Paling tidak inilah kata-kata dari seorang wanita yang sehari-hari bekerja menjadi wanita penghibur malam. Cinta adalah kemewahan.

“Sangat bersyukur bagi para cewek yang bisa merasakan cinta, bagi kami, cinta ada, tapi cinta uang lebih penting, karena untuk bertahan hidup di kota besar, kita tak pernah mengenal romansa cinta (yang wajar dan normal-red), ” ungkap Titin-bukan nama sebenarnya-(21) seorang wanita penghibur malam.

Tempat hiburan di kota megapolitan semacam Jakarta memang tidak ada hentinya, dengan memberikan bentuk sajian hiburan yang selalu dikunjungi banyak orang dari berbagai daerah bahkan ada juga dari berbagai negara lain yang selalu menikmati hiburan malam di Jakarta.

Memang ibukota Jakarta sudah menawarkan hiburannya bagi orang-orang yang ingin melampiaskan dari berbagai masalah dari segala kehidupan yang selalu tersita dalam mengatasi pekerjaan membuat serba sibuk.
Dunia hiburan malam yang begitu gemerlap di Jakarta, bahkan denyut nadinya nonstop selama 24 jam membuat banyak peluang bagi sejumlah orang untuk mencari nafkah.

Tidak heran bila hampir semua tempat hiburan malam di Jakarta sudah mirip ‘supermarket syahwati’.
Bahkan ada sejumlah tempat hiburan malam yang sangat fenomenal yang berbentuk ‘hotel multi entertainment’ atau ‘hotel multi amusement’, sehingga lebih mirip disebut ‘hyper-market syahwati’, karena semua jenis hiburan lampiasan nafsu syahwat tersedia lengkap di satu tempat, dari lantai 1 sampai lantai puncak atasnya.

Kalau dibilang, dunia hiburan malam di Metropolis ini juga berfungsi sebagai ‘social saftey net’, atau ‘jaring pengaman sosial-ekonomi’.

Namun, harap diingat, resiko kesehatan masyarakat secara mental dan jasmani menjadi taruhannya.

Alasan yang selama ini ada adalah : setidaknya ekonomi informal ikutan berputar kencang bagi komunitas sosial masyarakat di sekeliling tempat hiburan malam metropolis.

Dengan ramainya para pelanggan hiburan malam, terutama tempat hiburan yang memang terdapat banyak pekerja seksual, kemudian maka roda ekonomi pun bergerak, mulai dari tukang parkir, penjual minuman pinggir jalan, penjual makanan kaki lima, segala sektor informal sekitar, juga para pengemis jalanan akan mendapatkan rezeki guna menghidupi keluarganya.

Meskipun mendatangi hiburan malam untuk melampiaskan hasrat itu dikatakan urusan pribadi, namun yang menjadi taruhannya adalah kesehatan mental dan kesehatan jasmani masyarakat.

Di sisi lain, memang makin lama biaya hidup memang makin ‘mencekik’ leher.

Berbagai subsidi sudah perlahan mulai menghilang, mulai dari subsidi energi bbm, subsidi listrik dan juga berbagai jenis subsidi lainnya, karena Indonesia sudah masuk masyarakat ekonomi ASEAN, sehingga tak ada tempat lagi bagi subsidi, semuanya pasar bebas, persaingan bebas. Subsidi hanya dipandang sebagai penghambat liberalisasi pasar.

Biaya pendidikan terutama pendidikan tinggi juga membumbung tinggi, dan harga susu yang tak terbeli, membuat sejumlah tempat hiburan di Jakarta menjadi satu-satunya harapan untuk memperoleh rezeki memenuhi kebutuhan anak sekolah atau kuliah, membeli susu bagi yang punya bayi, dan kebutuhan lainnya, seperti membeli beras, lauk pauk, dan membayar kontrak rumah, bagi sebagian orang yang ingin uang secara instan.

Salah satu profesi yang amat menggantungkan hidupnya pada dunia hiburan malam ini adalah lelaki dan wanita yang berprofesi sebagai pekerja seks komersial yang memang lekat dengan hiburan malam.

