumah Sakit Jiwa Mulberry Hill, kematiannya ternyata membuat arwahnya mengikuti Sophie.

Diana sangat terobsesi dengan Sophie, saya nggak tau sebenarnya Diana ini semacam arwah penasaran lesbian atau gimana, tapi yang pasti Diana selalu cemburu saat Sophie berada di dekat anak-anaknya.

Saking terobsesinya dengan Sophie, bahkan Diana pun meneror Rebecca, Martin dan Brett yang berusaha untuk menolong Sophie terbebas dari pengaruh Diana. Dan disitulah klimaks serta ketegangan film ini terjadi.

Kisahnya sebenarnya simple dan begitu tipikal dengan horror kebanyakan. Tapi baik script writer dan sutradara tetap mampu membuatnya menjadi sulit ditebak. Terlebih karena adegan horrornya benar-benar membuat penonton enggan banyak berpikir. Yang ada malah menghitung-hitung untuk bersiap kapan si wujud menyeramkan itu muncul.

Dengan dua tokoh utama Martin dan Rebecca yang tampak serius dan sangat mendalami ekspresi ketakutan, Bret justru sebaliknya, jadi favorit penonton karena gayanya yang lebih santai, kadang kali juga konyol.

Dialog antar pemain terdengar simple dan pendek-pendek. Beragam hal lebih banyak dijelaskan secara deskriptif dan naratif, termasuk dari mana hantu itu berasal. Aksi kejar mengejar di lorong-lorong rumah yang gelap tanpa cahaya membuat para penonton terus menghela nafas panjang.

Gabriel Bateman bermain dengan baik sebagai anak kecil yang ketakutan. Anak kecil yang menanggung beban ketakutan dan ketidaknyamanan atas kondisi rumahnya, semua diperankan dengan baik oleh Gabriel Bateman.

Selebihnya para pemeran di film ini cukup pas menjalankan peran mereka. Alicia Vela-Bailey tidak menemukan kesulitan menjadi Diana, tugasnya hanya menghindari lampu.

Terlepas dari nama besar James Wan sebagai produser, untungnya film ini bisa menjadi film yang menyenangkan. David F. Sandberg tahu bagaimana menerjemahkan Lights Out dengan durasi yang lebih panjang dari film pendek buatannya. David F. Sandberg tahu bagaimana menakuti penonton dengan bermain-main dengan lampu yang mati-hidup.

Walau pun masih tercium tipikal horor buatan James Wan, seperti lokasi ruangan bawah tanah sebagai letak kengerian, tapi setidaknya David F. Sandberg mampu menerjemahkan horor buatannya sendiri. Ada adegan menarik saat setan yang takut cahaya harus berhadapan dengan lampu  dari alarm mobil.

Satu lagi, ending dari film ini cukup memuaskan. Semua pertanyaan dari awal semuanya  terjawab, serta memberikan konklusi yang jelas. Dan yang terakhir bahwa film ini adalah film horor yang menyenangkan.

Silahkan tonton trailernya dibawah ini  :

 

(Resensi Film oleh :Theofilus Massie)

Tinggalkan Balasan