Mereka ini baik korban traficking atau bukan, bekerja di dunia hiburan malam dengan bekal fisik semata.

Seperti yang terjadi di sebuah nightclub di kawasan hiburan malam di berbagai sudut di Jakarta ini misalnya, puluhan perempuan muda dengan dengan dandanan menor, dan pakaian yang ketat terlihat seksi hilir-mudik di lantai empat diskotek, spa, hotel yang disulap menjadi “one stop entertainment” yang tidak pernah sepi dari para pemburu kenikmatan di hiburan malam.

Terkadang para pekerja seksual komersial baik pekerja seksual secara terang-terangan atau tidak terang-terangan, laki-laki dan wanita, mereka saling berlomba memikat tamu yang datang agar mau ditemani. Bahkan sejumlah pekerja seks ini juga banyak menawarkan diri untuk bisa diajak kencan short time.

Sebagian besar mereka baik pria dan wanita pekerja seks komersial berasal dari kota-kota di seantero pelosok negeri.

Mudahnya akses bekerja sebagai pekerja seks komersial, dengan iming-iming pendapatan uang lebih banyak dari bekerja di sektor formal misalnya buruh pabrik, membuat banyak pria dan wanita muda yang terperangkap menjadi pekerja seks komersial yang telah dikendalikan oleh mucikari secara terorganisir rapi.

Di antara hingar-bingarnya music techno dan remang-remangnya ruang-ruang hiburan malam, para perempuan ini harus bersaing ketat mendapatkan tamu. Cara apa saja dilakukan, agar tamu juga ikut senang ditemani.

Tempat-tempat rawan kesehatan seksual seperti panti pijat, hotel khusus ‘one stop entertainment’, spa-spa, dan beragam tempat pelepas syahwat modern, tumbuh dan berkembang dengan pesat.

Peredaran narkoba terutama jenis stimulan telah lama dikenal sebagai pelengkap hiburan syahwati. karena efek narkoba jenis meth adalah makin sensitifnya rangsang sentuhan. Maka tak heran jika para pekerja seks komersial marak menggunakan meth untuk pelengkap kerja mereka.

“Walaupun saya besoknya nggak bisa tidur dan gak bisa makan karena pengaruh pil itu, saya harus tetap neken, karena tuntutan pekerjaan,” ujar Nisa, -juga bukan nama sebenarnya-, seorang pekerja malam di tempat hiburan malam kawasan, Jakarta Barat.

Perempuan berusia 18 ini mengaku baru tiga bulan tinggal di Jakarta.

“Memang kalau pakai narkoba jenis stimulan, nggak enak basiannya (hangover), Mas. Mata melotot melulu, susah makan, badan lemes, sengsara deh. Tapi kalau tamunya nawarin, kita terpaksa harus mau,” kata Nisa yang kos di kawasan Hayam Wuruk, Jakarta Barat itu.

Perempuan asal Indramayu itu bersama dua temannya datang ke Jakarta untuk mengadu nasib, karena susah mencari pekerjaan di daerahnya.

Ketika sampai di Jakarta, dia dan dua temannya mendapat tawaran bekerja sebagai hostess hotel tempat hiburan malam, menemani tamu yang ingin pelayanan seks komersial atau kencan short time.

“Yah, daripada jadi pengangguran, atau kerja pembantu rumah tangga, tapi resiko digodain tuan rumah karena saya seksi dan cantik, maka tawaran pekerjaan (di dunia malam ini) saya terima,” ungkap Nisa.

Meski mengaku sebagai anak bandel, Nisa tetap mengirim uang Rp.1 juta tiap bulan kepada orang tuanya di Indramayu.

“Ayah dan ibu saya di Indramayu sudah tua dan tidak bekerja lagi. Jadi satu-satunya harapan untuk mendapat uang ya dari saya ini,” papar Nisa lagi.

Menurut Nisa, kedua orang tuanya, tidak tahu kalau ia bekerja sebagai hostess di hotel khusus hiburan malam, tetapi kerja di salon di Jakarta.

Setiap bulan Lisa mendapat bayaran Rp.3,5 juta dari mucikari. Namun, penghasilan paling besar tentu saja adalah dari tip yang diperoleh dari tamu yang ia temani.

Sementara uang tarif untuk melayani tamu masuk kantong mucikari.

Bagi Nisa, tiada hari libur untuk bekerja. Setiap hari ia menjalani kehidupannya sebagai wanita pekerja seks komersial.

“Di sini tamu banyak datang pada Rabu malam, Jumat malam dan Sabtu malam. Pada malam ramai itu saya bisa menemani atau kencan dengan 6-8 tamu,” katanya.

“Saya hanya lulusan SMA di daerah, paling-paling kalau jadi pramuniaga, gaji saya cuma tiga juta perbulan, ini juga tak ada tambahan lagi, mana bisa untuk hidup di Jakarta dan bantu orang tua di kampung,” tutur Nisa lagi.

Dunia hiburan malam ini banyak memberinya uang, karena itu tak heran ketika para pekerja seks ini pulang kampung akan segera menjadi ‘role model’ potret sukses kerja di Jakarta.

“Pulang kampung tiap lebaran, sudah pasti kita membagi rejeki pada sanak family, kadang kita sewa mobil untuk ajak jalan-jalan wisata keluarga di kampung” kata Nisa dengan senyumnya.

Anisya, 20, yang nama aslinya masih anonymous ini pekerja malam lainnya mengaku hanya dari dunia hiburan inilah ia bisa menyekolahkan dua adiknya yang masih duduk di bangku SMP dan SMA.

“Saya sih bercita-cita menyekolahkan adik saya sampai sarjana. Biarlah saya yang berkorban, yang penting masa depan dua adik saya bisa lebih baik,” tuturnya.

Anisya yang tinggal di tempat kos yang cukup bagus di Jakarta ini terjerat dengan kemiskinan keluarganya. Makanya kerja apapun seperti melayani lelaki hidung belang harus ia lakukan agar asap dapur keluarga bisa terus mengebul.

Profesi pekerja malam lainnya yang berjuang untuk mendapatkan nafkah di dunia hiburan malam adalah para penari erotis di sejumlah klub malam. Kini hotel yang mengkhususkan dalam hal hiburan malam makin tumbuh sebagai jenis hotel yang menawarkan ‘kelainan’ dari hotel wajar lainnya.

Dalam hote-hotel yang khusus memfokuskan bisnisnya dalam hal hiburan malam, tentu tersedia panggung tarian erotis.

Intan, penari erotis di sebuah klub malam mengaku mendapat honor sekali menari Rp.300 ribu dari pengelola klub.

“Namun setiap kali menari, ada tamu yang royal suka memberikan tip sampai Rp.500.000,- Itupun saya harus rela tubuh saya digerayangi dulu,” ucap Intan (bukan nama sebenarnya).

Menjadi penari erotis kini ibaratnya adalah sebuah tiket untuk mendapatkan penghasilan lebih besar dari sekadar karyawan lulusan sarjana yang bekerja secara sabar dan halal.

Jelas dengan uang manggung menari erotis, plus tips besar dari pengunjung, membuat seolah-olah uang cepat dan mudah didapat dalam jumlah relatif besar.

Apalagi jika sudah ditangani oleh mucikari profesional, maka sang penari erotis akan laku dilelang dalam lelang layanan seks komersial yang marak meramaikan sajian tarian erotis pada umumnya.

Bagi sebagian orang yang telah terobsesi dengan layanan seks komersial, maka ibarat terobsesi pada sajian kuliner, maka di manapun, kapanpun ada menu sajian bagus akan diburu.

Ini jelas masuk kategori penyakit masyarakat.

Jadi, tempat tarian erotis adalah salah satu tempat rawan kesehatan seksual.

Menurut Intan, ayah dan ibunya tidak tahu kalau anaknya menjadi penari erotis. Mereka hanya tahu anaknya bekerja sebagai kasir di restoran cepat saji.

Para pekerja seks komersial di kota besar baik pria dan wanita juga rawan dalam kesehatan, karena dekat dengan resiko penyalahgunaan narkotika berbahaya.

Jadi, entah sampai kapan mereka bisa bertahan dalam tekanan resiko kesehatan seksual, kesehatan fisik dan mental.

Para pekerja seks komersial baik pria maupun wanita itu memang sebagian terlahir dari keluarga yang terjerat dengan kemiskinan, dan susahnya mencari pekerjaan di kota metropolitan yang kejam bagi yang tidak mempunyai ketrampilan.

Dunia hiburan malam yang terus berdenyut di berbagai Hotel Khusus Hiburan Malam, spa, panti pijat, juga diskotek dan night club di Jakarta. Tukang ojek, sopir taksi turut kecipratan rezeki saat usai jam diskotek itu untuk mengantar para perempuan pekerja malam itu pulang ke rumah atau ke tempat kosnya.

Pekatnya penyakit masyarakat yang telah terobesesi pada glamournya seks yang dikemas menjadi seks komersial -yang juga telah marak menjadi tontonan bebas kaum segala umur di metropolis ini-, tentunya lebih gawat dari masalah sosial apapun juga.

Dalih yang kerap bergaung adalah : “toh profesi pekerja seks komersial sudah setua umur manusia itu sendiri”.

Mungkin iya sudah seumur manusia, namun penyakit memang kadang tak bisa disembuhkan, hanya bisa diterapi atau ditingkatkan kekebalan tubuh dengan memperkuat antibodi.

Dari sisi pengguna jasa seks komersial.

Beberapa lelaki yang kami tak mau menyebutnya dengan lelaki hidung belang, karena kini pengguna jasa seks komersial juga banyak dari para wanita yang berduit, ternyata mereka para lelaki dan wanita pengguna jasa seks komersial ini didorong oleh tiga faktor utama :

Faktor yang utama adalah para pengguna seks komersial ini telah terobsesi pada layanan seks komersial. Para lelaki atau perempuan yang telah terobsesi atau terlanjur menggemari layanan seks komersial, merasa bahwa sensasi kenikmatan dalam hidupnya hanyalah layanan jasa seks komersial. Para orang pengguna jasa seks komersial ini terlanjur terbiasa, dan akan selalu memburu layanan jasa seks komersial jika ada kesempatan.

Faktor kedua adalah lelaki dan perempuan pengguna jasa seks komersial telah merasakan bahwa pelayanan seks komersial dirasanya lebih sensasional ketimbang seks dalam pernikahan dengan pasangan yang sah. Faktor ini dipicu pemahaman bahwa dengan membayar jasa seks komersial, maka para pengguna jasa seks komersial ini mendapatkan layanan yang lebih sensasional ketimbang dengan pasangan dalam pernikahan.

Faktor ketiga adalah para pengguna jasa seks komersial ini secara periodik melarikan diri dari tekanan beban yang dirasakan sehari-hari, sehingga mereka memandang bahwa hiburan layanan seks komersial adalah pelarian yang sempurna guna mengatasi problemnya.

Tentu masalah moral ini sangat krusial, mengingat makin lama tayangan pornografi makin bebas dilihat oleh semua umur, dimana saja. Tayangan pornografi akan memicu meningkatnya pengguna jasa seks komersial.

Secara tak sadar tertancap dalam benak, bahwa seks adalah hal yang glamor dan layak diperjual-belikan sebagaimana jasa yang lain.

Terkadang pelaku pembeli jasa seks komersial tak mengerti bahwa hal itu adalah penyimpangan psikologi dan penyimpangan moral yang serius.

Maka wahai generasi muda bangsa ini, perkuatlah kekebalan mental religius kalian, agar tidak hanya terobsesi dengan glamornya dunia seks komersial yang kian lama akan kian menggoda, karena glamornya dunia seks komersial yang telah dipertontonkan di berbagai saluran media untuk semua umur ini.

Maka benar bahwa di semua lini kehidupan di mana saja, terkadang cinta menjadi sebuah rasa yang mewah untuk sekadar dinikmati. Uang serta obsesi pada seks di luar nikah, relatif telah mengalahkan rasa cinta yang wajar.

(imung)

Tinggalkan Balasan